alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Sipir, Perawat, Staf, dan Napi Terpapar Covid-19

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto menjadi klaster baru persebaran Covid-19 di Kota Onde-Onde.

Setidaknya 14 orang dinyatakan terpapar virus korona. Terdiri dari perawat, sipir, staf, hingga narapidana (napi). Belasan orang ini kini tengah dalam atensi tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto untuk dilakukan tracing terhadap orang-orang yang pernah memiliki kontak erat dengan pasien.

’’Ini (lapas) menjadi klaster baru persebaran Covid-19 di Kota Mojokerto,’’ ungkap juru bicara (jubir) tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo, kemarin.

Menurut Gaguk, persebaran virus SARS-CoV-2 yang kian masif ini menuntut masyarakat memperketat penerapan protokol kesehatan. Dengan belasan orang terdiri dari pegawai dan warga binaan lapas tersebut, menjadi deretan panjang klaster baru di Kota Mojokerto.

Dari sebelumnya, ada klaster perkantoran, pasar, hingga perbankan. Hanya, kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mojokerto ini belum bisa menyimpulkan faktor penyebab persebaran Covid-19 di dalam lapas tersebut. ’’Karena statusnya juga pasien orang tanpa gejala (OTG),’’ ungkapnya.

Selain menjalani isolasi, pasien berstatus OTG ini langsung diberi prebiotik dan vitamin untuk menambah kekebalan tubuh. ’’Ke14 orang ini terdiri dari 5 napi, dan 9 orang pegawai. Meliputi, 1 orang perawat, 4 orang penjagaan, dan 4 orang staf,’’ tambah Kepala Lapas Kelas II-B Mojokerto, Wahyu Susetyo, di Lapas Kelas II-B Mojokerto, Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Ning Ita Apresiasi Produk UKM yang Sukses Tembus Pasar Ekspor

Bagi 5 napi yang terkonfirmasi positif diketahui terlibat kasus penipuan satu orang, dan empat lainnya terjerat kasus narkoba. ’’Rata-rata usai di bawah 44 tahun,’’ terangnya.

Hingga kini, belasan pasien sudah dilakukan isolasi mandiri. Perinciannya, 5 orang warga binaan diisolasi di ruang khusus dalam lapas, 5 orang memanfaatkan rumah dinas di depan lapas, 3 orang menjalani isolasi mandiri di daerah asal, dan 1 orang diisolasi di rumah susun sederhana (Rusunawa) Cinde, lantaran tercatat sebagai warga Kota Mojokerto.

Ke-14 orang yang positif ini, lanjut Wahyu, diketahui terkonfirmasi positif Covid-19 pada Sabtu (22/8). Setelah sebelumnya menjalani rapid test pada Kamis (13/8), dan selanjutnya menjalani tes swab. ’’Dari rapid masal sebanyak 40 orang, saat itu yang reaktif kita tindaklanjuti dengan tes swab. Hasilnya, 14 orang dinyatakan positif,’’ katanya.

Baca Juga :  Dua Pekerja Migran Lolos Mudik

Wahyu menduga, persebaran virus berbahaya ini berasal dari keluar masuk petugas lapas. Tak hanya itu, makanan yang dikirim oleh keluarga napi dari luar lapas juga menjadi dugaan awal  masuknya virus ini di lingkungan lapas. Menyusul, sejak pandemi ini merebak, jadwal besuk memang ditiadakan. ’’Tapi, untuk yang nitip makanan masih kita terima. Mungkin itu bisa jadi celah masuknya virus ini. Tapi, bisa jadi masuk lewat petugas kita sendiri, karena mereka yang bebas berinteraksi di luar lapas,’’ paparnya.

Saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Pemkot Mojokerto untuk melakukan tracing terhadap orang-orang yang terlibat kontak erat dengan mereka yang terpapar. Rencananya, kata Wahyu, akan ada sebanyak 45 warga binaan yang akan di-rapid test karena diketahui pernah memiliki kontak erat dengan pasien.

Persebaran Covid-19 di dalam lapas ini tergolong cukup rentan. Apalagi, Lapas Kelas II-B Mojokerto tengah dihuni sebanyak 642 warga binaan. Jumlah itu dinilai melebihi kapasitas maksimum atau overload. ’’Sebenarnya lapas sini hanya diisi 344 warga binaan. Sekarang 642 otomatis overload 100 persen,’’ tandasnya. 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-B Mojokerto menjadi klaster baru persebaran Covid-19 di Kota Onde-Onde.

Setidaknya 14 orang dinyatakan terpapar virus korona. Terdiri dari perawat, sipir, staf, hingga narapidana (napi). Belasan orang ini kini tengah dalam atensi tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto untuk dilakukan tracing terhadap orang-orang yang pernah memiliki kontak erat dengan pasien.

’’Ini (lapas) menjadi klaster baru persebaran Covid-19 di Kota Mojokerto,’’ ungkap juru bicara (jubir) tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo, kemarin.

Menurut Gaguk, persebaran virus SARS-CoV-2 yang kian masif ini menuntut masyarakat memperketat penerapan protokol kesehatan. Dengan belasan orang terdiri dari pegawai dan warga binaan lapas tersebut, menjadi deretan panjang klaster baru di Kota Mojokerto.

Dari sebelumnya, ada klaster perkantoran, pasar, hingga perbankan. Hanya, kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mojokerto ini belum bisa menyimpulkan faktor penyebab persebaran Covid-19 di dalam lapas tersebut. ’’Karena statusnya juga pasien orang tanpa gejala (OTG),’’ ungkapnya.

Selain menjalani isolasi, pasien berstatus OTG ini langsung diberi prebiotik dan vitamin untuk menambah kekebalan tubuh. ’’Ke14 orang ini terdiri dari 5 napi, dan 9 orang pegawai. Meliputi, 1 orang perawat, 4 orang penjagaan, dan 4 orang staf,’’ tambah Kepala Lapas Kelas II-B Mojokerto, Wahyu Susetyo, di Lapas Kelas II-B Mojokerto, Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Jangan Panik, Kelompok Berisiko di Rumah Saja
- Advertisement -

Bagi 5 napi yang terkonfirmasi positif diketahui terlibat kasus penipuan satu orang, dan empat lainnya terjerat kasus narkoba. ’’Rata-rata usai di bawah 44 tahun,’’ terangnya.

Hingga kini, belasan pasien sudah dilakukan isolasi mandiri. Perinciannya, 5 orang warga binaan diisolasi di ruang khusus dalam lapas, 5 orang memanfaatkan rumah dinas di depan lapas, 3 orang menjalani isolasi mandiri di daerah asal, dan 1 orang diisolasi di rumah susun sederhana (Rusunawa) Cinde, lantaran tercatat sebagai warga Kota Mojokerto.

Ke-14 orang yang positif ini, lanjut Wahyu, diketahui terkonfirmasi positif Covid-19 pada Sabtu (22/8). Setelah sebelumnya menjalani rapid test pada Kamis (13/8), dan selanjutnya menjalani tes swab. ’’Dari rapid masal sebanyak 40 orang, saat itu yang reaktif kita tindaklanjuti dengan tes swab. Hasilnya, 14 orang dinyatakan positif,’’ katanya.

Baca Juga :  RSUD Darurat Oksigen

Wahyu menduga, persebaran virus berbahaya ini berasal dari keluar masuk petugas lapas. Tak hanya itu, makanan yang dikirim oleh keluarga napi dari luar lapas juga menjadi dugaan awal  masuknya virus ini di lingkungan lapas. Menyusul, sejak pandemi ini merebak, jadwal besuk memang ditiadakan. ’’Tapi, untuk yang nitip makanan masih kita terima. Mungkin itu bisa jadi celah masuknya virus ini. Tapi, bisa jadi masuk lewat petugas kita sendiri, karena mereka yang bebas berinteraksi di luar lapas,’’ paparnya.

Saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Pemkot Mojokerto untuk melakukan tracing terhadap orang-orang yang terlibat kontak erat dengan mereka yang terpapar. Rencananya, kata Wahyu, akan ada sebanyak 45 warga binaan yang akan di-rapid test karena diketahui pernah memiliki kontak erat dengan pasien.

Persebaran Covid-19 di dalam lapas ini tergolong cukup rentan. Apalagi, Lapas Kelas II-B Mojokerto tengah dihuni sebanyak 642 warga binaan. Jumlah itu dinilai melebihi kapasitas maksimum atau overload. ’’Sebenarnya lapas sini hanya diisi 344 warga binaan. Sekarang 642 otomatis overload 100 persen,’’ tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/