alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kepala Ayah Sendiri Dipalu, Anak Ini Dituntut 10 Tahun Penjara

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Insiden berdarah di Dusun Ngumpak, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, yang sempat gemparkan Mojokerto akhir Maret lalu kini masuki babak baru. Seorang anak yang tega menganiaya ayah, ibu, serta adik kandung, menggunakan palu hingga kritis kini masuh dalam agenda tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Senin (23/8).

Dalam sidang tuntutan yang digelar virtual, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto pun menuntut terdakwa Danang Marco Pambudi penjara maksimal. ’’Dalam sidang tuntutan hari ini (kemarin), terdakwa (Danang Marco Pambudi) kami tuntut penjara maksimal,’’ ungkap Kasi Pidum Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko.

Dengan fakta persidangan yang berlangsung selama ini, JPU meyakini terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Yakni, melakukan perbuatan kekerasan fisik terhadap orang dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan korban mengalami luka berat.

Baca Juga :  Salurkan 200 Paket Sembako ke Anak Yatim dan Duafa

Tiga korban meliputi, Sugianto, 52, ayah kandung; dan Tatik Kusnawati, 40, ibu kandung; serta DRA, 8, adik kandung. Hal itu sebagaimana diatur dalam pasal 44 ayat 2 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT sebagaimana termuat dalam dakwaan kesatu penuntut umum. ’’Sesuai fakta persidangan, kami menuntut terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 tahun karena perbuatan terdakwa dilakukan dengan sadis,’’ tegasnya.

Sesuai bukti yang ada, lanjut Ivan Yoko, motif terdakwa melakukan penganiayaan berat terhadap ayah, ibu, serta adik kandung ini sudah jelas dengan didasari sakit hati. Bahkan, terdakwa menyebut rasa sakit hati itu sudah dipendam sejak lama. Puncaknya, pada Rabu 31 Maret lalu sekitar pukul 01.30. Untuk meluapkan emosinya, dia nekat memukuli korban menggunakan palu masing-masing empat sampai lima kali pada bagian kepala hingga kritis. Yakni, Sugianto, 52, ayah kandung; dan Tatik Kusnawati, 40, ibu kandung; serta DRA, 8, adik kandung. Penganiayaan yang berujung pada percobaan pembunuhan ini dilakukan pelaku saat ketiga korban sedang tidur. ’’Akibat perbuatan terdakwa, semua korban luka berat,’’ paparnya.

Baca Juga :  Targetkan Sepekan Bebas Isoman

Ironinya lagi, lanjut Ivan Yoko, saat persidangan, terdakwa seakan tak menyesal dengan perbuatannya. Dia juga enggan meminta maaf kepada para korban. ’’Itu juga menjadi pertimbangan kami menuntut terdakwa hukuman penjara maksimal. Terdakwa juga merupakan residivis,’’ tegasnya.

Diketahui, pada 2020 dia pernah divonis hakim PN Mojokerto satu tahun atas kasus persetubuhan anak di bawah umur. Dengan agenda sidang tuntutan kemarin (23/8), dijawalkan pekan depan, diagendakan sidang putusan. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Insiden berdarah di Dusun Ngumpak, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, yang sempat gemparkan Mojokerto akhir Maret lalu kini masuki babak baru. Seorang anak yang tega menganiaya ayah, ibu, serta adik kandung, menggunakan palu hingga kritis kini masuh dalam agenda tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Senin (23/8).

Dalam sidang tuntutan yang digelar virtual, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto pun menuntut terdakwa Danang Marco Pambudi penjara maksimal. ’’Dalam sidang tuntutan hari ini (kemarin), terdakwa (Danang Marco Pambudi) kami tuntut penjara maksimal,’’ ungkap Kasi Pidum Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko.

Dengan fakta persidangan yang berlangsung selama ini, JPU meyakini terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. Yakni, melakukan perbuatan kekerasan fisik terhadap orang dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan korban mengalami luka berat.

Baca Juga :  Asah Bakat dan Minat Sejak Dini

Tiga korban meliputi, Sugianto, 52, ayah kandung; dan Tatik Kusnawati, 40, ibu kandung; serta DRA, 8, adik kandung. Hal itu sebagaimana diatur dalam pasal 44 ayat 2 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT sebagaimana termuat dalam dakwaan kesatu penuntut umum. ’’Sesuai fakta persidangan, kami menuntut terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 tahun karena perbuatan terdakwa dilakukan dengan sadis,’’ tegasnya.

Sesuai bukti yang ada, lanjut Ivan Yoko, motif terdakwa melakukan penganiayaan berat terhadap ayah, ibu, serta adik kandung ini sudah jelas dengan didasari sakit hati. Bahkan, terdakwa menyebut rasa sakit hati itu sudah dipendam sejak lama. Puncaknya, pada Rabu 31 Maret lalu sekitar pukul 01.30. Untuk meluapkan emosinya, dia nekat memukuli korban menggunakan palu masing-masing empat sampai lima kali pada bagian kepala hingga kritis. Yakni, Sugianto, 52, ayah kandung; dan Tatik Kusnawati, 40, ibu kandung; serta DRA, 8, adik kandung. Penganiayaan yang berujung pada percobaan pembunuhan ini dilakukan pelaku saat ketiga korban sedang tidur. ’’Akibat perbuatan terdakwa, semua korban luka berat,’’ paparnya.

Baca Juga :  Biaya Sekolah dan Pondok Anak Yatim Digratiskan

Ironinya lagi, lanjut Ivan Yoko, saat persidangan, terdakwa seakan tak menyesal dengan perbuatannya. Dia juga enggan meminta maaf kepada para korban. ’’Itu juga menjadi pertimbangan kami menuntut terdakwa hukuman penjara maksimal. Terdakwa juga merupakan residivis,’’ tegasnya.

- Advertisement -

Diketahui, pada 2020 dia pernah divonis hakim PN Mojokerto satu tahun atas kasus persetubuhan anak di bawah umur. Dengan agenda sidang tuntutan kemarin (23/8), dijawalkan pekan depan, diagendakan sidang putusan. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/