alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 18, 2022

Puskesmas Tutup, Bumil Melahirkan di Teras

KUTOREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bayi perempuan dilahirkan di teras Puskemas Pesanggarahan, Kecamatan Kutorejo, Senin pagi (22/3). Persalinan darurat itu dialami sang ibu, Umi Nurlaila, 31, yang mengalami pecah ketuban sebelum petugas medis datang.

Dari informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, kejadian itu bermula saat Umi Nurlaila bersama suami mendatangi Puskesmas Pesanggrahan menjelang salat Subuh atau sekitar pukul 04.15 kemarin. Diperkirakan, ibu yang beralamat di Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, itu sudah mengalami tanda-tanda melahirkan selama perjalanan menuju faskes tingkat pertama tersebut. ’’Karena saat di depan puskesmas, jabang bayi sudah mau keluar,’’ terang Sumarti, warga Dusun Mojojejer, Desa Pesanggarahan, yang juga salah satu saksi mata kejadian.

Dia mengaku tidak mengetahui awal kedatangan dari pasangan suami istri (pasutri) tersebut. Namun, saat hendak berbelanja, Sumarti melihat sejumlah warga yang baru selesai salat berjamaah Subuh membantu seorang perempuan yang dalam kondisi telentang di teras puskesmas. ’’Orang-orang bilang katanya ada orang melahirkan. Akhirnya saya melihat dan ternyata benar posisi ibu itu sudah melahirkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Daun Kersen Bawa Sparta Raih Prestasi Teknologi Tepat Guna

Akhirnya, dia pun segera menghubungi bidan terdekat. Tak berselang lama, Umi Nurlaila dan bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 2,9 kilogram (Kg) dan panjang 49 sentimeter (cm) bisa mendapat penanganan medis. Kemarin, keduanya masih dilakukan perawatan di Puskesmas Pesanggrahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko menyatakan, terjadinya persalinan di teras Puskemas Pesanggrahan dipicu karena kesalahpahaman di masyarkat. Mengingat, faskes tersebut merupakan puskesmas non-rawat inap. Sehingga, tidak melayani 24 jam. ’’Saat dia (Umi Nurlaila) diantar suami, waktu itu (Subuh, Red) Puskesmas Pesanggrahan masih tutup. Karena memang bukan rawat inap,’’ ulasnya.

Di samping itu, ibu dua anak itu sebelumnya memiliki riwayat Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Dlanggu. Namun, saat persalinan, sang ibu justru dibawa ke Puskesmas Pesanggrahan yang notabene belum memiliki pelayanan IGD Ponek. ’’Jadi berpikirnya kalau BPJS Kesehatan masih ikut di Pesanggrahan. Padahal kalau persalinan di mana pun boleh, karena persalinan masuk dalam darurat,’’ bebernya.

Baca Juga :  Kursi Tunggu Pasien di Puskesmas Pesanggrahan Dibawa Kabur

Meski begitu, bidan setempat sudah berupaya membantu persalinan Umi Nurlaila. Namun, sebelum petugas medis datang, kandungan Nur Laila sudah telanjur mengalami pecah air ketuban. Bahkan kondisinya sudah mengalami tanda-tanda pembukaan.

Maka, kata Sujatmiko, penanganan terpaksa harus dilakukan secara darurat di teras puskesmas. ’’Kalau ketuban sudah pecah kan sudah tidak bisa dibawa ke mana-mana, harus ditolong di situ dulu,’’ papar mantan Direktur RSUD Prof dr Soekandar Mojosari ini.

Dia menyebutkan, proses persalinan dilakukan secara normal. Selain itu, kondisi ibu dan buah hati juga dalam keadaan sehat. Mengingat, persalinan tersebut sudah sesuai dengan hari perkiraan lahir (HPL) 21 Maret. ’’Jadi, kejadian ini hanya mis di masyarakat saja, mungkin karena panik,’’ ulasnya. 

KUTOREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bayi perempuan dilahirkan di teras Puskemas Pesanggarahan, Kecamatan Kutorejo, Senin pagi (22/3). Persalinan darurat itu dialami sang ibu, Umi Nurlaila, 31, yang mengalami pecah ketuban sebelum petugas medis datang.

Dari informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, kejadian itu bermula saat Umi Nurlaila bersama suami mendatangi Puskesmas Pesanggrahan menjelang salat Subuh atau sekitar pukul 04.15 kemarin. Diperkirakan, ibu yang beralamat di Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, itu sudah mengalami tanda-tanda melahirkan selama perjalanan menuju faskes tingkat pertama tersebut. ’’Karena saat di depan puskesmas, jabang bayi sudah mau keluar,’’ terang Sumarti, warga Dusun Mojojejer, Desa Pesanggarahan, yang juga salah satu saksi mata kejadian.

Dia mengaku tidak mengetahui awal kedatangan dari pasangan suami istri (pasutri) tersebut. Namun, saat hendak berbelanja, Sumarti melihat sejumlah warga yang baru selesai salat berjamaah Subuh membantu seorang perempuan yang dalam kondisi telentang di teras puskesmas. ’’Orang-orang bilang katanya ada orang melahirkan. Akhirnya saya melihat dan ternyata benar posisi ibu itu sudah melahirkan,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Prostitusi Online Berkedok Rumah Kos Digerebek Polda

Akhirnya, dia pun segera menghubungi bidan terdekat. Tak berselang lama, Umi Nurlaila dan bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 2,9 kilogram (Kg) dan panjang 49 sentimeter (cm) bisa mendapat penanganan medis. Kemarin, keduanya masih dilakukan perawatan di Puskesmas Pesanggrahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko menyatakan, terjadinya persalinan di teras Puskemas Pesanggrahan dipicu karena kesalahpahaman di masyarkat. Mengingat, faskes tersebut merupakan puskesmas non-rawat inap. Sehingga, tidak melayani 24 jam. ’’Saat dia (Umi Nurlaila) diantar suami, waktu itu (Subuh, Red) Puskesmas Pesanggrahan masih tutup. Karena memang bukan rawat inap,’’ ulasnya.

Di samping itu, ibu dua anak itu sebelumnya memiliki riwayat Antenatal Care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Dlanggu. Namun, saat persalinan, sang ibu justru dibawa ke Puskesmas Pesanggrahan yang notabene belum memiliki pelayanan IGD Ponek. ’’Jadi berpikirnya kalau BPJS Kesehatan masih ikut di Pesanggrahan. Padahal kalau persalinan di mana pun boleh, karena persalinan masuk dalam darurat,’’ bebernya.

Baca Juga :  Cegah Pelanggaran Lalin, Dandim Cek Kelengkapan Kendaraan Prajurit
- Advertisement -

Meski begitu, bidan setempat sudah berupaya membantu persalinan Umi Nurlaila. Namun, sebelum petugas medis datang, kandungan Nur Laila sudah telanjur mengalami pecah air ketuban. Bahkan kondisinya sudah mengalami tanda-tanda pembukaan.

Maka, kata Sujatmiko, penanganan terpaksa harus dilakukan secara darurat di teras puskesmas. ’’Kalau ketuban sudah pecah kan sudah tidak bisa dibawa ke mana-mana, harus ditolong di situ dulu,’’ papar mantan Direktur RSUD Prof dr Soekandar Mojosari ini.

Dia menyebutkan, proses persalinan dilakukan secara normal. Selain itu, kondisi ibu dan buah hati juga dalam keadaan sehat. Mengingat, persalinan tersebut sudah sesuai dengan hari perkiraan lahir (HPL) 21 Maret. ’’Jadi, kejadian ini hanya mis di masyarakat saja, mungkin karena panik,’’ ulasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/