alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Belum Genap Sebulan, Sudah 22 Jenazah Disemayamkan

Sudah hampir setahun Sunardi mendedikasikan diri bergabung anggota tim pemakaman jenazah Covid-19. Sejak pandemi, 2021 ini menjadi awal yang berat untuk dia jalani. Sebab, belum genap sebulan, pria yang kesehariannya menarik becak ini sudah mengebumikan 22 jenazah.

 

RIZAL AMRULLOH, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

HATI Sunardi seakan sudah terpatri niat untuk membantu sesama. Sejak memutuskan bergabung dengan tim pemakaman Covid-19 pada Maret 2020 lalu, dia menganggap bahwa pemakaman menjadi tugas utamanya. Bahkan, ayah tiga anak ini mengesampingkan pekerjaannya sebagai tukang becak apabila terdapat pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Ditemui di rumahnya di Lingkungan/Kelurahan Balongsari, RT 01/RW 03, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Sunardi seakan tidak bisa jauh dari handphone (HP) miliknya. Sesekali telepon seluler dari balik saku bajunya berbunyi dengan nada dering lagu Rhoma Irama.

Seketika itu, pria berusia 51 tahun ini langsung sigap mengecek layar monitor telepon genggam berwarna doreng itu. ”Ya begini. Kapan pun saya harus tetap stand by,” terangnya mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Sunardi merupakan satu dari 15 anggota tim pemakaman Covid-19 di Kota Mojokerto. Dari jumlah tersebut, setiap hari dijadwalkan tiga orang untuk siap siaga apabila ada pasien meninggal akibat terpapar virus korona. Sebagai tim pemakaman Covid-19, Sunardi bertugas menurunkan jenazah dari ambulans, menggali kubur, mengebumikan jenazah, hingga menutup kembali ke liang lahat.

Baca Juga :  RSUD Darurat Oksigen

Pria kelahiran Malang 5 Juli 1969 ini mengaku sudah tak terhitung lagi berapa jenazah yang telah disemayamkan. Namun, yang sulit dia lupakan adalah saat menjalani tugas di 2021 ini. Betapa tidak, tingkat kematian yang tinggi membuat Sunardi dan rekan satu timnya harus berjibaku memakamkan jenazah.

Bahkan, dalam sehari dia bisa mendapatkan tugas memakamkan hingga empat jenazah berturut-turut. ”Pernah berangkat memakamkan mulai jam 08.00 pagi dan baru pulang jam 22.00 WIB. Karena yang meninggal terus beruntun,” kenang Sunardi.

Dia menyebutkan, peningkatan angka kematian itu terjadi usai libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021. ”Setalah libur panjang pasti ada peningkatan kematian,” imbuhnya. Oleh karena itu, Januari ini menjadi periode yang paling melelahkan bagi Sunardi. Sebab, angka kematian di awal tahun 2021 ini yang tertinggi sejak pandemi. Bahkan, belum genap satu bulan berjalan, sudah ada 22 jenazah yang dimakamkan Sunardi secara protokol kesehatan (prokes). ”Mulai malam tahun baru sudah ada yang dimakamkan, besoknya juga bertambah terus. Januari ini saja sudah ada 22 jenazah yang saya makamkan,” paparnya.

Maka tak heran jika makam khusus Covid-19 yang disiapkan Pemkot Mojokerto di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, semakin sesak. Beruntung, prosesi pemakaman kini tidak harus dilakukan di makam khusus, melainkan bisa dikebumikan di pemakaman umum lainnya. Sehari-hari, Sunardi mangkal sebagai tukang becak di Jalan Gajah Mada, Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Sisir Rumah Kos, Petugas Temukan Dua Mahasiswa WNA

Namun, semenjak menjadi tim pemakaman Covid-19, dia kerap meninggalkan pekerjaan. Sebab, kakek lima cucu ini lebih mengutamakan untuk menguburkan jenazah. ”Pernah saat mau jemput penumpang tapi dapat kabar kalau ada yang meninggal. Akhirnya saya balik lagi dan minta untuk mencari becak yang lain,” imbuhnya. Pemakaman secara prokes Covid-19 tentu berbeda dengan pemakaman pada umumnya.

Namun, Sunardi selalu berusaha memakamkan jenazah secara sempurna. Baik dari sisi tata cara penguburan, maupun dari aturan agama. Tak hanya itu, ada sebuah kebiasaan yang masih dijalani Sunardi hingga saat ini. Setiap kali pemakaman usai, dia memohon maaf kepada pihak keluarga. ”Saya selalu meminta maaf ke pihak keluarga setelah memakamkan. Barangkali ada kesalahan waktu saya mengubur,” bebernya.

Dari sekian makam yang digali Sunardi, sebagian besar berjalan dengan lancar. Namun, suatu saat dia pernah menghadapi kendala saat menguburkan jenazah di kompleks pemakaman Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Tanah yang digali untuk makam terdapat sumber air. Akibatnya, saat jenazah tiba, liang lahat dipenuhi dengan air. Dia dan rekan tim pemakaman cukup kesulitan untuk menguras air.

Sebab, di sekitar makam umum tersebut tidak ada pompa penyedot air. Bahkan, ember pun tidak tersedia. ”Akhirnya kita kuras sama-sama pakai helm, yang penting jenazah bisa segera kita kuburkan,” tandasnya. 

Sudah hampir setahun Sunardi mendedikasikan diri bergabung anggota tim pemakaman jenazah Covid-19. Sejak pandemi, 2021 ini menjadi awal yang berat untuk dia jalani. Sebab, belum genap sebulan, pria yang kesehariannya menarik becak ini sudah mengebumikan 22 jenazah.

 

RIZAL AMRULLOH, Magersari, Jawa Pos Radar Mojokerto

 

HATI Sunardi seakan sudah terpatri niat untuk membantu sesama. Sejak memutuskan bergabung dengan tim pemakaman Covid-19 pada Maret 2020 lalu, dia menganggap bahwa pemakaman menjadi tugas utamanya. Bahkan, ayah tiga anak ini mengesampingkan pekerjaannya sebagai tukang becak apabila terdapat pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Ditemui di rumahnya di Lingkungan/Kelurahan Balongsari, RT 01/RW 03, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Sunardi seakan tidak bisa jauh dari handphone (HP) miliknya. Sesekali telepon seluler dari balik saku bajunya berbunyi dengan nada dering lagu Rhoma Irama.

- Advertisement -

Seketika itu, pria berusia 51 tahun ini langsung sigap mengecek layar monitor telepon genggam berwarna doreng itu. ”Ya begini. Kapan pun saya harus tetap stand by,” terangnya mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Sunardi merupakan satu dari 15 anggota tim pemakaman Covid-19 di Kota Mojokerto. Dari jumlah tersebut, setiap hari dijadwalkan tiga orang untuk siap siaga apabila ada pasien meninggal akibat terpapar virus korona. Sebagai tim pemakaman Covid-19, Sunardi bertugas menurunkan jenazah dari ambulans, menggali kubur, mengebumikan jenazah, hingga menutup kembali ke liang lahat.

Baca Juga :  Sisir Rumah Kos, Petugas Temukan Dua Mahasiswa WNA

Pria kelahiran Malang 5 Juli 1969 ini mengaku sudah tak terhitung lagi berapa jenazah yang telah disemayamkan. Namun, yang sulit dia lupakan adalah saat menjalani tugas di 2021 ini. Betapa tidak, tingkat kematian yang tinggi membuat Sunardi dan rekan satu timnya harus berjibaku memakamkan jenazah.

Bahkan, dalam sehari dia bisa mendapatkan tugas memakamkan hingga empat jenazah berturut-turut. ”Pernah berangkat memakamkan mulai jam 08.00 pagi dan baru pulang jam 22.00 WIB. Karena yang meninggal terus beruntun,” kenang Sunardi.

Dia menyebutkan, peningkatan angka kematian itu terjadi usai libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021. ”Setalah libur panjang pasti ada peningkatan kematian,” imbuhnya. Oleh karena itu, Januari ini menjadi periode yang paling melelahkan bagi Sunardi. Sebab, angka kematian di awal tahun 2021 ini yang tertinggi sejak pandemi. Bahkan, belum genap satu bulan berjalan, sudah ada 22 jenazah yang dimakamkan Sunardi secara protokol kesehatan (prokes). ”Mulai malam tahun baru sudah ada yang dimakamkan, besoknya juga bertambah terus. Januari ini saja sudah ada 22 jenazah yang saya makamkan,” paparnya.

Maka tak heran jika makam khusus Covid-19 yang disiapkan Pemkot Mojokerto di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, semakin sesak. Beruntung, prosesi pemakaman kini tidak harus dilakukan di makam khusus, melainkan bisa dikebumikan di pemakaman umum lainnya. Sehari-hari, Sunardi mangkal sebagai tukang becak di Jalan Gajah Mada, Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Yaris Putih Milik Luluk Diana Ditemukan di Pasar Sapi Krian

Namun, semenjak menjadi tim pemakaman Covid-19, dia kerap meninggalkan pekerjaan. Sebab, kakek lima cucu ini lebih mengutamakan untuk menguburkan jenazah. ”Pernah saat mau jemput penumpang tapi dapat kabar kalau ada yang meninggal. Akhirnya saya balik lagi dan minta untuk mencari becak yang lain,” imbuhnya. Pemakaman secara prokes Covid-19 tentu berbeda dengan pemakaman pada umumnya.

Namun, Sunardi selalu berusaha memakamkan jenazah secara sempurna. Baik dari sisi tata cara penguburan, maupun dari aturan agama. Tak hanya itu, ada sebuah kebiasaan yang masih dijalani Sunardi hingga saat ini. Setiap kali pemakaman usai, dia memohon maaf kepada pihak keluarga. ”Saya selalu meminta maaf ke pihak keluarga setelah memakamkan. Barangkali ada kesalahan waktu saya mengubur,” bebernya.

Dari sekian makam yang digali Sunardi, sebagian besar berjalan dengan lancar. Namun, suatu saat dia pernah menghadapi kendala saat menguburkan jenazah di kompleks pemakaman Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Tanah yang digali untuk makam terdapat sumber air. Akibatnya, saat jenazah tiba, liang lahat dipenuhi dengan air. Dia dan rekan tim pemakaman cukup kesulitan untuk menguras air.

Sebab, di sekitar makam umum tersebut tidak ada pompa penyedot air. Bahkan, ember pun tidak tersedia. ”Akhirnya kita kuras sama-sama pakai helm, yang penting jenazah bisa segera kita kuburkan,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Truk Boks Tabrak Pohon

Tradisi Barakan di Peringatan Maulid Nabi

Peserta Tes CPNS Bawa Jimat

Artikel Terbaru


/