alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Saturday, May 21, 2022

Ngaku PNS Pemprov Jatim, Makelar CPNS Tarik Mahar hingga Ratusan Juta

MOJOKERTO – Kasus dugaan penipuan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hoax di Mojokerto bak gunung es.

Modus kejahatan dengan iming-iming dapat diangkat sebagai pegawai negeri tanpa tes ini ini pun satu per satu mulai bermunculan. Terbaru, kali ini pelakunya mengaku sebagai PNS Dinas Perhubungan (Dishub) Pemprov Jatim.

Korbannya adalah Komariah, warga Jalan Rajasanegara, Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Sedikitnya uang miliknya Rp 64,5 juta raib dibawa kabur pelaku PY, warga asal Macan Mati, Desa Kebon Agung, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Korban sudah melaporkan pelakunya ke Mapolres Mojokerto.

’’Sekarang kasusnya masih dalam penyelidikan satreskrim,’’ ungkap Kasubbaghumas Polres Mojokerto, AKP Zainal Abidin. Menurut Zainal, sejak kasus ini dilaporkan, penyidik sudah melakukan mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi.

Termasuk dengan menggali keterangan korban dan saksi-saksi. ’’Sebagai modal awal, penyidik telah menyita tiga lembar kuitansi bukti pembayaran,’’ tegasnya.

Kendati begitu, status kasus tindak pidana penipuan bermodus makelar CPNS tanpa tes atau melalui jalan pintas ini belum naik ke tahap penyidikan. Polisi masih mendalami kasusnya dengan memanggil terlapor.

Baca Juga :  Berbagi Kasih dan Ciptakan Kerukunan Antarumat Beragama

Zainal menambahkan, dugaan penipuan ini terjadi pada Senin (11/6) lalu. Saat itu, antara korban dan terlapor yang sebelumnya sudah saling mengenal bertemu di rumah korban di Jalan Rajasanegara, Desa Kenanten, Kecamatan Puri.

PY lalu menawarkan kepada korban dapat membantu memasukkan anak korban sebagai PNS menggantikan posisinya tanpa melalui jalur tes. ’’Kebetulan, pelaku mengaku mau pensiun tahun ini,’’ tandasnya.

Tidak berbeda dengan pelaku-pelaku penipuan CPNS sebelumnya. Untuk dapat diterima dengan mudah, korban lebih dulu diminta membayar uang mahar sebagai biaya pelicin. ’’Nominal (mahar) yang disepakati Rp 64,5 juta,’’ tegasnya.

Tawaran itu seketika membuat korban tertarik. Dari situ, keduanya sepakat dan membayarnya melalui tiga tahap. Sebagai tanda komitmen, pertama, korban membayar uang muka Rp 22 juta.

Selang tiga minggu kemudian atau bulan Juli lalu, korban kembali membayar Rp 10 juta. Pembayaran tersebut dilengkapi kuitansi sebagai tanda terima. ’’Terakhir, korban melunasi kekurangan Rp 23,5 juta pada 26 September,’’ ujarnya.

Setelah mahar yang diminta terlapor dibayar lunas, untuk meyakinkan korban, YP alih-alih menjanjikan anak korban akan diterima menggantikan posisinya sebagai PNS Dishub Pemprov Jatim pada Oktober kemarin.

Baca Juga :  Mudik Prematur Diprediksi Naik 50 Persen

Namun seiring berjalannya waktu, harapan tersebut hanyalah sia-sia. Sebab, hingga jatuh tempo waktu yang dijanjikan, tidak ada surat pengangkatan pegawai yang diterima korban. Bahkan beberapa kali korban menagih, PY selalu berbelit.

’’Saat diminta uangnya kembali terlapor hanya janji-janji saja,’’ paparnya. Sadar menjadi korban penipuan, korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Mojokerto. ’’Korban mengalami kerugian Rp 64,5 juta,’’ tandas Zainal.

Sebelumnya kasus serupa juga pernah dialami Yanti Armayani, 32, warga Desa Tanjang Rono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Akibatnya uang Rp 50 juta milik guru SD tersebut tak kembali.

Itu setelah dia menjadi korban penipuan diduga dilakukan AYP, 35, warga asal Jalan PB Sudirman nomor 67, Kabupaten Nganjuk. Korban lainnya juga dialami Yudha Wahyu Putra, 22, warga Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Uang tunai Rp 85 juta miliknya tak kembali setelah dibawa kabur makelar CPNS, SP, 50, warga Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro. 

 

MOJOKERTO – Kasus dugaan penipuan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hoax di Mojokerto bak gunung es.

Modus kejahatan dengan iming-iming dapat diangkat sebagai pegawai negeri tanpa tes ini ini pun satu per satu mulai bermunculan. Terbaru, kali ini pelakunya mengaku sebagai PNS Dinas Perhubungan (Dishub) Pemprov Jatim.

Korbannya adalah Komariah, warga Jalan Rajasanegara, Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Sedikitnya uang miliknya Rp 64,5 juta raib dibawa kabur pelaku PY, warga asal Macan Mati, Desa Kebon Agung, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Korban sudah melaporkan pelakunya ke Mapolres Mojokerto.

’’Sekarang kasusnya masih dalam penyelidikan satreskrim,’’ ungkap Kasubbaghumas Polres Mojokerto, AKP Zainal Abidin. Menurut Zainal, sejak kasus ini dilaporkan, penyidik sudah melakukan mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi.

Termasuk dengan menggali keterangan korban dan saksi-saksi. ’’Sebagai modal awal, penyidik telah menyita tiga lembar kuitansi bukti pembayaran,’’ tegasnya.

Kendati begitu, status kasus tindak pidana penipuan bermodus makelar CPNS tanpa tes atau melalui jalan pintas ini belum naik ke tahap penyidikan. Polisi masih mendalami kasusnya dengan memanggil terlapor.

Baca Juga :  Disperindag: Semua Pedagang Loak Prapanca Harus Pindah ke Pasar Kliwon
- Advertisement -

Zainal menambahkan, dugaan penipuan ini terjadi pada Senin (11/6) lalu. Saat itu, antara korban dan terlapor yang sebelumnya sudah saling mengenal bertemu di rumah korban di Jalan Rajasanegara, Desa Kenanten, Kecamatan Puri.

PY lalu menawarkan kepada korban dapat membantu memasukkan anak korban sebagai PNS menggantikan posisinya tanpa melalui jalur tes. ’’Kebetulan, pelaku mengaku mau pensiun tahun ini,’’ tandasnya.

Tidak berbeda dengan pelaku-pelaku penipuan CPNS sebelumnya. Untuk dapat diterima dengan mudah, korban lebih dulu diminta membayar uang mahar sebagai biaya pelicin. ’’Nominal (mahar) yang disepakati Rp 64,5 juta,’’ tegasnya.

Tawaran itu seketika membuat korban tertarik. Dari situ, keduanya sepakat dan membayarnya melalui tiga tahap. Sebagai tanda komitmen, pertama, korban membayar uang muka Rp 22 juta.

Selang tiga minggu kemudian atau bulan Juli lalu, korban kembali membayar Rp 10 juta. Pembayaran tersebut dilengkapi kuitansi sebagai tanda terima. ’’Terakhir, korban melunasi kekurangan Rp 23,5 juta pada 26 September,’’ ujarnya.

Setelah mahar yang diminta terlapor dibayar lunas, untuk meyakinkan korban, YP alih-alih menjanjikan anak korban akan diterima menggantikan posisinya sebagai PNS Dishub Pemprov Jatim pada Oktober kemarin.

Baca Juga :  Berbagi Kasih dan Ciptakan Kerukunan Antarumat Beragama

Namun seiring berjalannya waktu, harapan tersebut hanyalah sia-sia. Sebab, hingga jatuh tempo waktu yang dijanjikan, tidak ada surat pengangkatan pegawai yang diterima korban. Bahkan beberapa kali korban menagih, PY selalu berbelit.

’’Saat diminta uangnya kembali terlapor hanya janji-janji saja,’’ paparnya. Sadar menjadi korban penipuan, korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Mapolres Mojokerto. ’’Korban mengalami kerugian Rp 64,5 juta,’’ tandas Zainal.

Sebelumnya kasus serupa juga pernah dialami Yanti Armayani, 32, warga Desa Tanjang Rono, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Akibatnya uang Rp 50 juta milik guru SD tersebut tak kembali.

Itu setelah dia menjadi korban penipuan diduga dilakukan AYP, 35, warga asal Jalan PB Sudirman nomor 67, Kabupaten Nganjuk. Korban lainnya juga dialami Yudha Wahyu Putra, 22, warga Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.

Uang tunai Rp 85 juta miliknya tak kembali setelah dibawa kabur makelar CPNS, SP, 50, warga Desa Tanjangrono, Kecamatan Ngoro. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Kuliner Legendaris dengan Varian Rasa

Ribuan TPQ Belum Terakreditasi

Artikel Terbaru


/