alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Bupati Sikapi Polemik TPA Karangdiyeng

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bupati Ikfina Fahmawati mulai menyikapi polemik yang menyelimuti TPA Edukasi di Dusun Jurangsari, Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo. Hari ini, bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto itu bakal turun ke lokasi.

’’Besok (hari ini), kita Forkopimda rencana bakal melakukan buka bersama di sana bersama warga,’’ ungkap Bupati Ikfina ditemui di kantornya, Rabu (21/4).

Kehadirannya tersebut menjadi kesempatannya bisa mendengarkan langsung aspirasi warganya. Sekaligus mengetahui akar persoalan yang terjadi selama ini. ’’Ini momen dan kesempatan saya bisa mendengarkan aspirasi mereka,’’ tambahnya.

Ikfina menyebut, masih ada harapan bagi pemerintah dan warga untuk menyelesaikan polemik ini dengan cara kekeluargaan. Pendekatan persuasif pun terus dilakukan. Sebab, keberadaan TPA yang pembangunannya menelan anggaran Rp 4,2 miliar itu sudah melalui proses kajian panjang secara aturan. ’’Jangan sampai (tindakan represif) itu terjadi. Saya yakin mereka juga tidak seperti itu. Bagaimana pun mereka warga kita,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Pembesuk Lapas Bakal Dibatasi

Pihaknya menduga penolakan yang dilakukan warga tak mutlak persoalan keberadaan TPA, tetapi ada harapan-harapan warga yang dimungkinkan belum tersampaikan. ’’Itu yang kita harapkan bisa muncul dalam pertemuan besok (hari ini),’’ ujarnya.

Meski belum tahu secara detail konsep TPA yang ada, Ikfina menegaskan, jika TPA Edukasi Karangdiyeng ini didesain lebih modern. TPA yang jauh dari kesan kumuh dan bau. Sehingga ini menjadi proyek besar pemerintah untuk membuktikan pada masyarakat, jika TPA itu bisa menjadi sumber perekonomian warga hingga potensi wisata. ’’Mungkin itu yang tidak mereka ngerti saja. Bayangannya ya sebatas kalau TPA itu sampah menumpuk, bau, dan sumber penyakit. Padahal tidak. Itu yang perlu kita pahamkan,’’ urainya.

Baca Juga :  Tim Gugus Sisir Bank dan Salon

Sebelumnya, upaya duduk bareng dengan warga yang dilakukan DLH terkait polemik TPA Edukasi di Dusun Jurangsari, Desa Karangdiyeng, menemui jalan buntu. Warga sekitar tetap menolak dan tidak meminta kompensasi apa-apa. Pemerintah setempat terus berusaha melakukan pendekatan. Meskipun sejauh ini keputusan warga masih bulat menolak. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Bupati Ikfina Fahmawati mulai menyikapi polemik yang menyelimuti TPA Edukasi di Dusun Jurangsari, Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo. Hari ini, bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto itu bakal turun ke lokasi.

’’Besok (hari ini), kita Forkopimda rencana bakal melakukan buka bersama di sana bersama warga,’’ ungkap Bupati Ikfina ditemui di kantornya, Rabu (21/4).

Kehadirannya tersebut menjadi kesempatannya bisa mendengarkan langsung aspirasi warganya. Sekaligus mengetahui akar persoalan yang terjadi selama ini. ’’Ini momen dan kesempatan saya bisa mendengarkan aspirasi mereka,’’ tambahnya.

Ikfina menyebut, masih ada harapan bagi pemerintah dan warga untuk menyelesaikan polemik ini dengan cara kekeluargaan. Pendekatan persuasif pun terus dilakukan. Sebab, keberadaan TPA yang pembangunannya menelan anggaran Rp 4,2 miliar itu sudah melalui proses kajian panjang secara aturan. ’’Jangan sampai (tindakan represif) itu terjadi. Saya yakin mereka juga tidak seperti itu. Bagaimana pun mereka warga kita,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Jembatan Putus, Siswa dan Warga Terpaksa Memutar

Pihaknya menduga penolakan yang dilakukan warga tak mutlak persoalan keberadaan TPA, tetapi ada harapan-harapan warga yang dimungkinkan belum tersampaikan. ’’Itu yang kita harapkan bisa muncul dalam pertemuan besok (hari ini),’’ ujarnya.

Meski belum tahu secara detail konsep TPA yang ada, Ikfina menegaskan, jika TPA Edukasi Karangdiyeng ini didesain lebih modern. TPA yang jauh dari kesan kumuh dan bau. Sehingga ini menjadi proyek besar pemerintah untuk membuktikan pada masyarakat, jika TPA itu bisa menjadi sumber perekonomian warga hingga potensi wisata. ’’Mungkin itu yang tidak mereka ngerti saja. Bayangannya ya sebatas kalau TPA itu sampah menumpuk, bau, dan sumber penyakit. Padahal tidak. Itu yang perlu kita pahamkan,’’ urainya.

Baca Juga :  Bayi Itu Tewas sebelum Dibuang ke Sungai
- Advertisement -

Sebelumnya, upaya duduk bareng dengan warga yang dilakukan DLH terkait polemik TPA Edukasi di Dusun Jurangsari, Desa Karangdiyeng, menemui jalan buntu. Warga sekitar tetap menolak dan tidak meminta kompensasi apa-apa. Pemerintah setempat terus berusaha melakukan pendekatan. Meskipun sejauh ini keputusan warga masih bulat menolak. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/