alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Dalam Keluarga, Dulu Dikenal Paling Nakal, Kini Jadi Panutan

DULU, dari enam bersaudara, Bambang Sutejo Sulaksono, 30, paling sering dimarahi dan dinasihati orang tuanya. Hal itu lantaran perbutannya yang jauh menyimpang dari jalan yang benar.

Namun,  nasihat itu tak mempan. Bahkan, dirinya terus berbuat tindak kejahatan.  ’’Waktu itu, orang tua, saudara-saudara saya percuma menasihati saya. Karena tak pernah saya ikuti,’’ ungkapnya.

Tak tanggung-tanggung, berbagai tindakan kenakalan telah ia lakukan. Mulai dari tawuran, minum-minuman keras, hingga tindakan kriminal. Sehingga, dia harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Setelah beberapa tahun menjalani hukuman di penjara akhirnya dia bisa keluar. Namun, hal itu tak membuatnya jera. Namun malah sebaliknya. Dia kembali berkumpul dengan teman-temannya dan kembali melakukan hal yang sama.

Kebiasan buruk yang dimulai sejak umur 15 tahun itu dibawanya hingga ke kehidupan rumah tangga. Beruntung istrinya selalu sabar mendampinginya. Namun ia harus menanggung risiko atas apa yang telah dilakukan selama ini dengan tak dikenali sama warga setempat.

Bahkan, orang lain sudah memberikan cap kepadanya sebagai orang yang tidak baik. ’’Saya dipandang orang di sini sangat jelek. Dan saya di sini tidak punya teman. Karena saking jeleknya saya,’’ katanya.

Baca Juga :  Polisi Ajari Siswa Cara Berkendara dengan Benar

Seiring berjalannya waktu sekitar tahun 2014. Salah satu pemuda setempat penghubunginya untuk diajak ngaji di salah satu pondok di desa tempat tinggalnya itu. Ajakan itu tetap saja tak menggerakkan hatinya untuk bisa ikut ke jalan kebaikan tersebut.

Selang beberapa hari, pemuda itu kembali mengajakknya. Namun, tetap saja tak digubris. Hingga pada ajakan yang ketiga dia mulai bisa berpikir. ’’Sekitar pukul 01.00 dini hari. Saya di depan rumah merenung. Kemudian timbul pikiran. Masa saya harus terus seperti ini,’’ katanya.

Sehingga, sejak itu pria satu anak ini mulai ada kemauan untuk mengaji. Di mana pada waktu itu dia sangat minim memiliki ilmu keagamaan. Bagaimana tidak, bacaan salat aja tidak tahu. ’’Saya salat itu hanya ikut-ikutan. Mungkin hanya tahu Bismillah,’’ imbuhnya.

Beberapa hari kemudian dia mulai masuk ke sebuah organisasi di bawah naungan Nahdhatul Ulama (NU) yakni Ansor dan Banser. Kisah-kisah perjuangan para kiai pun menjadi santapannya setiap hari. Hatinya pun mulai yakin, bahwa ikut ulama itu akan menjadi orang selamat hingga ke surga.

Baca Juga :  Peringati Hari Ibu, Gelar Adu Karya lewat Kolase

Di sisi lain, sebuah keajaiban selalu menghampirinya dalam persoalan ekonomi. Artinya, dengan gaji yang jauh sedikit dibandingkan yang dulu, tapi bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan bisa lebih.

’’Mungkin inilah yang dinamakan barokah. Sebab gaji saya dulu selama satu hari Rp 500 ribu sampai 1 juta. Tapi tetap saja kurang,’’ ujarnya. Orang tua dan beberapa saudaranya pun mengetahui bahwa dirinya yang dulu paling nakal dan tidak bisa diingatkan. Kini telah berubah 90 derajat.

Bagaimana tidak, kini menjadi panutan di keluarganya. Bahkan, seringkali dia datang ke Lapas untuk menceramahi beberapa tahanan. ’’Sebelum kiai mengisi, biasanya saya memberikan motivasi dan bercerita masa kelam saya. Supaya dia juga bisa berubah,’’ pungkasnya. (hin/abi)

DULU, dari enam bersaudara, Bambang Sutejo Sulaksono, 30, paling sering dimarahi dan dinasihati orang tuanya. Hal itu lantaran perbutannya yang jauh menyimpang dari jalan yang benar.

Namun,  nasihat itu tak mempan. Bahkan, dirinya terus berbuat tindak kejahatan.  ’’Waktu itu, orang tua, saudara-saudara saya percuma menasihati saya. Karena tak pernah saya ikuti,’’ ungkapnya.

Tak tanggung-tanggung, berbagai tindakan kenakalan telah ia lakukan. Mulai dari tawuran, minum-minuman keras, hingga tindakan kriminal. Sehingga, dia harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Setelah beberapa tahun menjalani hukuman di penjara akhirnya dia bisa keluar. Namun, hal itu tak membuatnya jera. Namun malah sebaliknya. Dia kembali berkumpul dengan teman-temannya dan kembali melakukan hal yang sama.

Kebiasan buruk yang dimulai sejak umur 15 tahun itu dibawanya hingga ke kehidupan rumah tangga. Beruntung istrinya selalu sabar mendampinginya. Namun ia harus menanggung risiko atas apa yang telah dilakukan selama ini dengan tak dikenali sama warga setempat.

Bahkan, orang lain sudah memberikan cap kepadanya sebagai orang yang tidak baik. ’’Saya dipandang orang di sini sangat jelek. Dan saya di sini tidak punya teman. Karena saking jeleknya saya,’’ katanya.

Baca Juga :  Adu Moncong, Pemotor Tewas
- Advertisement -

Seiring berjalannya waktu sekitar tahun 2014. Salah satu pemuda setempat penghubunginya untuk diajak ngaji di salah satu pondok di desa tempat tinggalnya itu. Ajakan itu tetap saja tak menggerakkan hatinya untuk bisa ikut ke jalan kebaikan tersebut.

Selang beberapa hari, pemuda itu kembali mengajakknya. Namun, tetap saja tak digubris. Hingga pada ajakan yang ketiga dia mulai bisa berpikir. ’’Sekitar pukul 01.00 dini hari. Saya di depan rumah merenung. Kemudian timbul pikiran. Masa saya harus terus seperti ini,’’ katanya.

Sehingga, sejak itu pria satu anak ini mulai ada kemauan untuk mengaji. Di mana pada waktu itu dia sangat minim memiliki ilmu keagamaan. Bagaimana tidak, bacaan salat aja tidak tahu. ’’Saya salat itu hanya ikut-ikutan. Mungkin hanya tahu Bismillah,’’ imbuhnya.

Beberapa hari kemudian dia mulai masuk ke sebuah organisasi di bawah naungan Nahdhatul Ulama (NU) yakni Ansor dan Banser. Kisah-kisah perjuangan para kiai pun menjadi santapannya setiap hari. Hatinya pun mulai yakin, bahwa ikut ulama itu akan menjadi orang selamat hingga ke surga.

Baca Juga :  Wabup Targetkan Ramadan Sudah Zona Hijau

Di sisi lain, sebuah keajaiban selalu menghampirinya dalam persoalan ekonomi. Artinya, dengan gaji yang jauh sedikit dibandingkan yang dulu, tapi bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan bisa lebih.

’’Mungkin inilah yang dinamakan barokah. Sebab gaji saya dulu selama satu hari Rp 500 ribu sampai 1 juta. Tapi tetap saja kurang,’’ ujarnya. Orang tua dan beberapa saudaranya pun mengetahui bahwa dirinya yang dulu paling nakal dan tidak bisa diingatkan. Kini telah berubah 90 derajat.

Bagaimana tidak, kini menjadi panutan di keluarganya. Bahkan, seringkali dia datang ke Lapas untuk menceramahi beberapa tahanan. ’’Sebelum kiai mengisi, biasanya saya memberikan motivasi dan bercerita masa kelam saya. Supaya dia juga bisa berubah,’’ pungkasnya. (hin/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/