alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Peminat Daging Turun

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Stabilnya harga daging saat ini, diiringi dengan menurunnya omzet pedagang pasar tradisional. Harga daging sapi di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto masih stabil di kisaran Rp 100 ribu per kilogram (kg) Rabu (21/10). Namun, omzet pedagang malah anjlok hingga 50 persen.

Achmad Lutfi, salah satu pedagang daging menyatakan, harga daging sapi tergantung kualitasnya. Untuk daging super Rp 120 ribu per kg, daging rawisan atau kualitas nomor dua Rp 100 ribu per kg, dan daging rawonan atau kualitas nomor tiga Rp 85 ribu per kg. Selema lima tahun terakhir harga daging masih stabil. Walaupun tengah memasuki hari besar, harganya tetap stabil.

Baca Juga :  Ratusan Buruh di Kabupaten Mojokerto Di-PHK, Akibat Pandemi Covid-19

”Meskipun Lebaran dan Idul Adha, harganya tetap stabil,” terang Lutfi. Dia menerangkan, selama masa pandemi Covid-19 omzetnya menurun hingga 50 persen. Sebelumnya, Lutfi mampu menjual hingga 3,4 kuintal daging per hari. Namun, kini dia hanya mampu menjual 1,7 kuintal daging per hari. ”Sebelum pandemi Covid-19 ini biasa motong sapi dua. Sekarang, sehari cuma satu,” jelas pedagang asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto itu. Diduga, turunnya omzet penjualan daging sapi tersebut lantaran turut sepinya pembeli makanan olahan. Layaknya bakso, soto, hingga rawon. Lutfi mengaku mayoritas pembelinya adalah pedagang masakan. Di antaranya, pedagang bakso, soto daging, hingga warung dan depot.

”Paling banyak (pembeli, Red) ya dari pedagang masakan itu. Seperti pedagang soto gitu kan kadang minta jeroannya dibanyakin,” imbuh pedagang daging sapi lokal Jawa ini. Dia menambahkan, selama ini pihaknya biasa memotong sapi dari paguyuban pemilik sapi di Mojokerto. Walaupun sapi-sapi tersebut dari seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dia menilai, sejauh ini pemilik sapi dari Surabaya, Malang, dan Mojokerto lah yang memiliki kualitas bagus.

Baca Juga :  Urai Kerumunan, Pasar Tanjung Berlakukan Ganjil-Genap

”Di Jatim, paguyuban pemilik sapi yang (mengutamakan kualitas, Red) bagus itu cuma tiga Surabaya, Malang, dan Mojokerto. Jadi saya ambilnya dari paguyuban Mojokerto sendiri,” tandasnya. (vad)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Stabilnya harga daging saat ini, diiringi dengan menurunnya omzet pedagang pasar tradisional. Harga daging sapi di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto masih stabil di kisaran Rp 100 ribu per kilogram (kg) Rabu (21/10). Namun, omzet pedagang malah anjlok hingga 50 persen.

Achmad Lutfi, salah satu pedagang daging menyatakan, harga daging sapi tergantung kualitasnya. Untuk daging super Rp 120 ribu per kg, daging rawisan atau kualitas nomor dua Rp 100 ribu per kg, dan daging rawonan atau kualitas nomor tiga Rp 85 ribu per kg. Selema lima tahun terakhir harga daging masih stabil. Walaupun tengah memasuki hari besar, harganya tetap stabil.

Baca Juga :  Preman Pasar Berulah, Peras Pedagang Hingga Jutaan Rupiah

”Meskipun Lebaran dan Idul Adha, harganya tetap stabil,” terang Lutfi. Dia menerangkan, selama masa pandemi Covid-19 omzetnya menurun hingga 50 persen. Sebelumnya, Lutfi mampu menjual hingga 3,4 kuintal daging per hari. Namun, kini dia hanya mampu menjual 1,7 kuintal daging per hari. ”Sebelum pandemi Covid-19 ini biasa motong sapi dua. Sekarang, sehari cuma satu,” jelas pedagang asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto itu. Diduga, turunnya omzet penjualan daging sapi tersebut lantaran turut sepinya pembeli makanan olahan. Layaknya bakso, soto, hingga rawon. Lutfi mengaku mayoritas pembelinya adalah pedagang masakan. Di antaranya, pedagang bakso, soto daging, hingga warung dan depot.

”Paling banyak (pembeli, Red) ya dari pedagang masakan itu. Seperti pedagang soto gitu kan kadang minta jeroannya dibanyakin,” imbuh pedagang daging sapi lokal Jawa ini. Dia menambahkan, selama ini pihaknya biasa memotong sapi dari paguyuban pemilik sapi di Mojokerto. Walaupun sapi-sapi tersebut dari seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Dia menilai, sejauh ini pemilik sapi dari Surabaya, Malang, dan Mojokerto lah yang memiliki kualitas bagus.

Baca Juga :  Ning Ita Penuhi Kelengkapan Modal Inbreng BPRS

”Di Jatim, paguyuban pemilik sapi yang (mengutamakan kualitas, Red) bagus itu cuma tiga Surabaya, Malang, dan Mojokerto. Jadi saya ambilnya dari paguyuban Mojokerto sendiri,” tandasnya. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/