alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 17, 2022

Petani Hanya Dapat Ganti Benih Padi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto mulai mendata atas hektaran tanaman padi yang puso di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko. Data tersebut sebagai acuan penetapan ganti rugi benih padi kepada petani yang tanamannya sudah 10 hari terendam banjir.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Nurul Istiqomah mengatakan, sesuai instruksi bupati saat melakukan sidak banjir sekaligus pembersihan aliran sungai di Tempuran, kemarin, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Sooko langsung melakukan pendataan terhadap sejumlah petani yang terdampak bencana banjir. ’’Hasil fakta di lapangan dari 40-an hektare yang terendam banjir di tempuran, ternyata 8-10 hektare yang sudah ditanami, 30 hektare belum ada tanamannya,’’ ungkapnya, kemarin.

Sesuai pantauan di lapangan sebelumnya, sebagian besar lahan sawah di kawasan Tempuran memang terendam banjir berhari-hari. Namun Nurul menegaskan, ternyata sesuai data riil tak semua ditanami padi. Sebagian besar belum digarap.

’’Kalau yang sudah ada tanaman padinya ini, usianya berumur satu minggu, ada juga yang berumur hampir tiga bulan, mau panen, jadi itu nanti yang dipakai kami mengajukan ke Pemprov Jatim untuk ganti rugi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Suroso, Konsisten dan Berani Bersikap

Namun, pihaknya belum bisa memastikan berapa ganti rugi yang bakal turun nanti. Selain bukan menjadi kewenangan daerah, dipastikan sebelum menggelontor bantuan benih padi, petugas pertanian Provinsi Jatim akan turun lagi untuk verifikasi lapangan. Tak hanya di Desa Tempuran, hasil pendatan di lapangan, ancaman puso juga terjadi di Desa Karangkedawang.

Tercatat ada 7 dari 10 hektar luasan lahan yang terdampak sudah ditanami padi. ’’Jadi kalau ditotal ada 17 hektar yang terancam puso. Ini yang kami usulkan dapat bantuan benih padi, soal kapan turunnya, kita daerah menyesuaikan provinsi. Yang jelas data langsung kita kirim ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi,’’ paparnya.

Sebelumnya, lingkungan Desa Tempuran, Kecamatan Sooko belum bebas banjir. Luapan air akibat sumbatan sampah di aliran Sungai Avour Watudakon berkaibat pada puluhan hektar padi terancam puso. Juga membuat halaman kantor desa dan sekolah taman kanak-kanan tergenang.

Baca Juga :  Target Tuntas Sapa Warga di 304 Desa

Bencana banjir tahunan ini langsung jadi atensi Pemkab Mojokerto. Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati bersama Sekda Teguh Gunarko dan sejumlah OPD terkait langsung meninjau sambil melakukan pembersihan aliran sungai. ’’Hasil mitigasi memang ada satu jembatan usaha tani yang terlalu rendah, kemudian terjadi penyumbatan kangkung ataupun pohon, dan sampah yang alirannya ini terbawa dari daerah Mojoagung. Sehingga terjadi penyumbatan dan terjadi luapan,’’ ungkap Ikfina di lokasi.

Bupati perempuan pertama ini juga langsung instruksikan dinas terkait membersihkan aliran sungai dari sampah dan tanaan gulma itu. Termasuk membongkar jembatan desa penyebab banjir. Menurutnya, banjir yang terjadi di Tempuran selama ini sudah menjadi kewaspadaan bersama lantaran sudah jadi langganan. Tak urung, di tengah normaliasi dan perbaikan tanggul dilakukan BBWS, jauh-jauh hari sebelum musim hujan, pemerintah melalui BPBD juga sudah melakukan mitigasi. (ori/fen)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto mulai mendata atas hektaran tanaman padi yang puso di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko. Data tersebut sebagai acuan penetapan ganti rugi benih padi kepada petani yang tanamannya sudah 10 hari terendam banjir.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Nurul Istiqomah mengatakan, sesuai instruksi bupati saat melakukan sidak banjir sekaligus pembersihan aliran sungai di Tempuran, kemarin, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Sooko langsung melakukan pendataan terhadap sejumlah petani yang terdampak bencana banjir. ’’Hasil fakta di lapangan dari 40-an hektare yang terendam banjir di tempuran, ternyata 8-10 hektare yang sudah ditanami, 30 hektare belum ada tanamannya,’’ ungkapnya, kemarin.

Sesuai pantauan di lapangan sebelumnya, sebagian besar lahan sawah di kawasan Tempuran memang terendam banjir berhari-hari. Namun Nurul menegaskan, ternyata sesuai data riil tak semua ditanami padi. Sebagian besar belum digarap.

’’Kalau yang sudah ada tanaman padinya ini, usianya berumur satu minggu, ada juga yang berumur hampir tiga bulan, mau panen, jadi itu nanti yang dipakai kami mengajukan ke Pemprov Jatim untuk ganti rugi,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Suroso, Konsisten dan Berani Bersikap

Namun, pihaknya belum bisa memastikan berapa ganti rugi yang bakal turun nanti. Selain bukan menjadi kewenangan daerah, dipastikan sebelum menggelontor bantuan benih padi, petugas pertanian Provinsi Jatim akan turun lagi untuk verifikasi lapangan. Tak hanya di Desa Tempuran, hasil pendatan di lapangan, ancaman puso juga terjadi di Desa Karangkedawang.

Tercatat ada 7 dari 10 hektar luasan lahan yang terdampak sudah ditanami padi. ’’Jadi kalau ditotal ada 17 hektar yang terancam puso. Ini yang kami usulkan dapat bantuan benih padi, soal kapan turunnya, kita daerah menyesuaikan provinsi. Yang jelas data langsung kita kirim ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi,’’ paparnya.

- Advertisement -

Sebelumnya, lingkungan Desa Tempuran, Kecamatan Sooko belum bebas banjir. Luapan air akibat sumbatan sampah di aliran Sungai Avour Watudakon berkaibat pada puluhan hektar padi terancam puso. Juga membuat halaman kantor desa dan sekolah taman kanak-kanan tergenang.

Baca Juga :  Target Tuntas Sapa Warga di 304 Desa

Bencana banjir tahunan ini langsung jadi atensi Pemkab Mojokerto. Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati bersama Sekda Teguh Gunarko dan sejumlah OPD terkait langsung meninjau sambil melakukan pembersihan aliran sungai. ’’Hasil mitigasi memang ada satu jembatan usaha tani yang terlalu rendah, kemudian terjadi penyumbatan kangkung ataupun pohon, dan sampah yang alirannya ini terbawa dari daerah Mojoagung. Sehingga terjadi penyumbatan dan terjadi luapan,’’ ungkap Ikfina di lokasi.

Bupati perempuan pertama ini juga langsung instruksikan dinas terkait membersihkan aliran sungai dari sampah dan tanaan gulma itu. Termasuk membongkar jembatan desa penyebab banjir. Menurutnya, banjir yang terjadi di Tempuran selama ini sudah menjadi kewaspadaan bersama lantaran sudah jadi langganan. Tak urung, di tengah normaliasi dan perbaikan tanggul dilakukan BBWS, jauh-jauh hari sebelum musim hujan, pemerintah melalui BPBD juga sudah melakukan mitigasi. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/