alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Mojokerto Punya Stok Ratusan Janda Cabe-Cabean

MOJOKERTO – Kasus perceraian dini nampaknya masih cukup mengkhawatirkan. Terbukti, di sepanjang tahun 2018 ini, angka kasus perceraian dini di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto terbilang cukup tinggi.

Humas PA Mojokerto Sofyan Zefry mengatakan, di sepanjang tahun ini, perceraian dini sudah mencapai 133 kasus. Meski begitu, dia mengaku catatan tersebut turun dari tahun lalu yang mencapai 160 kasus.

Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa upaya mencegah kasus perceraian di usia dini (20 tahun ke bawah) belum sepenuhnya optimal. ”Dalam mengikis kasus percerain dini, memang harus dilakukan oleh semua elemen,’’ katanya, Jumat (21/12).

Baca Juga :  Sukses Salurkan BPNT, BNI Dorong Realisasi Pencairan

Dia menyebutkan, banyak faktor yang memengaruhi maraknya kasus percerain dini. Salah satu pemicu tertinggi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). ”KDRT itu ada dua. Kekerasan fisik dan kekerasan ekonomi,’’ jelasnya.

Zefry menegaskan, kekerasan fisik lebih diakibatkan kerena pihak laki-laki belum sepenuhnya bisa berpikir dewasa. Kedua, terjadinya kekerasan ekonomi atau menelantarkan. Akibat kedua belah pihak belum berpikir baik bagaimana membangun rumah tangga harmonis.

”Kalau laki-lakinya masih umur 19 tahun, dan perempuannya 16 tahun, itu kan masih masa-masa bermain. Yang jelas, untuk berpikir bekerja saja pasti malas,’’ paparnya. Zefry menambahkan, pemicu lainnya juga akibat belum matangnya usia masing-masing pasangan.

”Kebanyakan anak-anak yang nikah usia muda itu dipaksa orang tuanya,’’ ucapnya. Untuk itu, dia berharap, angka kasus percerain dan pernikahan dini dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Baca Juga :  Bupati Sambangi Korban Pohon Tumbang

Salah satunya dengan melalui keseriusan orang tua agar lebih berpikir jangka panjang, serta dampak positif sebelum menikahkan putra-putrinya di usia dini. Selain itu, tokoh agama juga sangat berperan penting memberikan arahan di setiap lingkungan masing-masing.

”Dengan begitu, ke depannya, semoga kasus percerian dini ini terus berkurang,’’ pungkasnya. (ras)

 

MOJOKERTO – Kasus perceraian dini nampaknya masih cukup mengkhawatirkan. Terbukti, di sepanjang tahun 2018 ini, angka kasus perceraian dini di Pengadilan Agama (PA) Mojokerto terbilang cukup tinggi.

Humas PA Mojokerto Sofyan Zefry mengatakan, di sepanjang tahun ini, perceraian dini sudah mencapai 133 kasus. Meski begitu, dia mengaku catatan tersebut turun dari tahun lalu yang mencapai 160 kasus.

Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa upaya mencegah kasus perceraian di usia dini (20 tahun ke bawah) belum sepenuhnya optimal. ”Dalam mengikis kasus percerain dini, memang harus dilakukan oleh semua elemen,’’ katanya, Jumat (21/12).

Baca Juga :  Desak Kejari Turun Tangan

Dia menyebutkan, banyak faktor yang memengaruhi maraknya kasus percerain dini. Salah satu pemicu tertinggi adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). ”KDRT itu ada dua. Kekerasan fisik dan kekerasan ekonomi,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Zefry menegaskan, kekerasan fisik lebih diakibatkan kerena pihak laki-laki belum sepenuhnya bisa berpikir dewasa. Kedua, terjadinya kekerasan ekonomi atau menelantarkan. Akibat kedua belah pihak belum berpikir baik bagaimana membangun rumah tangga harmonis.

”Kalau laki-lakinya masih umur 19 tahun, dan perempuannya 16 tahun, itu kan masih masa-masa bermain. Yang jelas, untuk berpikir bekerja saja pasti malas,’’ paparnya. Zefry menambahkan, pemicu lainnya juga akibat belum matangnya usia masing-masing pasangan.

”Kebanyakan anak-anak yang nikah usia muda itu dipaksa orang tuanya,’’ ucapnya. Untuk itu, dia berharap, angka kasus percerain dan pernikahan dini dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Baca Juga :  Sukses Salurkan BPNT, BNI Dorong Realisasi Pencairan

Salah satunya dengan melalui keseriusan orang tua agar lebih berpikir jangka panjang, serta dampak positif sebelum menikahkan putra-putrinya di usia dini. Selain itu, tokoh agama juga sangat berperan penting memberikan arahan di setiap lingkungan masing-masing.

”Dengan begitu, ke depannya, semoga kasus percerian dini ini terus berkurang,’’ pungkasnya. (ras)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/