alexametrics
22.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Per Kilo Rp 1500, Petani Tembakau Menjerit

KEMLAGI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petani tembakau di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, terpuruk. Mereka tidak bisa menjual hasil panen langsung ke gudang tembakau. Sedangkan, jika menjual ke tengkulak, harganya anjlok.

Jafar, petani tembakau di Desa Mojokumpul, mengatakan, selama ini hasil panennya dijual langsung ke gudang di Nganjuk. Namun, pada panen raya tahun ini tidak mau menerima tembakau basah. ’’Katanya tidak berani buka karena ada virus korona,’’ ungkapnya.

Gudang tersebut hanya menerima tembakau kering. Padahal, petani setempat selama ini tidak pernah menjual tembakau kering. Sehingga, tak ada pilihan lain, kecuali menjual ke tengkulak. Meskipun harganya anjlok.  ’’Harganya hanya Rp 1.500 per kilo,’’ katannya.

Baca Juga :  Proyek Amburadul, Dewan Tenggak Jamu Tolak Angin

Harga itu terlalu murah dan dipastikan tidak menguntungkan petani. ’’Jangankan untung, kembali modal saja dipastikan tidak bisa,’’ tambahnya.

Kondisi panen kali ini sangat berbeda dengan panen tahun sebelumnya. Tahun lalu, harga tembakau basah di tingkat petani terendah masih di angka Rp 3,5 ribu per kilogram. Bahkan, pernah menyentuh harga Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogram. ’’Untuk tembakau kering (tahun ini) harganya juga jeblok, Rp 18 ribu, dari harga normal Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilo,’’ ujarnya.

Sehingga, jebloknya harga tembakau kali ini akan memengaruhi penanaman berikutnya. Jafar memperkirakan, petani tembakau akan berpaling menanam kangkung. Sebab, harganya masih stabil. ’’Pokoknya rugi besar. Belum lagi biaya tanam hingga perawatan juga tinggi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Dapat BLT Rp 600 Ribu, Mbah Piyati Pilih Kembalikan kepada Desa

Parto, petani lain, juga mengaku merugi besar di panen raya tembakau saat ini. ’’Kalau tahun sebelumnya meski murah tidak sampai seperti ini,’’ ungkapnya.

Bahkan, saat ini sebagian besar petani tidak bisa menjual hasil panen tembakau basah. Setelah tidak dibukanya gudang di Nganjuk yang biasanya menjadi jujukan petani. ’’Sekarang ada yang beli tembakau basah dengan harga murah, tapi masih diutang. Pembayaran nunggu hasil penjualan kering oleh tengkulak,’’ tegasnya. 

KEMLAGI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Petani tembakau di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, terpuruk. Mereka tidak bisa menjual hasil panen langsung ke gudang tembakau. Sedangkan, jika menjual ke tengkulak, harganya anjlok.

Jafar, petani tembakau di Desa Mojokumpul, mengatakan, selama ini hasil panennya dijual langsung ke gudang di Nganjuk. Namun, pada panen raya tahun ini tidak mau menerima tembakau basah. ’’Katanya tidak berani buka karena ada virus korona,’’ ungkapnya.

Gudang tersebut hanya menerima tembakau kering. Padahal, petani setempat selama ini tidak pernah menjual tembakau kering. Sehingga, tak ada pilihan lain, kecuali menjual ke tengkulak. Meskipun harganya anjlok.  ’’Harganya hanya Rp 1.500 per kilo,’’ katannya.

Baca Juga :  Habiskan Puluhan Miliar, Bangunan Ini Mangkrak

Harga itu terlalu murah dan dipastikan tidak menguntungkan petani. ’’Jangankan untung, kembali modal saja dipastikan tidak bisa,’’ tambahnya.

Kondisi panen kali ini sangat berbeda dengan panen tahun sebelumnya. Tahun lalu, harga tembakau basah di tingkat petani terendah masih di angka Rp 3,5 ribu per kilogram. Bahkan, pernah menyentuh harga Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogram. ’’Untuk tembakau kering (tahun ini) harganya juga jeblok, Rp 18 ribu, dari harga normal Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilo,’’ ujarnya.

Sehingga, jebloknya harga tembakau kali ini akan memengaruhi penanaman berikutnya. Jafar memperkirakan, petani tembakau akan berpaling menanam kangkung. Sebab, harganya masih stabil. ’’Pokoknya rugi besar. Belum lagi biaya tanam hingga perawatan juga tinggi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Sumber Air Berkurang, Tanam Pohon di Kaki Gunung Welirang
- Advertisement -

Parto, petani lain, juga mengaku merugi besar di panen raya tembakau saat ini. ’’Kalau tahun sebelumnya meski murah tidak sampai seperti ini,’’ ungkapnya.

Bahkan, saat ini sebagian besar petani tidak bisa menjual hasil panen tembakau basah. Setelah tidak dibukanya gudang di Nganjuk yang biasanya menjadi jujukan petani. ’’Sekarang ada yang beli tembakau basah dengan harga murah, tapi masih diutang. Pembayaran nunggu hasil penjualan kering oleh tengkulak,’’ tegasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/