alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Menjadi Content Writer di Platform Digital

Hampir semua orang memiliki kemampuan menulis. Keberadaan media sosial (medsos) seperti Twitter, Facebook, atau Instagram, turut mendukung keseriusan content writer dalam menuangkan isi pikirannya sebebas mungkin. Bak writer sungguhan, content writer berlomba-loma menampilkan isi tulisan semenarik mungkin demi mendapat appreciate netizen lewat like atau comment sebagai puncak sensasinya.

 Namun, menggeluti hobi menulis dalam platform digital tidak sekadar menuangkan ide semaunya layaknya update status atau story medsos. Butuh alur dan konsep cerita yang menarik sebelum mem-posting di blog ataupun platform writer digital lainnya. Bahkan, beberapa platform kini menyediakan monetisasi sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas karya terbaik yang disuguhkan.

Seperti yang tengah digeluti Rizki Normalinda Saputri, yang aktif menulis sejak tahun 2015. Menggunakan platform Wattpad, Kiki sapaan akrabnya telah menerbitkan tiga novel bergenre fanfiction. Dengan judul Touch Me Then Marry Me, I Hear Your Eyes (The End) dan Magnolia Kiss. Mengambil tema-tema idol Korea, Kiki mencoba menerobos content digital lewat karya fiksi.

Baca Juga :  Jeep Willys Sapa Pengunjung Mal

’’Kadang tulisan di Wattpad itu sebagai curhatan yang benar-benar dikonsep seperti zaman dulu ketika menulis di buku Diari. Kalau nulis di medsos itu mungkin cuman status mengeluh, happy, dan lainnya. Beda rasanya,’’ terangnya.

Gadis 27 tahun ini mengakui, platform digital memang menjadi media alternatif bagi content writer yang karyanya kurang bisa diterima oleh penerbit media cetak.

Bahkan, tidak terlalu dipermasalahkan jika karya tulisnya kurang diapreasi pembaca lain. Bagi mereka, asalkan bisa terbit dalam media apa pun sudah menjadi kepuasan tersendiri. ’’Jadi ketika novel, puisi atau karyanya ditolak penerbit, kan kadang insecure (gelisah, tidak percaya diri). Tapi gara-gara wattpad, paling tidak karya dia bisa di-publish dan dibaca orang,’’ tambah gadis asal Kelurahan/Kecamatan Magersari ini.

Baca Juga :  Pemandian Zaman Majapahit, Jadi Kearifan Lokal

Hal yang sama juga diungkapkan Eny Martha, koordinator komunitas penulis kreatif (KPKers) Mojokerto. Sebagai penulis lepas, karya-karya komunitasnya memang tidak selalu diterima editor penerbit buku maupun media cetak dengan berbagai macam alasan dan sebab. Sehingga butuh cara alternatif untuk bisa mempertahankan mood menulis. Nah, platform digital dianggap cukup memberikan ruang bagi mereka dalam mengembangkan bakat.

Sehingga kreativitas dan bakat menulis dan tetap bisa terjaga untuk menjadi lebih baik lagi dan diterima secara umum. ’’Sebenarnya platform apa pun bisa dijadikan media dalam mem-publish karya tulis kita. Cuman memang kita harus pandai untuk mempertahankan mood ketika karya tidak diterima editor. Makanya, kami butuh media alternatif lain hanya sekadar mem-publish saja,’’ tandasnya.

Hampir semua orang memiliki kemampuan menulis. Keberadaan media sosial (medsos) seperti Twitter, Facebook, atau Instagram, turut mendukung keseriusan content writer dalam menuangkan isi pikirannya sebebas mungkin. Bak writer sungguhan, content writer berlomba-loma menampilkan isi tulisan semenarik mungkin demi mendapat appreciate netizen lewat like atau comment sebagai puncak sensasinya.

 Namun, menggeluti hobi menulis dalam platform digital tidak sekadar menuangkan ide semaunya layaknya update status atau story medsos. Butuh alur dan konsep cerita yang menarik sebelum mem-posting di blog ataupun platform writer digital lainnya. Bahkan, beberapa platform kini menyediakan monetisasi sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas karya terbaik yang disuguhkan.

Seperti yang tengah digeluti Rizki Normalinda Saputri, yang aktif menulis sejak tahun 2015. Menggunakan platform Wattpad, Kiki sapaan akrabnya telah menerbitkan tiga novel bergenre fanfiction. Dengan judul Touch Me Then Marry Me, I Hear Your Eyes (The End) dan Magnolia Kiss. Mengambil tema-tema idol Korea, Kiki mencoba menerobos content digital lewat karya fiksi.

Baca Juga :  Jelang PPKM, Tempat Umum Mulai Sepi

’’Kadang tulisan di Wattpad itu sebagai curhatan yang benar-benar dikonsep seperti zaman dulu ketika menulis di buku Diari. Kalau nulis di medsos itu mungkin cuman status mengeluh, happy, dan lainnya. Beda rasanya,’’ terangnya.

Gadis 27 tahun ini mengakui, platform digital memang menjadi media alternatif bagi content writer yang karyanya kurang bisa diterima oleh penerbit media cetak.

Bahkan, tidak terlalu dipermasalahkan jika karya tulisnya kurang diapreasi pembaca lain. Bagi mereka, asalkan bisa terbit dalam media apa pun sudah menjadi kepuasan tersendiri. ’’Jadi ketika novel, puisi atau karyanya ditolak penerbit, kan kadang insecure (gelisah, tidak percaya diri). Tapi gara-gara wattpad, paling tidak karya dia bisa di-publish dan dibaca orang,’’ tambah gadis asal Kelurahan/Kecamatan Magersari ini.

Baca Juga :  Jeep Willys Sapa Pengunjung Mal
- Advertisement -

Hal yang sama juga diungkapkan Eny Martha, koordinator komunitas penulis kreatif (KPKers) Mojokerto. Sebagai penulis lepas, karya-karya komunitasnya memang tidak selalu diterima editor penerbit buku maupun media cetak dengan berbagai macam alasan dan sebab. Sehingga butuh cara alternatif untuk bisa mempertahankan mood menulis. Nah, platform digital dianggap cukup memberikan ruang bagi mereka dalam mengembangkan bakat.

Sehingga kreativitas dan bakat menulis dan tetap bisa terjaga untuk menjadi lebih baik lagi dan diterima secara umum. ’’Sebenarnya platform apa pun bisa dijadikan media dalam mem-publish karya tulis kita. Cuman memang kita harus pandai untuk mempertahankan mood ketika karya tidak diterima editor. Makanya, kami butuh media alternatif lain hanya sekadar mem-publish saja,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/