alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, June 25, 2022

Ludruk Kembali Manggung

Geliat Kesenian Tradisi Pasca PPKM Level 1

Bisa dibilang, saat ini pelaku seni pagelaran baru beranjak dari tidur panjangnya. Betapa tidak, sejak Mojokerto Raya menginjak PPKM level satu yang dibarengi kebijakan pelonggaran pembatasan beberapa pekan terakhir, mereka baru bisa manggung lagi.

SEPERTI yang dialami Ludruk Karya Budaya asal Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Komunitas ludruk yang berdiri sejak 1969 itu seolah mendapat angin segar sejak Mojokerto Raya menginjak PPKM level satu belakangan ini.

Dengan begitu tidak ada pembatasan baik dalam mekanisme penyelenggaraan hingga jumlah penonton. ’’Tapi sekarang ini nggak bisa dikatakan normal. Beberapa daerah masih belum mengizinkan (seni) pementasan secara legal. Oleh pemangku kepentingan itu diculno ndas e, digoceki buntute,’’ ujar Eko Edy Susanto, bestir Ludruk Karya Budaya.

Hal tersebut lantaran sejumlah daerah masih belum menginjak PPKM Level satu. Padahal, komunitas seni pagelaran tidak hanya bergantung pada hajatan di dalam kota saja. Meski begitu, setidaknya belakangan ini seni pementasan mulai kembali bergeliat. ’’Sekarang sebulan rata-rata empat pentas. Mulai mendingan-lah, walaupun belum seperti dulu,’’ sebut pria yang akrab disapa Cak Edy Karya.

Baca Juga :  Pentas Ludruk Putra Sang Fajar Puncaki Event Bulan Bung Karno

Dikatakannya, untuk manggung di luar daerah, baru wilayah Gresik yang kerap disambangi. Jumlah job manggung dalam sebulan itu pun masih jauh jika dibandingkan saat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Sebelum pandemi, setidaknya dalam sebulan Edy bisa 15 kali menggelar ludruk di sejumlah daerah. Baik pementasan di wilayah Mojokerto, Gresik, Surabaya, Madiun, hingga Jakarta.

’’Ya, semoga dengan adanya pelonggaran memakai masker yang disampaikan Presiden itu bisa membuat satgas lebih melonggarkan lagi kebijakan terkait pentas seni. Karena pandemi ini yang paling terdampak ya seniman,’’ ungkap pria 67 tahun itu.

Itu bukan isapan jempol belaka. Lantaran selama dua tahun pandemi melanda orderan pementasan ludruk pun anjlok. Yang sebelumnya 15 kali pentas dalam sebulan, saat itu menjadi 15 kali manggung dalam setahun. ’’Itu pun pentasnya virtual, live streaming dari YouTube,’’ ucapnya.

Minimnya jadwal manggung, saat itu, membuat 70 anggota ludruk Karya Budaya kelimpungan. Utamanya soal pendapatan. Otomatis pemasukan para pelaku seni ludruk itu pun semakin menurun. ’’Sekarang kalau honor mereka sekali manggung sekitar Rp 200 ribu-Rp 300 ribu, apa cukup buat kebutuhan sehari-hari?,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Anggota Meninggal, Dewan Daring

Tak pelak, sekitar 50 anggotanya pun harus banting setir agar dapur tetap mengepul. Pekerjaan sampingan pelaku seni tradisional ini pun beragam. Mulai dari usaha toko kelontong, salon, pedagang gorengan, hingga mi ayam.

’’Memang kami anjurkan supaya anggota-anggota kita ini buka usaha sendiri selain hasil dari ludruk. Karena ludruk sendiri nggak iso dijagakno,’’ ucap Edy. Dengan begitu, sejumlah pelaku seni khas Jawa Timur-an tersebut bisa bertahan di tengah terpaan pandemi. Sehingga mereka tidak ada yang mutung dari komunitas.

Sebab, menurut Edy, dibalik sejumlah dampak adanya pandemi Covid-19 terdapat hikmah yang membuat pelaku seni semakin kuat. ’’Setiap hal ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya, pendapatan kita berkurang karena aktivitas seni juga berkurang. Bahkan, karena minimnya pentas kemampuannya (saat tampil) sampai ada yang menurun untuk kembali diasah lagi. Kelebihannya, pandemi ini membuat kita terus belajar dan tirakat,’’ tandas pria empat anak itu. (vad/fen)

Geliat Kesenian Tradisi Pasca PPKM Level 1

Bisa dibilang, saat ini pelaku seni pagelaran baru beranjak dari tidur panjangnya. Betapa tidak, sejak Mojokerto Raya menginjak PPKM level satu yang dibarengi kebijakan pelonggaran pembatasan beberapa pekan terakhir, mereka baru bisa manggung lagi.

SEPERTI yang dialami Ludruk Karya Budaya asal Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Komunitas ludruk yang berdiri sejak 1969 itu seolah mendapat angin segar sejak Mojokerto Raya menginjak PPKM level satu belakangan ini.

Dengan begitu tidak ada pembatasan baik dalam mekanisme penyelenggaraan hingga jumlah penonton. ’’Tapi sekarang ini nggak bisa dikatakan normal. Beberapa daerah masih belum mengizinkan (seni) pementasan secara legal. Oleh pemangku kepentingan itu diculno ndas e, digoceki buntute,’’ ujar Eko Edy Susanto, bestir Ludruk Karya Budaya.

Hal tersebut lantaran sejumlah daerah masih belum menginjak PPKM Level satu. Padahal, komunitas seni pagelaran tidak hanya bergantung pada hajatan di dalam kota saja. Meski begitu, setidaknya belakangan ini seni pementasan mulai kembali bergeliat. ’’Sekarang sebulan rata-rata empat pentas. Mulai mendingan-lah, walaupun belum seperti dulu,’’ sebut pria yang akrab disapa Cak Edy Karya.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster Belum Dimulai

Dikatakannya, untuk manggung di luar daerah, baru wilayah Gresik yang kerap disambangi. Jumlah job manggung dalam sebulan itu pun masih jauh jika dibandingkan saat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Sebelum pandemi, setidaknya dalam sebulan Edy bisa 15 kali menggelar ludruk di sejumlah daerah. Baik pementasan di wilayah Mojokerto, Gresik, Surabaya, Madiun, hingga Jakarta.

- Advertisement -

’’Ya, semoga dengan adanya pelonggaran memakai masker yang disampaikan Presiden itu bisa membuat satgas lebih melonggarkan lagi kebijakan terkait pentas seni. Karena pandemi ini yang paling terdampak ya seniman,’’ ungkap pria 67 tahun itu.

Itu bukan isapan jempol belaka. Lantaran selama dua tahun pandemi melanda orderan pementasan ludruk pun anjlok. Yang sebelumnya 15 kali pentas dalam sebulan, saat itu menjadi 15 kali manggung dalam setahun. ’’Itu pun pentasnya virtual, live streaming dari YouTube,’’ ucapnya.

Minimnya jadwal manggung, saat itu, membuat 70 anggota ludruk Karya Budaya kelimpungan. Utamanya soal pendapatan. Otomatis pemasukan para pelaku seni ludruk itu pun semakin menurun. ’’Sekarang kalau honor mereka sekali manggung sekitar Rp 200 ribu-Rp 300 ribu, apa cukup buat kebutuhan sehari-hari?,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kain Seragam SMPN di Bawah Standar

Tak pelak, sekitar 50 anggotanya pun harus banting setir agar dapur tetap mengepul. Pekerjaan sampingan pelaku seni tradisional ini pun beragam. Mulai dari usaha toko kelontong, salon, pedagang gorengan, hingga mi ayam.

’’Memang kami anjurkan supaya anggota-anggota kita ini buka usaha sendiri selain hasil dari ludruk. Karena ludruk sendiri nggak iso dijagakno,’’ ucap Edy. Dengan begitu, sejumlah pelaku seni khas Jawa Timur-an tersebut bisa bertahan di tengah terpaan pandemi. Sehingga mereka tidak ada yang mutung dari komunitas.

Sebab, menurut Edy, dibalik sejumlah dampak adanya pandemi Covid-19 terdapat hikmah yang membuat pelaku seni semakin kuat. ’’Setiap hal ada kelebihan dan kekurangannya. Kekurangannya, pendapatan kita berkurang karena aktivitas seni juga berkurang. Bahkan, karena minimnya pentas kemampuannya (saat tampil) sampai ada yang menurun untuk kembali diasah lagi. Kelebihannya, pandemi ini membuat kita terus belajar dan tirakat,’’ tandas pria empat anak itu. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/