alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Masih Ada Cara Lebih Manusiawi Dibanding PPKM Darurat

Lampu-lampu jalanan dipadamkan. Mendadak gelap gulita. Tak ada aktivitas malam hari. Mirip kota mati. Itulah pemandangan malam hari di Mojokerto selama penerapan PPKM Darurat. Hal inilah yang menuai protes sejumlah pemuda. Mereka kesal dan menggelar aksi teatrikal ’’Harapan PPKM Usai” di jantung kota.

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

Pria itu tengah berdiri di Alun-alun Kota Mojokerto. Ia tampak asyik bermain  dengan cat airnya. Tak lama kemudian, diikuti seorang pemuda membawa gitar lalu duduk bersimpuh membelakangi penonton dan mulai menyanyi.

Kemudian disusul salah satu pemuda yang bertelanjang dada yang berperan sebagai rakyat jelata diikuti satu pemuda lainnya yang berpakaian jas digambarkan sebagai pejabat. Semenit kemudian, pemuda berjas itu mengacaukan segala kegiatan yang tengah dilakukan ketiga orang tersebut. ”Aku sak jane ora tego,” teriak pemuda berjas dan berambut gondrong tersebut sambil bercucuran air mata.

Sambil membantu pemuda bertelanjang dada berdiri, pria berjas itu mengelus pundaknya dan mengelap air mata rakyatnya. Namun, usai mengelap air mata, pejabat itu memasukkannya ke dalam sangkar ayam lalu ditutupi kain hitam. ”Gelap, gelap, gelap. Aku cinta Mojokerto-ku meskipun gelap,” seru pemuda itu dari dalam sangkar ayam tersebut dibarengi dengan tangisan.

Baca Juga :  Wali Kota Mojokerto Borong Makanan di Warteg

Aksi ini diibaratkan masyarakat terkena dampak dari pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) akibat penerapan PPKM Darurat dan PPKM Level 3 dan Level 4. Semua lampu di jalanan bahkan di teras rumah harus dimatikan saat malam hari.

Mereka adalah komunitas pelaku seni kreatif Mojokerto Project Anget. Empat pemuda itu mengkritik gelombang pandemi yang terus berjalan dan tanpa sanggup dihentikan. Sejumlah kebijakan pemerintah terus diterapkan. Tak ada satu pun kalangan yang diuntungkan di masa ini. Semuanya lelah karena terdampak berbagai pembatasan.

Teatrikal itu diakhiri dengan puisi kesedihan masyarakat terkait kebijakan PPKM yang berjalan hampir satu bulan. ”Teater ini dilakukan sesuai tema Harapan PPKM Usai. Sudah stop-lah. PPKM sudah-lah. Masih ada cara lain yang manusiawi,” ungkap Koordinator Aksi Teatrikal Bagus Septian Tri Pamungkas usai berperan sebagai rakyat jelata dalam kegiatan tersebut.

Pria 25 tahun itu menyebutkan, aksi ini sengaja dilakukan untuk menyikapi kebijakan PPKM Darurat yang sudah dilaksanakan sejak tanggal 3 Juli lalu. Namun, PPKM tersebut justru diperpanjang menjadi PPKM Level 3 dan Level 4 di pulau Jawa dan Bali. Otomatis dampak ini sangat dirasakan karena kebijakan tersebut adalah kelaparan. ”Apa yang kita lakukan hari ini adalah bentuk dari kemarin-kemarin. Ibaratnya masyarakat mengalami kesakitan dan aparat berjaga maupun pejabat juga mengalami kesakitan,” cetusnya.

Baca Juga :  Bingung Cari RS Kosong? Cukup Telpon Nomor Ini

Pemuda asal Trowulan itu menambahkan kegiatan teatrikal ini sendiri merupakan kegiatan puncak dari komunitas “Projects Anget” Mojokerto Raya yang bertepatan dengan keputusan hari terakhir pemberlakuan PPKM Level 3 dan Level 4.

Sebelumnya, mereka telah melakukan aksi sosial kepedulian dengan membagikan bantuan sosial berupa makanan untuk warga menjalani isolasi mandiri (isoman) dan aparat yang berjaga saat penerapan PPKM Darurat setiap hari sejak tanggal 16 Juli lalu. ”Kita rela dikurung demi apa? Demi pandemi cepat kelar. Akan tetapi dalam artian ternyata kebijakan-kebijakan dari pejabat sendiri kadang membuat kita kelaparan. Dari orang-orang seni ya, dalam tanda kutip kita sepi panggung, dan berkarya. Namun itu kebijakan demi kebaikan bersama,” tandasnya. (ron)

Lampu-lampu jalanan dipadamkan. Mendadak gelap gulita. Tak ada aktivitas malam hari. Mirip kota mati. Itulah pemandangan malam hari di Mojokerto selama penerapan PPKM Darurat. Hal inilah yang menuai protes sejumlah pemuda. Mereka kesal dan menggelar aksi teatrikal ’’Harapan PPKM Usai” di jantung kota.

INDAH OCEANANDA, Kota, Jawa Pos Radar Mojokerto

Pria itu tengah berdiri di Alun-alun Kota Mojokerto. Ia tampak asyik bermain  dengan cat airnya. Tak lama kemudian, diikuti seorang pemuda membawa gitar lalu duduk bersimpuh membelakangi penonton dan mulai menyanyi.

Kemudian disusul salah satu pemuda yang bertelanjang dada yang berperan sebagai rakyat jelata diikuti satu pemuda lainnya yang berpakaian jas digambarkan sebagai pejabat. Semenit kemudian, pemuda berjas itu mengacaukan segala kegiatan yang tengah dilakukan ketiga orang tersebut. ”Aku sak jane ora tego,” teriak pemuda berjas dan berambut gondrong tersebut sambil bercucuran air mata.

Sambil membantu pemuda bertelanjang dada berdiri, pria berjas itu mengelus pundaknya dan mengelap air mata rakyatnya. Namun, usai mengelap air mata, pejabat itu memasukkannya ke dalam sangkar ayam lalu ditutupi kain hitam. ”Gelap, gelap, gelap. Aku cinta Mojokerto-ku meskipun gelap,” seru pemuda itu dari dalam sangkar ayam tersebut dibarengi dengan tangisan.

Baca Juga :  Sembilan SDN di Kota Mojokerto Kekurangan Siswa, Puluhan Bangku Kosong

Aksi ini diibaratkan masyarakat terkena dampak dari pemadaman Penerangan Jalan Umum (PJU) akibat penerapan PPKM Darurat dan PPKM Level 3 dan Level 4. Semua lampu di jalanan bahkan di teras rumah harus dimatikan saat malam hari.

- Advertisement -

Mereka adalah komunitas pelaku seni kreatif Mojokerto Project Anget. Empat pemuda itu mengkritik gelombang pandemi yang terus berjalan dan tanpa sanggup dihentikan. Sejumlah kebijakan pemerintah terus diterapkan. Tak ada satu pun kalangan yang diuntungkan di masa ini. Semuanya lelah karena terdampak berbagai pembatasan.

Teatrikal itu diakhiri dengan puisi kesedihan masyarakat terkait kebijakan PPKM yang berjalan hampir satu bulan. ”Teater ini dilakukan sesuai tema Harapan PPKM Usai. Sudah stop-lah. PPKM sudah-lah. Masih ada cara lain yang manusiawi,” ungkap Koordinator Aksi Teatrikal Bagus Septian Tri Pamungkas usai berperan sebagai rakyat jelata dalam kegiatan tersebut.

Pria 25 tahun itu menyebutkan, aksi ini sengaja dilakukan untuk menyikapi kebijakan PPKM Darurat yang sudah dilaksanakan sejak tanggal 3 Juli lalu. Namun, PPKM tersebut justru diperpanjang menjadi PPKM Level 3 dan Level 4 di pulau Jawa dan Bali. Otomatis dampak ini sangat dirasakan karena kebijakan tersebut adalah kelaparan. ”Apa yang kita lakukan hari ini adalah bentuk dari kemarin-kemarin. Ibaratnya masyarakat mengalami kesakitan dan aparat berjaga maupun pejabat juga mengalami kesakitan,” cetusnya.

Baca Juga :  ANBK SD, 368 Sekolah Menumpang

Pemuda asal Trowulan itu menambahkan kegiatan teatrikal ini sendiri merupakan kegiatan puncak dari komunitas “Projects Anget” Mojokerto Raya yang bertepatan dengan keputusan hari terakhir pemberlakuan PPKM Level 3 dan Level 4.

Sebelumnya, mereka telah melakukan aksi sosial kepedulian dengan membagikan bantuan sosial berupa makanan untuk warga menjalani isolasi mandiri (isoman) dan aparat yang berjaga saat penerapan PPKM Darurat setiap hari sejak tanggal 16 Juli lalu. ”Kita rela dikurung demi apa? Demi pandemi cepat kelar. Akan tetapi dalam artian ternyata kebijakan-kebijakan dari pejabat sendiri kadang membuat kita kelaparan. Dari orang-orang seni ya, dalam tanda kutip kita sepi panggung, dan berkarya. Namun itu kebijakan demi kebaikan bersama,” tandasnya. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/