alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Permukiman Abad 15 Masehi Ditemukan, Diperkirakan Masa Dinasti Ming

MOJOKERTO – Struktur batu bata kuno diduga berupa permukiman saudagar era eks Kerajaan Majapahit kembali ditemukan. Bangunan menyerupai fondasi dengan membentuk persegi panjang ini ditemukan di Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Konstruksi seluas 40 x 30 meter tersebut kali pertama diketahui warga saat menggali tanah sebagai bahan menguruk fondasi kandang bebek. ’’Pertama kali ini ditemukan adik saya tiga minggu lalu, saat menggali tanah untuk uruk kandang bebek,’’ kata Mulyanto, 62, pemilik lahan kemarin.

Dia sendiri tidak mengira tumpukan batu bata kuno tersebut berada di belakang rumahnya. Mengetahui hal itu, dia lantas melaporkan temuan ke Pemerintah Desa Pakis dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Sempat dilakukan penggalihan oleh Pokdarwis Pakis hingga akhirnya muncul beberapa struktur tumpukan bangunan batu bata kuno yang tersebar di beberapa titik.

’’Setiap bata mempunyai dimensi 31 x 21 x 6 cm,’’ terangnya. Temuan itu juga langsung dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan. ’’Temuan ini diperkirakan masa Dinasti Ming,’’ ungkap arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho. Dugaan itu tak lepas dari hasil temuan dalam observasi yang dilakukan kemarin.

Baca Juga :  Proyek Selasar Rp 1 Miliar di Makam Troloyo Gagal

Di antaranya terdapat bentangan struktur dan temuan lepas berupa tembikar dan porselen. Porselennya diidentifikasi berasal dari Dinasti Ming. ’’Diperkirakan temuan struktur ini merupakan bagian dari permukiman pada masa Majapahit di abad 15 Masehi,’’ terangnya.

Dari hasil pemetaan di lokasi, bangunan ini memiliki ukuran 30 x 40 meter yang baru nampak. Luas ini tentunya akan berlanjut seperti halnya temuan-temuan sebelumnya di lokasi lain. Sehingga untuk luas pastinya masih membutuhkan ekskavasi guna mengungkap kelanjutan dari struktur dari bata yang baru sedikit tersingkap tersebut.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, struktur dalam situs tersusu tersusun 8 lapis bata merah kuno. Satu batu bata memiliki ketebalan sekitar 60 cm. ’’Bangunan ini diperkirakan saling berhubungan. Membentuk pagar keliling yang di dalamnya ditemukan struktur lagi berbentuk mirip lantai rumah,’’ tuturnya.

Sehingga, dapat dipastikan situ tersebut merupakan bekas permukiman zaman Kerajaan Majapahit. Hal itu dikuatkan  dengan temuan fragmen genting yang banyak di area tersebut. Selain itu, bata bata kuno di situs ini disusun menggunakan tanah liat sebagai perekatnya.

Baca Juga :  Prajurit Harus Teladani Prabu Brawijaya

’’Teknik nat menggunakan tanah liat biasanya untuk membangun permukiman. Seperti di situs permukiman Majapahit yang kami temukan di Museum Trowulan, dan Sumur Upas,’’ ungkapnya. Dia menambahkan, temuan ini merupakan bekas pemukinan yang cukup besar.

’’Berarti kalau mangkuknya dari keramik, atapnya pakai genting, ini bukan masyarakat biasa. Bisa saudagar atau bangsawan. Dugaan itu didukung dari besarnya struktur juga,’’ terangnya. Selain itu, dari keterangan masyarakat setempat, tak jauh dari temuan itu juga ditemukan sumur kuno.

Namun, oleh warga kemudian ditimbun kembali. Kendati demikian, untuk bisa menyimpulkan bentuk desainnya, BPCB Jatim masih memerlukan ekskavasi lebih dalam dan luas. Termasuk, untuk mengetahui bentuk denah, fungsi, dan hubungan dari struktur itu sendiri. Rencananya, BPCB Jatim akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak desa dan pemilik lahan guna merealisasi proses ekskavasi. 

 

MOJOKERTO – Struktur batu bata kuno diduga berupa permukiman saudagar era eks Kerajaan Majapahit kembali ditemukan. Bangunan menyerupai fondasi dengan membentuk persegi panjang ini ditemukan di Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Konstruksi seluas 40 x 30 meter tersebut kali pertama diketahui warga saat menggali tanah sebagai bahan menguruk fondasi kandang bebek. ’’Pertama kali ini ditemukan adik saya tiga minggu lalu, saat menggali tanah untuk uruk kandang bebek,’’ kata Mulyanto, 62, pemilik lahan kemarin.

Dia sendiri tidak mengira tumpukan batu bata kuno tersebut berada di belakang rumahnya. Mengetahui hal itu, dia lantas melaporkan temuan ke Pemerintah Desa Pakis dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Sempat dilakukan penggalihan oleh Pokdarwis Pakis hingga akhirnya muncul beberapa struktur tumpukan bangunan batu bata kuno yang tersebar di beberapa titik.

’’Setiap bata mempunyai dimensi 31 x 21 x 6 cm,’’ terangnya. Temuan itu juga langsung dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim di Trowulan. ’’Temuan ini diperkirakan masa Dinasti Ming,’’ ungkap arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho. Dugaan itu tak lepas dari hasil temuan dalam observasi yang dilakukan kemarin.

Baca Juga :  Kreasi Batik Ecoprint, Lebih Ramah Lingkungan, Motif Pakai Dedaunan

Di antaranya terdapat bentangan struktur dan temuan lepas berupa tembikar dan porselen. Porselennya diidentifikasi berasal dari Dinasti Ming. ’’Diperkirakan temuan struktur ini merupakan bagian dari permukiman pada masa Majapahit di abad 15 Masehi,’’ terangnya.

Dari hasil pemetaan di lokasi, bangunan ini memiliki ukuran 30 x 40 meter yang baru nampak. Luas ini tentunya akan berlanjut seperti halnya temuan-temuan sebelumnya di lokasi lain. Sehingga untuk luas pastinya masih membutuhkan ekskavasi guna mengungkap kelanjutan dari struktur dari bata yang baru sedikit tersingkap tersebut.

- Advertisement -

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, struktur dalam situs tersusu tersusun 8 lapis bata merah kuno. Satu batu bata memiliki ketebalan sekitar 60 cm. ’’Bangunan ini diperkirakan saling berhubungan. Membentuk pagar keliling yang di dalamnya ditemukan struktur lagi berbentuk mirip lantai rumah,’’ tuturnya.

Sehingga, dapat dipastikan situ tersebut merupakan bekas permukiman zaman Kerajaan Majapahit. Hal itu dikuatkan  dengan temuan fragmen genting yang banyak di area tersebut. Selain itu, bata bata kuno di situs ini disusun menggunakan tanah liat sebagai perekatnya.

Baca Juga :  Mengajarkan Keberagaman dan Kerukunan

’’Teknik nat menggunakan tanah liat biasanya untuk membangun permukiman. Seperti di situs permukiman Majapahit yang kami temukan di Museum Trowulan, dan Sumur Upas,’’ ungkapnya. Dia menambahkan, temuan ini merupakan bekas pemukinan yang cukup besar.

’’Berarti kalau mangkuknya dari keramik, atapnya pakai genting, ini bukan masyarakat biasa. Bisa saudagar atau bangsawan. Dugaan itu didukung dari besarnya struktur juga,’’ terangnya. Selain itu, dari keterangan masyarakat setempat, tak jauh dari temuan itu juga ditemukan sumur kuno.

Namun, oleh warga kemudian ditimbun kembali. Kendati demikian, untuk bisa menyimpulkan bentuk desainnya, BPCB Jatim masih memerlukan ekskavasi lebih dalam dan luas. Termasuk, untuk mengetahui bentuk denah, fungsi, dan hubungan dari struktur itu sendiri. Rencananya, BPCB Jatim akan berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak desa dan pemilik lahan guna merealisasi proses ekskavasi. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/