alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Warga Kota yang Nekat Mudik, Terancam Tak Bisa Bertemu Keluarga

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki Ramadan, Pemkot Mojokerto kembali memperketat pengawasan untuk mengantisipasi kedatangan pemudik.

Bahkan, perantau yang tetap nekat pulang kampung teracam tidak akan bertemu keluarga karena diwajibkan menjalani karantina.

Wali Kota Ika Puspitasari, menegaskan, memasuki bulan puasa dan menghadapi Hari Raya Lebaran, mudik menjadi salah satu tradisi yang cukup sulit dibendung.

Karena itu, pihaknya kembali menegaskan untuk melarang warga untuk menunda pulang kampung selama masa darurat Covid-19 ini. Ning Ita, sapaan akrab wali kota, meminta warga untuk tidak melakukan mutasi dan tetap berada di wilayah tinggal masing-masing.

’’Yang sudah berada di luar daerah, tetaplah berada di luar daerah. Begitu juga yang berada di Kota Mojoerto, tetaplah di Kota Mojokerto,’’ tegasnya.

Menurutnya, upaya tetap berdiam diri di rumah menjadi salah satu cara efektif dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun, diakui, jika pihaknya tidak mampu membendung jika tetap terjadi kedatangan pemudik ke Kota Mojokerto.

’’Dibutuhkan kebijakan pada level di atas kami untuk memutus mudik tersebut. Karena itu akses mutasi dari beberapa daerah di luar Kota Mojoekrto,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Tumpah di Jalan Raya Bypass, 9 Ribu Liter Migor Curah Jadi Jarahan

Karena itu, selama bulan suci ini, pihaknya lebih memperketat pengawasan terhadap pendatang yang masuk ke Kota Mojokerto. Meski sebelumnya telah didirikan posko skrining di titik-titik pintu masuk untuk memantau kedatangan pemudik ke Kota Onde-Onde.

Namun, langkah tersebut masih perlu dinilai perlu dilakukan penguatan. Salah satunya dengan pendirian posko mandiri yang tersebar di tingkat lingkungan.

Menurutnya, keberadaan posko di level rukun warga (RW) tersebut menjadi lebih efektif dalam mendata kedatangan perantau. ’’Karena masyarakat di level lingkungan ini lebih tahu ketika ada pergerakan orang masuk maupun keluar di lingkungannya,’’ terangnya.

Setiap pemudik yang pulang kampung akan dilakukan pendataan dan dilaporkan ke posko di kelurahan. Orang nomor satu di lingkup pemkot ini menyebut, siapa pun yang datang dari zona merah akan secara otomatis ditetapkan status menjadi orang dalam risiko (ODR).

Ning Ita menegaskan, para ODR tersebut diwajibkan untuk menjalani karantina mandiri sebelum menginjakkan kaki di rumah. ’’Selama pemudik berasal dari zona merah, apakah dia sehat ataupun ada gejala tentu kami mewajibkan isolasi secara mandiri,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Ruang Kerja Disegel KPK, MKP Muncul Kenakan Rompi Hitam

Dia menyebutkan jika di masing-masing kelurahan telah disiapkan ruang karantina bagi pemudik. Selain itu, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cinde juga dipersiakan untuk menjadi gedung observasi bagi perantau.

Kamis (23/4) tower empat lantai yang berada di Jalan Cinde Baru VIII, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon tersebut telah dipantau kesiapannya. Bahkan, sebagai antisipasi ledakan pemudik, kapasitas gedung garapan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) ini ditambah.

Dengan kapasitas 60 ruangan, Rusunawa Cinde dapat menampung sekitar 240 orang. Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), masa observasi dilakukan minimal selama 14 hari. Jika mengalami gejala, masa pemantauan tidak menutup kemungkinan bisa ditambah.

Oleh sebab itu, Ning Ita mengimbau kepada warga untuk tidak melakukan mudik. Karena pemkot akan mewajibkan karantina mandiri.

’’Tujuan mudik adalah bertemu keluarga. Tapi nyatanya ketika sampai di Kota Mojokerto tidak akan bertemu dengan keluarga karena kami akan isolasi di ruang karantina,’’ pungkas dia.

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Memasuki Ramadan, Pemkot Mojokerto kembali memperketat pengawasan untuk mengantisipasi kedatangan pemudik.

Bahkan, perantau yang tetap nekat pulang kampung teracam tidak akan bertemu keluarga karena diwajibkan menjalani karantina.

Wali Kota Ika Puspitasari, menegaskan, memasuki bulan puasa dan menghadapi Hari Raya Lebaran, mudik menjadi salah satu tradisi yang cukup sulit dibendung.

Karena itu, pihaknya kembali menegaskan untuk melarang warga untuk menunda pulang kampung selama masa darurat Covid-19 ini. Ning Ita, sapaan akrab wali kota, meminta warga untuk tidak melakukan mutasi dan tetap berada di wilayah tinggal masing-masing.

’’Yang sudah berada di luar daerah, tetaplah berada di luar daerah. Begitu juga yang berada di Kota Mojoerto, tetaplah di Kota Mojokerto,’’ tegasnya.

Menurutnya, upaya tetap berdiam diri di rumah menjadi salah satu cara efektif dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun, diakui, jika pihaknya tidak mampu membendung jika tetap terjadi kedatangan pemudik ke Kota Mojokerto.

- Advertisement -

’’Dibutuhkan kebijakan pada level di atas kami untuk memutus mudik tersebut. Karena itu akses mutasi dari beberapa daerah di luar Kota Mojoekrto,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Jadikan Hari Pahlawan sebagai Momentum Berjuang di Masa Pandemi

Karena itu, selama bulan suci ini, pihaknya lebih memperketat pengawasan terhadap pendatang yang masuk ke Kota Mojokerto. Meski sebelumnya telah didirikan posko skrining di titik-titik pintu masuk untuk memantau kedatangan pemudik ke Kota Onde-Onde.

Namun, langkah tersebut masih perlu dinilai perlu dilakukan penguatan. Salah satunya dengan pendirian posko mandiri yang tersebar di tingkat lingkungan.

Menurutnya, keberadaan posko di level rukun warga (RW) tersebut menjadi lebih efektif dalam mendata kedatangan perantau. ’’Karena masyarakat di level lingkungan ini lebih tahu ketika ada pergerakan orang masuk maupun keluar di lingkungannya,’’ terangnya.

Setiap pemudik yang pulang kampung akan dilakukan pendataan dan dilaporkan ke posko di kelurahan. Orang nomor satu di lingkup pemkot ini menyebut, siapa pun yang datang dari zona merah akan secara otomatis ditetapkan status menjadi orang dalam risiko (ODR).

Ning Ita menegaskan, para ODR tersebut diwajibkan untuk menjalani karantina mandiri sebelum menginjakkan kaki di rumah. ’’Selama pemudik berasal dari zona merah, apakah dia sehat ataupun ada gejala tentu kami mewajibkan isolasi secara mandiri,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Warga Diminta Aktifkan Siskamling, Cegah Kriminalitas dan Covid-19

Dia menyebutkan jika di masing-masing kelurahan telah disiapkan ruang karantina bagi pemudik. Selain itu, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cinde juga dipersiakan untuk menjadi gedung observasi bagi perantau.

Kamis (23/4) tower empat lantai yang berada di Jalan Cinde Baru VIII, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon tersebut telah dipantau kesiapannya. Bahkan, sebagai antisipasi ledakan pemudik, kapasitas gedung garapan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) ini ditambah.

Dengan kapasitas 60 ruangan, Rusunawa Cinde dapat menampung sekitar 240 orang. Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), masa observasi dilakukan minimal selama 14 hari. Jika mengalami gejala, masa pemantauan tidak menutup kemungkinan bisa ditambah.

Oleh sebab itu, Ning Ita mengimbau kepada warga untuk tidak melakukan mudik. Karena pemkot akan mewajibkan karantina mandiri.

’’Tujuan mudik adalah bertemu keluarga. Tapi nyatanya ketika sampai di Kota Mojokerto tidak akan bertemu dengan keluarga karena kami akan isolasi di ruang karantina,’’ pungkas dia.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/