alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kewalahan, Sampel Swab Dikirim ke Surabaya

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tingginya tingkat keterisian tempat tidur (TT) di ruang isolasi Covid-19 berdampak pada melonjaknya permintaan spesimen swab yang diuji di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo. Akibatnya, rumah sakit pelat merah itu kewalahan dan terpaksa mengirimkan sejumlah sampel ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Kepala Laboratorium Patologi Klinik RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dr Halik Wijaya mengatakan, uji Polymerase Chain Reaction (PCR) mengalami peningkatan selama beberapa pekan terakhir. Terutama, pasca penambahan kapasitas di ruang isolasi Covid-19 yang semula 66 TT menjadi 75 TT. ’’Yang jelas dari pasien rawat inap ini meningkat terus,’’ paparnya.

Apalagi, kapasitas di ruang isolasi Covid-19 kerap penuh. Sehingga, mesin PCR bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dioperasionalkan maksimal hingga 70-76 tes per hari. ’’Itu rata-rata, masih bisa meningkat. Karena ruang isolasinya penuh terus,’’ bebernya.

Baca Juga :  DPRD Desak Walikota Ubah Aturan Penutupan Jalan

Halik menambahkan, tingginya tes PCR juga disebabkan karena satu orang pasien tidak hanya menjalani satu kali swab. Itu pun belum tes swab yang berasal dari pelayanan pasien rawat jalan. Baik permintaan swab mandiri maupun hasil tracing dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Mojokerto.

Karena kemampuan PCR terbatas, maka sejumlah sampel terpaksa dikirimkan ke BBTKL Surabaya. Di samping untuk memperpendek antrean, upaya tersebut juga untuk mempercepat mengetahui hasil uji swab. ’’Hanya beberapa (spesimen swab) saja, supaya mempercepat layanan,’’ ulasnya.

Pasalnya, kecepatan hasil PCR akan berpengaruh terhadap upaya menurunkan tingkat ketersian di ruang isolasi. Jika hasil swab diketahui negatif, maka pasien bisa diizinkan keluar dari rumah sakit atau dipindah ke ruang rawat inap reguler.

Baca Juga :  Kasus DBD Naik, Permintaan Trombosit pun Meningkat

Di sisi lain, hasil uji swab juga dapat mempercepat penanganan. Sebab, di ruang isolasi tidak hanya diisi pasien confirm, melainkan juga merawat pasien yang berstatus probable maupun suspect Covid-19. ’’Yang jelas paremeter kita di ruang isolasi. Kalau pasiennya cenderung meningkat, PCR juga meningkat,’’ tandas  Halik.

Karena itu, kinerja mesin PCR di rumah sakit pelat merah itu terus dikebut. Tahun lalu, mesin tersebut hanya mampu melakukan pengujian 66 sampel dengan 6 kali running. Namun, seiring meningkatnya permintaan uji swab sejak awal Januari lalu, kemampuan tes spesimen ditingkatkan berkisar 15 persen. ’’Apalagi, kadang PCR itu hasilnya juga tidak bisa langsung keluar. Jadi perlu dilakukan pengulangan lagi,’’ pungkasnya. 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Tingginya tingkat keterisian tempat tidur (TT) di ruang isolasi Covid-19 berdampak pada melonjaknya permintaan spesimen swab yang diuji di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo. Akibatnya, rumah sakit pelat merah itu kewalahan dan terpaksa mengirimkan sejumlah sampel ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Kepala Laboratorium Patologi Klinik RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo dr Halik Wijaya mengatakan, uji Polymerase Chain Reaction (PCR) mengalami peningkatan selama beberapa pekan terakhir. Terutama, pasca penambahan kapasitas di ruang isolasi Covid-19 yang semula 66 TT menjadi 75 TT. ’’Yang jelas dari pasien rawat inap ini meningkat terus,’’ paparnya.

Apalagi, kapasitas di ruang isolasi Covid-19 kerap penuh. Sehingga, mesin PCR bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dioperasionalkan maksimal hingga 70-76 tes per hari. ’’Itu rata-rata, masih bisa meningkat. Karena ruang isolasinya penuh terus,’’ bebernya.

Baca Juga :  Menumbuhkan Rasa Cinta terhadap Kota Mojokerto

Halik menambahkan, tingginya tes PCR juga disebabkan karena satu orang pasien tidak hanya menjalani satu kali swab. Itu pun belum tes swab yang berasal dari pelayanan pasien rawat jalan. Baik permintaan swab mandiri maupun hasil tracing dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Mojokerto.

Karena kemampuan PCR terbatas, maka sejumlah sampel terpaksa dikirimkan ke BBTKL Surabaya. Di samping untuk memperpendek antrean, upaya tersebut juga untuk mempercepat mengetahui hasil uji swab. ’’Hanya beberapa (spesimen swab) saja, supaya mempercepat layanan,’’ ulasnya.

Pasalnya, kecepatan hasil PCR akan berpengaruh terhadap upaya menurunkan tingkat ketersian di ruang isolasi. Jika hasil swab diketahui negatif, maka pasien bisa diizinkan keluar dari rumah sakit atau dipindah ke ruang rawat inap reguler.

Baca Juga :  Saat Terpapar, Suami Tutup Usia
- Advertisement -

Di sisi lain, hasil uji swab juga dapat mempercepat penanganan. Sebab, di ruang isolasi tidak hanya diisi pasien confirm, melainkan juga merawat pasien yang berstatus probable maupun suspect Covid-19. ’’Yang jelas paremeter kita di ruang isolasi. Kalau pasiennya cenderung meningkat, PCR juga meningkat,’’ tandas  Halik.

Karena itu, kinerja mesin PCR di rumah sakit pelat merah itu terus dikebut. Tahun lalu, mesin tersebut hanya mampu melakukan pengujian 66 sampel dengan 6 kali running. Namun, seiring meningkatnya permintaan uji swab sejak awal Januari lalu, kemampuan tes spesimen ditingkatkan berkisar 15 persen. ’’Apalagi, kadang PCR itu hasilnya juga tidak bisa langsung keluar. Jadi perlu dilakukan pengulangan lagi,’’ pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/