alexametrics
24.2 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Pengadaan Rubuha untuk Perangi Hama Tikus, Disperta Terganjal Anggaran

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Keberadaan burung hantu dinilai efektif membantu petani membasmi hama tikus di persawahan. Meski begitu, manfaat keberadaan populasi burung predator itu belum dioptimalkan Pemerintah daerah (Pemda) Mojokerto. Pasalnya, masih belum ada program khusus terkait sarana penunjang populasi burung hantu tersebut, yakni berupa rumah burung hantu (rubuha).

Desa Wunut Kecamatan Mojoanyar seakan menjadi pionir rubuha di Kabupaten Mojokerto. Pasalnya, di sana sudah terpasang 9 kandang kayu yang disanggah tiang besi setinggi 5 meter itu sejak tiga tahun terakhir. ”Ini sudah lebih dari tiga tahun. Total ada 9 rubuha di Desa Wunut. Setiap dusun ada dua rubuha. Di Dusun Wunut saja yang ada tiga,” ujar Jumain, 60, petani di Dusun/Desa Wunut.

Itu karena para petani memanfaatkan populasi burung hantu untuk memburu hama tikus. Salah satunya dengan memfasilitasi rubuha di atas areal persawahan. Langkah ni dinilai efektif lantaran secara alamiah burung hantu adalah predator tikus dalam rantai makanan. ’’Ya sangat efektif. Dulu sempat tikusnya banyak, besok paginya gitu sudah ndak ada. Jadi kalau ada burung hantu ini kami terbantu,” sebutnya.

Baca Juga :  Perbaikan Jembatan Talunbrak Gagal

Ditambahkannya, jelang malam, para burung hantu mulai menempati rubuha tersebut untuk memburu tikus di sekitarnya. ”Itu burung hantu liar semua, bukan peliharaan. Jadi kalau sudah magrib gitu, (burung hantu) sudah mulai berdatangan. Satu kandang (rubuha) itu untuk dua burung, kadang itu juga penuh terus keliweran di sekitar sini,” imbuhnya.

Diterangkannya, pengadaan rubuha tersebut bukan program pemerintah daerah. Melainkan program dan inovasi pemerintahan desa. ”Itu sejak kepala desa sebelumnya. Mungkin karena manfaatnya itu akhirnya dibuatkan ini. Semestinya desa lain harus ada rubuha juga, karena sedikit banyak ini membatu lah,” ungkapnya.

Menurut Jumain, baru Desa Wunut yang terpasang rubuha lantaran itu bukan hasil dari program masal. ”Mungkin sejauh ini masih di sini aja yang ada rubuhanya. Di (Desa) Sadartengah saja nggak ada,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko membenarkan begitu vitalnya peran burung hantu dalam membasmi hama tikus. Sehingga, sarana penunjang keberadaan burung predator tersebut perlu dioptimalkan. Terutama di areal persawahan.  ”Dalam berbagai kesempatan, sudah saya sampaikan kalau burung hantu sangat efektif menanggulangi hama tikus. Karena mereka sendiri punya insting sangat tajam untuk memburu keberadaan tikus,” ujarnya.

Baca Juga :  Korban Kecelakaan Lalu Lintas Sulit Temukan RS

Meski begitu, Teguh mengakui, sejauh ini masih belum ada program khusus guna mengadakan rubuha tersebut. ”Karena Pemda masih belum punya anggaran ke sana. Sebaiknya itu ada swadaya. Mungkin dari kelompok tani yang punya kas atau dari pemerintah desa yang punya inisiatif, ya monggo,” katanya.

Ke depannya, Disperta bakal tetap berupaya mengadakan program yang sebelumnya tak terealisasi itu. ” Nanti kami usulkan lagi. Karena tahun lalu sudah kami usulkan tapi masih belum ada eksekusi. Mungkin karena masih recofusing Covid-19 ya. Insyaallah nanti di perubahan anggaran keuangan (PAK) atau tahun anggaran baru kami usulkan lagi,” ungkapnya.

Ditambahkannya, sejumlah kelompok tani di 11 kecamatan di Kabupaten Mojokerto baru saja mendapatkan bantuan 53 rubuha. Di antaranya, Kecamatan Jetis, Dawarblandong, dan Trowulan. Itu merupakan hasil Corporate Social Responsibility (CSR) dari PTPN X PG Gempolkrep. ”Tanggal 7 April lalu bantuan rubuha itu sudah disalurkan secara simbolis. Itu juga diberikan bantuan sepasang burung hantu untuk setiap rubuhanya,” tukasnya. (vad)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Keberadaan burung hantu dinilai efektif membantu petani membasmi hama tikus di persawahan. Meski begitu, manfaat keberadaan populasi burung predator itu belum dioptimalkan Pemerintah daerah (Pemda) Mojokerto. Pasalnya, masih belum ada program khusus terkait sarana penunjang populasi burung hantu tersebut, yakni berupa rumah burung hantu (rubuha).

Desa Wunut Kecamatan Mojoanyar seakan menjadi pionir rubuha di Kabupaten Mojokerto. Pasalnya, di sana sudah terpasang 9 kandang kayu yang disanggah tiang besi setinggi 5 meter itu sejak tiga tahun terakhir. ”Ini sudah lebih dari tiga tahun. Total ada 9 rubuha di Desa Wunut. Setiap dusun ada dua rubuha. Di Dusun Wunut saja yang ada tiga,” ujar Jumain, 60, petani di Dusun/Desa Wunut.

Itu karena para petani memanfaatkan populasi burung hantu untuk memburu hama tikus. Salah satunya dengan memfasilitasi rubuha di atas areal persawahan. Langkah ni dinilai efektif lantaran secara alamiah burung hantu adalah predator tikus dalam rantai makanan. ’’Ya sangat efektif. Dulu sempat tikusnya banyak, besok paginya gitu sudah ndak ada. Jadi kalau ada burung hantu ini kami terbantu,” sebutnya.

Baca Juga :  Puncak Mudik Diprediksi Hari Ini

Ditambahkannya, jelang malam, para burung hantu mulai menempati rubuha tersebut untuk memburu tikus di sekitarnya. ”Itu burung hantu liar semua, bukan peliharaan. Jadi kalau sudah magrib gitu, (burung hantu) sudah mulai berdatangan. Satu kandang (rubuha) itu untuk dua burung, kadang itu juga penuh terus keliweran di sekitar sini,” imbuhnya.

Diterangkannya, pengadaan rubuha tersebut bukan program pemerintah daerah. Melainkan program dan inovasi pemerintahan desa. ”Itu sejak kepala desa sebelumnya. Mungkin karena manfaatnya itu akhirnya dibuatkan ini. Semestinya desa lain harus ada rubuha juga, karena sedikit banyak ini membatu lah,” ungkapnya.

Menurut Jumain, baru Desa Wunut yang terpasang rubuha lantaran itu bukan hasil dari program masal. ”Mungkin sejauh ini masih di sini aja yang ada rubuhanya. Di (Desa) Sadartengah saja nggak ada,” tandasnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko membenarkan begitu vitalnya peran burung hantu dalam membasmi hama tikus. Sehingga, sarana penunjang keberadaan burung predator tersebut perlu dioptimalkan. Terutama di areal persawahan.  ”Dalam berbagai kesempatan, sudah saya sampaikan kalau burung hantu sangat efektif menanggulangi hama tikus. Karena mereka sendiri punya insting sangat tajam untuk memburu keberadaan tikus,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Pantau Vaksinasi Covid-19 Kecamatan Pacet dan Dlanggu

Meski begitu, Teguh mengakui, sejauh ini masih belum ada program khusus guna mengadakan rubuha tersebut. ”Karena Pemda masih belum punya anggaran ke sana. Sebaiknya itu ada swadaya. Mungkin dari kelompok tani yang punya kas atau dari pemerintah desa yang punya inisiatif, ya monggo,” katanya.

Ke depannya, Disperta bakal tetap berupaya mengadakan program yang sebelumnya tak terealisasi itu. ” Nanti kami usulkan lagi. Karena tahun lalu sudah kami usulkan tapi masih belum ada eksekusi. Mungkin karena masih recofusing Covid-19 ya. Insyaallah nanti di perubahan anggaran keuangan (PAK) atau tahun anggaran baru kami usulkan lagi,” ungkapnya.

Ditambahkannya, sejumlah kelompok tani di 11 kecamatan di Kabupaten Mojokerto baru saja mendapatkan bantuan 53 rubuha. Di antaranya, Kecamatan Jetis, Dawarblandong, dan Trowulan. Itu merupakan hasil Corporate Social Responsibility (CSR) dari PTPN X PG Gempolkrep. ”Tanggal 7 April lalu bantuan rubuha itu sudah disalurkan secara simbolis. Itu juga diberikan bantuan sepasang burung hantu untuk setiap rubuhanya,” tukasnya. (vad)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/