alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Cetak Dalang Cilik, Lestarikan Seni Pewayangan

Eksistensi seni pewayangan setarikan napas dengan regenerasi dalang. Di Dawarblandong, tradisi pewayangan lestari berkat perpaduan apik antara bakat dengan ekosistem pendidikan serta lingkungan. Dalang-dalang cilik lahir dari ekstrakulikuler sekolah dan sanggar kesenian.

Adalah ruang karawitan SMPN 1 Dawarblandong. Yang kelak melejitkan para pedalang muda. Peserta didik dilatih langsung oleh guru dan dalang profesional. Joko Hadi, pegajar seni budaya menjaring bakat anak-anak sejak kali pertama menginjakkan kaki di sekolah. ’’Kuncinya di kelas 7,’’ ujar Joko.

Mereka dikenalkan sesuai dengan kecenderungan bakat dan minatnya masing-masing. Mulai dari karawitan, vokal (sinden), tari, hingga dalang. Anak-anak yang nantinya menekuni dunia pedalangan biasanya memiliki dasar kemampuan vokal yang kuat. Bakat bawaan itu nantinya diolah hingga mereka lihai mendalang.

Selama tiga tahun itu, mereka anak menekuni bidangnya masing-masing secara konsisten. Latihan rutin berlangsung setiap hari Kamis. Durasinya tak pasti. Dua hingga tiga jam. Bahkan, bisa sampai setengah hari. Porsi latihan tambahan bisa ditambah ketika menjelang pentas atau lomba. ’’Yang penting mereka latihan dengan senang,’’ tuturnya.

Latihan dilakukan secara bertahap. Di tahap awal anak-anak dilatih vokal. Naik kelas, mereka mulai menjajal dan menggerakkan wayang. Kemampuan mereka terus diasah seiring pentas dan lomba yang diikuti. Semakin banyak panggung, anak-anak semakin lihai.

Baca Juga :  3 Bulan Menjabat, Lahirkan 3 Karya Ilmiah dan Buku

Salah satu siswa pedalang, Della Puspita Sari saat ini sudah menginjak kelas 9. Dalang peremuan ini mengikuti ekstakulikuler sejak kelas 7. Dia mengaku tertarik dengan dunia pedalangan setelah masuk sekolah tersebut. ’’Cuma suka sama seni. Dulu sering menyanyi biasa,’’ ungkap gadis 14 tahun tersebut. Awal masuk dia pegang lagu keroncong. Kemudian lanjut ke sinden. Hingga akhirnya saat ini menjadi salah satu dalang cilik di sekolah tersebut.

Ada puluhan siswa yang mengikuti esktrakulikuler karawitan. Khusus dalang, saat ini terdapat sekitar lima siswa. Sedangkan yang sudah lulus tak terhitung. Maklum, ektrakulikuler ini sudah ada sejak tahun 1990-an. Sejauh ini, sekolah tersebut memang satu-satunya lembaga pendidikan formal yang memfasilitasi anak didik menekuni dunia pedalangan.

Della mengaku senang menggeluti dunia pedalangan karena termotivasi cerita kakak kelasnya yang sudah menjadi dalang profesional. Peran alumni tersebut memang sangat membantu keberlangsungan ekstrakulikuler. Mereka memberi dorongan moril maupun material. ’’Peran alumni dan sekolah sangat membantu di sini,’’ ujar Purnawan, salah satu dalang yang ikut menjadi pendamping ekstrakulikuler tersebut.

Baca Juga :  Bansos Uang Pengganti BPNT di Kabupaten Bermasalah

Purnawan menyebut, selain jalur formal, banyak sanggar seni yang menampung para pedalang. Mereka terkumpul dalam kelompok-kelompok yang biasanya membuat pementasan. Sanggar-sanggar dan program ekstrakulikuler inilah turut menjaga kelestarian tradisi pewayangan.

Ekosistem pedalangan sekolahan (formal) menjadi satu hal baik. Kelestarian tradisi pewayangan setidaknya terjamin dari anak-anak tersebut. Sayangnya, tak sedikit diantara mereka yang terancam tidak bisa meneruskan bakat dalangnya. Alasannya, karena di Dawarblandong sejauh ini belum ada SMA yang memfasilitasi jurusan pedalangan.

Sebagian besar lulusan yang ingin menekuni dunia dalang harus melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi di Surabaya. Memang banyak yang pergi ke sana. Tapi tak sedikit pula yang bingung. ’’Belum ada gambaran. Pengennya meneruskan dalang. Tapi, belum tahu akan lanjut ke Surabaya atau tidak. Kalau ada di sini ya mau,’’ ungkap Della. (adi/fen)

Eksistensi seni pewayangan setarikan napas dengan regenerasi dalang. Di Dawarblandong, tradisi pewayangan lestari berkat perpaduan apik antara bakat dengan ekosistem pendidikan serta lingkungan. Dalang-dalang cilik lahir dari ekstrakulikuler sekolah dan sanggar kesenian.

Adalah ruang karawitan SMPN 1 Dawarblandong. Yang kelak melejitkan para pedalang muda. Peserta didik dilatih langsung oleh guru dan dalang profesional. Joko Hadi, pegajar seni budaya menjaring bakat anak-anak sejak kali pertama menginjakkan kaki di sekolah. ’’Kuncinya di kelas 7,’’ ujar Joko.

Mereka dikenalkan sesuai dengan kecenderungan bakat dan minatnya masing-masing. Mulai dari karawitan, vokal (sinden), tari, hingga dalang. Anak-anak yang nantinya menekuni dunia pedalangan biasanya memiliki dasar kemampuan vokal yang kuat. Bakat bawaan itu nantinya diolah hingga mereka lihai mendalang.

Selama tiga tahun itu, mereka anak menekuni bidangnya masing-masing secara konsisten. Latihan rutin berlangsung setiap hari Kamis. Durasinya tak pasti. Dua hingga tiga jam. Bahkan, bisa sampai setengah hari. Porsi latihan tambahan bisa ditambah ketika menjelang pentas atau lomba. ’’Yang penting mereka latihan dengan senang,’’ tuturnya.

Latihan dilakukan secara bertahap. Di tahap awal anak-anak dilatih vokal. Naik kelas, mereka mulai menjajal dan menggerakkan wayang. Kemampuan mereka terus diasah seiring pentas dan lomba yang diikuti. Semakin banyak panggung, anak-anak semakin lihai.

Baca Juga :  Satu Desa Karantina Mandiri, Pasca Tiga Warga Terpapar Virus Korona

Salah satu siswa pedalang, Della Puspita Sari saat ini sudah menginjak kelas 9. Dalang peremuan ini mengikuti ekstakulikuler sejak kelas 7. Dia mengaku tertarik dengan dunia pedalangan setelah masuk sekolah tersebut. ’’Cuma suka sama seni. Dulu sering menyanyi biasa,’’ ungkap gadis 14 tahun tersebut. Awal masuk dia pegang lagu keroncong. Kemudian lanjut ke sinden. Hingga akhirnya saat ini menjadi salah satu dalang cilik di sekolah tersebut.

- Advertisement -

Ada puluhan siswa yang mengikuti esktrakulikuler karawitan. Khusus dalang, saat ini terdapat sekitar lima siswa. Sedangkan yang sudah lulus tak terhitung. Maklum, ektrakulikuler ini sudah ada sejak tahun 1990-an. Sejauh ini, sekolah tersebut memang satu-satunya lembaga pendidikan formal yang memfasilitasi anak didik menekuni dunia pedalangan.

Della mengaku senang menggeluti dunia pedalangan karena termotivasi cerita kakak kelasnya yang sudah menjadi dalang profesional. Peran alumni tersebut memang sangat membantu keberlangsungan ekstrakulikuler. Mereka memberi dorongan moril maupun material. ’’Peran alumni dan sekolah sangat membantu di sini,’’ ujar Purnawan, salah satu dalang yang ikut menjadi pendamping ekstrakulikuler tersebut.

Baca Juga :  Tes SKB, Enam Peserta Gugur Lebih Awal

Purnawan menyebut, selain jalur formal, banyak sanggar seni yang menampung para pedalang. Mereka terkumpul dalam kelompok-kelompok yang biasanya membuat pementasan. Sanggar-sanggar dan program ekstrakulikuler inilah turut menjaga kelestarian tradisi pewayangan.

Ekosistem pedalangan sekolahan (formal) menjadi satu hal baik. Kelestarian tradisi pewayangan setidaknya terjamin dari anak-anak tersebut. Sayangnya, tak sedikit diantara mereka yang terancam tidak bisa meneruskan bakat dalangnya. Alasannya, karena di Dawarblandong sejauh ini belum ada SMA yang memfasilitasi jurusan pedalangan.

Sebagian besar lulusan yang ingin menekuni dunia dalang harus melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi di Surabaya. Memang banyak yang pergi ke sana. Tapi tak sedikit pula yang bingung. ’’Belum ada gambaran. Pengennya meneruskan dalang. Tapi, belum tahu akan lanjut ke Surabaya atau tidak. Kalau ada di sini ya mau,’’ ungkap Della. (adi/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/