alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Ikan Sengkaring di Tengah Ancaman Kepunahan, Langka sejak 1995

Keberadaan Ikan Sengkaring kian sulit ditemui di tengah ketidakseimbangan ekosistem sungai. Selain eksploitasi tambang, perburuan liar oleh masyarakat juga menjadi ancaman besar bagi satwa purba ini.

Kelangkaan inilah yang menggerakkan sejumlah relawan turut melepasliarkan ikan dewa ini demi kelestarian dan kesimbangan alam.

Dulu, banyak orang tua bercerita tentang mitos ikan purba ini. Konon, ikan tersebut diceritakan sebagai jelmaan prajurit Majapahit yang dikutuk dan diasingkan ke hutan belantara dekat pegunungan oleh raja. Oleh masyarakat, ikan ini kemudian dimitoskan sebagai ikan keramat.

Hingga di beberapa tempat wisata, ikan ini terjaga dengan baik tanpa ada yang menganggu. Sebut saja di Sendang Banyu Biru Kabupaten Pasuruan dan mata air Rambut Monte di Kabupaten Blitar.

Di Mojokerto, ikan ini dulu diceritakan juga sering ditemui di beberapa sungai. Khususnya di kawasan pegunungan Pacet dan Trawas yang aliran airnya deras dan jernih karena dekat dengan sumber mata air. Namun, cerita itu kini hanya tinggal kenangan.

Saat ini, masyarakat justru kesulitan mencari ikan asli endemik Jawa Timur ini. Entah karena sebab apa, tiba-tiba menghilang. Adapun satwa yang terkenal dengan sebutan ikan dewa ini kemungkinan hanya tinggal beberapa ekor.

’’Sejak tahun 1995 sudah tidak terlihat lagi ikan ini. Zaman dulu orang tua saya bercerita banyak tentang ikan sengkaring ini. Tetapi ketika anak dan cucu kita sudah besar, mencari ikan ini ternyata sudah tidak ada lagi.

Baca Juga :  Kapolres Datangi MTs Bahrul Ulum yang Ambruk saat KBM

Dulu masih sering ditemui di wilayah Pacet dan Trawas. Seperti di Sungai Kromong ke atas sampai Cangar, lalu Kali Pikatan Desa Kemiri dan Petirtaan Jolotundo Trawas juga pernah ada,’’ terang Syaiful Anam, koordinator relawan PC LPBI NU Kabupaten Mojokerto.

Nah, karena kelangkaan inilah, Anam bersama sejumlah relawan lain mencoba untuk melestarikan ikan bernama latin Genus Tor dan Neolissochilus itu Minggu (21/6). Bertempat di aliran Kali Kedung Bunder Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, puluhan relawan mulai dari Welirang Community, Tagana, Penghobi Mancing Casting, dan LPBI NU sengaja melepaskan bibit ikan Sengkaring.

Ikan tersebut merupakan hasil penangkaran salah seorang warga Pacet. Meski berhasil mendapatkan ikan dari hasil penangkaran, tetapi Anam mengaku, ikan ini cukup sulit untuk dikembangbiakkan. Untuk sekadar merawatnya pun, juga dinilai sangat susah.

Karena butuh banyak treatment untuk bisa mengembangbiakkan menjadi lebih banyak. Dari informasi yang ia dapat. Ikan suci ini tergolong perkembangannya sangat lambat. Untuk sekali bertelur, bisa mencapai seribu butir.

Namun, tingkat kegagalan juga sangat tinggi. Yakni, mencapai 30 persen dalam satu penangkaran. Artinya, dari seribu butir telur, yang berhasil hidup hanya 300 sampai 500 ekor saja. Bahkan, puluhan relawan ini hanya bisa mendapatkan puluhan ekor untuk pelepasliaran.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Segel Reklame Bodong

Lantaran tidak ada lagi peternak yang mampu mengembangbiakkan. ’’Itu pun dengan rentang ukuran tiga sampai lima sentimeter atau usia tiga bulan. Dalam lima tahun, beratnya mungkin hanya bisa satu kilogram. Sifat ikan ini suka melawan arus, berkoloni, dan menyukai air bening. Kami mendapatkan benihnya dengan harga perkilogram Rp 850 ribu,’’ tambahnya.

Atas dasar itulah, harga jual ikan ini cukup mahal. Bahkan saat ini harganyanya bisa mencapai Rp 1 juta untuk satu kilogram ikan dewasa. Hanya saja, upaya pelepasliaran kemarin bukan dimaksudkan untuk menjual kembali.

Namun, sengaja agar ikan itu tetap lestari lagi sesuai ekosistemnya di perairan hulu. Sehingga masyarakat nantinya masih berkesempatan melihat kehidupan alam yang asri. Untuk itu, puluhan relawan ini berharap masyarakat turut menjaga dan merawat ekosistem sungai.

Sehingga kehidupan ikan di sungai bisa tetap terawat dan terus berkembang sampai ratusan tahun kedepan. ’’Caranya mudah, tidak meracuni dan menyetrum ikan saja sudah cukup. Biarkan mereka berkembang biak secara alami,’’ tegas Nuruddiyan, relawan lain.

Keberadaan Ikan Sengkaring kian sulit ditemui di tengah ketidakseimbangan ekosistem sungai. Selain eksploitasi tambang, perburuan liar oleh masyarakat juga menjadi ancaman besar bagi satwa purba ini.

Kelangkaan inilah yang menggerakkan sejumlah relawan turut melepasliarkan ikan dewa ini demi kelestarian dan kesimbangan alam.

Dulu, banyak orang tua bercerita tentang mitos ikan purba ini. Konon, ikan tersebut diceritakan sebagai jelmaan prajurit Majapahit yang dikutuk dan diasingkan ke hutan belantara dekat pegunungan oleh raja. Oleh masyarakat, ikan ini kemudian dimitoskan sebagai ikan keramat.

Hingga di beberapa tempat wisata, ikan ini terjaga dengan baik tanpa ada yang menganggu. Sebut saja di Sendang Banyu Biru Kabupaten Pasuruan dan mata air Rambut Monte di Kabupaten Blitar.

Di Mojokerto, ikan ini dulu diceritakan juga sering ditemui di beberapa sungai. Khususnya di kawasan pegunungan Pacet dan Trawas yang aliran airnya deras dan jernih karena dekat dengan sumber mata air. Namun, cerita itu kini hanya tinggal kenangan.

Saat ini, masyarakat justru kesulitan mencari ikan asli endemik Jawa Timur ini. Entah karena sebab apa, tiba-tiba menghilang. Adapun satwa yang terkenal dengan sebutan ikan dewa ini kemungkinan hanya tinggal beberapa ekor.

- Advertisement -

’’Sejak tahun 1995 sudah tidak terlihat lagi ikan ini. Zaman dulu orang tua saya bercerita banyak tentang ikan sengkaring ini. Tetapi ketika anak dan cucu kita sudah besar, mencari ikan ini ternyata sudah tidak ada lagi.

Baca Juga :  BBKSDA Jatim: Arapaima Gigas Dipelihara Pengusaha Asal Mojokerto

Dulu masih sering ditemui di wilayah Pacet dan Trawas. Seperti di Sungai Kromong ke atas sampai Cangar, lalu Kali Pikatan Desa Kemiri dan Petirtaan Jolotundo Trawas juga pernah ada,’’ terang Syaiful Anam, koordinator relawan PC LPBI NU Kabupaten Mojokerto.

Nah, karena kelangkaan inilah, Anam bersama sejumlah relawan lain mencoba untuk melestarikan ikan bernama latin Genus Tor dan Neolissochilus itu Minggu (21/6). Bertempat di aliran Kali Kedung Bunder Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, puluhan relawan mulai dari Welirang Community, Tagana, Penghobi Mancing Casting, dan LPBI NU sengaja melepaskan bibit ikan Sengkaring.

Ikan tersebut merupakan hasil penangkaran salah seorang warga Pacet. Meski berhasil mendapatkan ikan dari hasil penangkaran, tetapi Anam mengaku, ikan ini cukup sulit untuk dikembangbiakkan. Untuk sekadar merawatnya pun, juga dinilai sangat susah.

Karena butuh banyak treatment untuk bisa mengembangbiakkan menjadi lebih banyak. Dari informasi yang ia dapat. Ikan suci ini tergolong perkembangannya sangat lambat. Untuk sekali bertelur, bisa mencapai seribu butir.

Namun, tingkat kegagalan juga sangat tinggi. Yakni, mencapai 30 persen dalam satu penangkaran. Artinya, dari seribu butir telur, yang berhasil hidup hanya 300 sampai 500 ekor saja. Bahkan, puluhan relawan ini hanya bisa mendapatkan puluhan ekor untuk pelepasliaran.

Baca Juga :  Penanganan Covid-19 Harus Terarah, Yang Sembuh Harus Disambut

Lantaran tidak ada lagi peternak yang mampu mengembangbiakkan. ’’Itu pun dengan rentang ukuran tiga sampai lima sentimeter atau usia tiga bulan. Dalam lima tahun, beratnya mungkin hanya bisa satu kilogram. Sifat ikan ini suka melawan arus, berkoloni, dan menyukai air bening. Kami mendapatkan benihnya dengan harga perkilogram Rp 850 ribu,’’ tambahnya.

Atas dasar itulah, harga jual ikan ini cukup mahal. Bahkan saat ini harganyanya bisa mencapai Rp 1 juta untuk satu kilogram ikan dewasa. Hanya saja, upaya pelepasliaran kemarin bukan dimaksudkan untuk menjual kembali.

Namun, sengaja agar ikan itu tetap lestari lagi sesuai ekosistemnya di perairan hulu. Sehingga masyarakat nantinya masih berkesempatan melihat kehidupan alam yang asri. Untuk itu, puluhan relawan ini berharap masyarakat turut menjaga dan merawat ekosistem sungai.

Sehingga kehidupan ikan di sungai bisa tetap terawat dan terus berkembang sampai ratusan tahun kedepan. ’’Caranya mudah, tidak meracuni dan menyetrum ikan saja sudah cukup. Biarkan mereka berkembang biak secara alami,’’ tegas Nuruddiyan, relawan lain.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/