Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto

18 Kecamatan Rawan Bencana

24 November 2021, 13: 05: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

18 Kecamatan Rawan Bencana

BENCANA ALAM: Kejadian pohon tumbang mewarnai kejadian bencana pada musim penghujan akhir-akhir ini. (Martda Vadetya/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – 18 wilayah di Kabupaten Mojokerto berpotensi mengalami bencana alam. Mulai bencana banjir, longsor, hingga puting beliung.

Kabid Pencegahan Dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Mojokerto, Puji Andriyati mengatakan, potensi itu kian mengkhawatirkan di tengah cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Saat ini, intensitas hujan tergolong kategori lebat atau di atas rata-rata. Bahkan, sesuai peringatan BMKG, peningkatan curah hujan hingga 20 sampai 70 persen.

Untuk kecepatan angina, data BMKG mencatat, 30-45 km per jam. Hal itu perlu diwaspadai lantaran bisa memporak-porandakan bangunan hingga mengakibatkan pohon tumbang. ’’Jadi perlu diwaspadai bersama potensi cuaca ektrem yang ditimbulkan. Cuaca November saat ini juga tidak menentu. Ditambah lagi adanya potensi fenomena La Nina,’’ tuturnya.

Baca juga: Tunggu Jawaban Kementerian ESDM

Bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor (bansor), dan puting beliung cukup berpotensi. Khususnya di kawasan selatan yang memiliki topografi pegunungan. Meliputi, Kecamatan Jatirejo, Gondang, Pacet, Trawas, dan Ngoro.

Tingginya potensi di lima kecamatan ini, tak lain juga karena kebakaran di kawasan hutan dan pegunungan. Juga potensi adanya pohon lapuk termakan usia. Tak terkecuali peralihan pemanfaatan fungsi lahan hutan menjadi pertanian. Secara tidak langsung juga mengurangi daya tampung resapan air.

Dikhawatirkan, karena terbakarnya pepohonan hutan, rata potensi longsor cukup tinggi lantaran akar pepohonan tidak cukup kuat. Ditambah lagi, minimnya reboisasi atau pohon yang berfungsi menyimpan air juga membuat bencana longsor kian rentan. ’’Kondisi tanah yang kurang stabil atau gembur, serta kemiringan tebing yang cukup ekstrem, juga menjadi penyebab. Ini juga harus menjadi perhatian serius pengunjung wisata alam,’’ tegasnya.

Kendati begitu, bukan berarti kawasan lainnya terhindar dari potensi bencana. Sesuai assessment di lapangan, BPBD mencatat, seluruh wilayah Mojokerto memiliki potensi bencana. Sesuai letak geografinya, tiap wilayah memiliki ancaman bencana berbeda-beda. Tak hanya bansor, tapi angin puting beliung dan banjir. ’’Potensi bencana itu selalu ada. Bahkan sejumlah wilayah, dipetakan sudah menjadi langganan. Seperti halnya banjir,’’ ujarnya.

Untuk menekan risiko bencana, BPBD mengaktifkan puluhan desa tanggap bencana (destana) di wilayah yang sudah dalam pemetaan rawan. Termasuk, membuat posko kesiapsiagaan dan melakukan pemantauan secara berkelanjutan terhadap perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG. ’’Kami juga gandeng seluruh potensi relawan dalam kesiapsiagaan terhadap bencana serta bersinergi dengan satgas Covid-19. Termasuk TNI, dan Polri,’’ tegasnya. (ori/ron)

(mj/ori/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia