Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Adit Yahya, Pebisnis Penangkaran Merak

Belajar Via Telepon, Sebulan Bisa Raup Untung Hingga Rp 20 Juta

22 September 2021, 13: 05: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Belajar Via Telepon, Sebulan Bisa Raup Untung Hingga Rp 20 Juta

LANGKA DAN DILINDUNGI: Adit Yahya bersama merak india hasil penangkarannya selama empat tahun terakhir. (FARISMA ROMAWAN/radarmojokerto.id)

Share this      

Mengubah hobi menjadi pekerjaan, tentu menyenangkan. Pun demikian dengan Adit Yahya. Kecintaannya terhadap hewan langka dan eksotis, kini menjadi pekerjaan yang ditelateninya. Hobinya itu, kini menghasilkan pundi-pundi rupiah hingga puluhan juta.

FARISMA ROMAWAN, Gedeg, Jawa Pos Radar Mojokerto

Waktu Adit Yahya, 23, lebih banyak dihabiskan di kandang berukuran 12x25 meter. Di samping rumahnya, di Desa Bandung, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, ia rutin membersihkan 8 kandang besar dan 4 kandang kecil.

Baca juga: Dukung Generasi Muda Menjadi Game Changer di Era Digital

Kemudian, disusul pemberian pakan burung berupa konsentrat yang dicampur buah segar dan sayuran sebagai extra fooding. Setelah itu, baru mengais sisa-sisa bulu burung yang rontok untuk dikumpulkan dan dibersihkan sebelum dijual.

Sebuah kegiatan rutin yang tak beda jauh dengan bisnis peternakan unggas pada umumnya.  Bedanya, bisnis penangkarannya memiliki keunikan dan penanganan khusus. Karena, burung di penangkarannya, yakni Merak hijau (Pavo Muticus) dan Merak India (Pavo Cristatus) menjadi konsentrasi utamanya.

Pilihan burung merak tak lepas dari sifat burung itu sendiri yang memiliki bulu eksotis serta langka. Sangat indah dipandang namun sulit untuk dipelihara. Sifat itulah yang menantang dirinya untuk bisa membudidayakan unggas dari familia ayam hutan (pheasant) ini hingga menjadi sebuah bisnis penangkaran di rumah bernama AY Farm.

’’Awalnya, tahun 2016 atau masih SMA, saya sudah suka burung yang langka dan eksotis. Tapi ternyata hewan langka dan eksotis itu dilindungi,’’ terang Yahya.

Dari kecintaannya itu, bungsu dari 4 bersaudara ini pun mencari tahu tentang tata cara beternak merak. Bertemulah dengan sebuah penangkaran merak hijau asal Madiun yang dikelola Mbah Surat Wiyoto.

Yahya lalu meminta belajar menangkar ke Mbah Surat meski hanya lewat sambungan telepon. Dari situ, baru tahun 2017 ia nekat membeli sepasang merak india seharga Rp 35 juta untuk dikembangbiakkan. ’’Khususnya merak hijau ini yang paling diminati di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Nah, kita kan punya plasma Nutfahnya, mengapa kok tidak dikembangkan. Di sisi lain, kita kan juga punya seni yang mengandalkan bulu merak hijau, yakni Reog Ponorogo,’’ tandasnya.

Dua tahun berjalan, upaya Yahya membuahkan berhasil. Seratusan ekor merak biru berhasil ia ternak dan dijual ke sejumlah penikmat dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Dari penjualannya itu, Yahya bisa meraup untung bersih sebesar Rp 10-20 juta perbulan.

Untuk satu ekor merak biru, ia biasa mematok harga Rp 3,5 juta untuk ukuran anakan, dan Rp 17 juta untuk jantan dewasa. Sementara, merak hijau, nominalnya justru lebih tinggi lagi. Yakni Rp 35 juta untuk kategori jantan remaja, hingga Rp 65 juta untuk jantan dewasa. ’’Merak hijau lebih mahal karena keberadaannya sangat langka sekali dan di alam jumlahnya sudah sangat sedikit. Jumlah penangkarnya pun juga minim dan produktivitas telurnya juga sangat rendah. Dalam setahun mungkin hanya 2 sampai 4 ekor saja yang berhasil dikembangbiakkan dari satu betina,’’ tambahnya.

Dari bisnisnya itu, sarjana manajemen ini sudah bisa mewujudkan satu unit mobil dan sebidang tanah sebagai calon tempat tinggalnya nanti. Yahya juga berhasrat mengembangkan bisnis penangkarannya lebih besar lagi. Tentunya dengan menaati aturan penangkaran yang ditetapkan pemerintah.

Hasrat tersebut tak lepas dari banyaknya peminat burung merak sebagai hewan peliharaan. ’’Di luar negeri, banyak peminatnya. Bahkan mereka rela membeli dengan harga jual sampai ratusan juta perekor merak hijau. Tapi memang aturan penangkaran dan penjualan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) sangat ketat dan harus dipenuhi. Utamanya izin edar penjualan hewan dilindungi yang minimal harus berbentuk CV sebelum bisa mengirim hewan ke luar negeri,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ron/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia