alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Gagal Diperbaiki Tahun Ini

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kerusakan parah jalan poros di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, dipastikan akan berkepanjangan. Itu setelah dinas terkait belum mem-ploting perbaikan di APBD tahun ini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, hingga kini memang masih ada 12,8 persen dari total 1.041 kilometer jalan kabupaten yang masih rusak yang membutuhkan perbaikan. Termasuk di jalan poros yang menjadi penghubung Dusun Greyol dan Dusun Kwangen, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis yang tersisa kisaran 500 meter.

Hanya saja, kata dia, pembenahan ini dilakukan bertahap. ’’12,8 persen atau 133 kilometer yang butuh perbaikan, pemda membutuhkan anggaran Rp 800 miliar,’’ ungkapnya.

Dengan kemampuan anggaran pemda, perbaikan tidak bisa dilakukan seketika, melainkan diukur berdasarkan skala prioritas. Artinya, lanjut Rinaldi, jalan poros Jetis itu, selama ini belum berarti tak jadi prioritas, namun karena keterbastan dana akibat gempuran Covid-19, pemda harus melakukan refocusing di beberpa kegiatan. Termasuk dalam perbaikan di jalur tersebut. ’’Kemarin diusulkan di 2022 tapi karena keterbatasan dana akibat Covid-19 ditunda dulu. Dan, nanti akan kita usulkan di 2023,’’ katanya.

Baca Juga :  Kabar Bahagia, Pasien Sembuh Capai 135 Orang

Menurutnya, ruas jalan Jetis – Temuireng, Kecamatan Dawarblandong tidak bisa hanya pemeliharaan. Harus peningkatan jalan dengan konstruksi beton. Itu lantaran jalannya juga butuh pelebaran. ’’Semua kita usulkan. Cuma nanti-kan disamakan dengan usulan Musrenbang tiap kecamatan. Sama aspirasi masyarakat yang masuk ke kita. Dari situ muncul prioritas yang akan dibangun di tiap kecamatan,’’ papar mantan Kabag Administrasi Pembangunan Setdakab ini.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya juga bakal cek lagi ke lapangan. Termasuk, memastikan apakah ruas jalan tersebut menjadi prioritas Musrembang Kecamatan Jetis. Sebab, ada beberapa faktor lain yang berpengaruh untuk memasukkannya prioritas pembangunan. Di antaranya, kondusivitas, warga merelakan tanah untuk pelebaran, proposal, dan lain sebagainya. ’’Yang merumuskan musrenbang kan Jetis sendiri. Setiap kecamatan masih banyak yang seperti ini. Karena keterbatasan anggaran, ya satu per satu dibenahi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Ekskavasi Situs Kumitir Terganjal Anggaran

Sebelumnya, pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Mojokerto belum merata. Terbukti, sudah puluhan tahun, jalan poros di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis yang menjadi akses utama warga, rusak parah. Selama ini, warga harus berhati hati dan bersabar saat melintas. Pasalnya, jika musim kemarau, jalanan ini berdebu yang menggangu pengendara. Sebaliknya, jika musim penghujan, jalanan berlumpur.

Tak jarang, pengendara yang melintas harus berhenti saat bertemu dengan pengendara dari arah berlawanan. ’’Tidak tahu. Kok tidak dibenahi. Padahal kerusakaan parah. Kalau musim hujan seperti sekarang, banyak kubangan, baru kalau sudah sangat parah, kadang diuruk sirtu oleh pabrik. Tapi tidak bertahan lama, beberapa hari kembali rusak,’’ ungkap Rizqi salah satu warga. (ori/fen)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kerusakan parah jalan poros di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, dipastikan akan berkepanjangan. Itu setelah dinas terkait belum mem-ploting perbaikan di APBD tahun ini.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan, hingga kini memang masih ada 12,8 persen dari total 1.041 kilometer jalan kabupaten yang masih rusak yang membutuhkan perbaikan. Termasuk di jalan poros yang menjadi penghubung Dusun Greyol dan Dusun Kwangen, Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis yang tersisa kisaran 500 meter.

Hanya saja, kata dia, pembenahan ini dilakukan bertahap. ’’12,8 persen atau 133 kilometer yang butuh perbaikan, pemda membutuhkan anggaran Rp 800 miliar,’’ ungkapnya.

Dengan kemampuan anggaran pemda, perbaikan tidak bisa dilakukan seketika, melainkan diukur berdasarkan skala prioritas. Artinya, lanjut Rinaldi, jalan poros Jetis itu, selama ini belum berarti tak jadi prioritas, namun karena keterbastan dana akibat gempuran Covid-19, pemda harus melakukan refocusing di beberpa kegiatan. Termasuk dalam perbaikan di jalur tersebut. ’’Kemarin diusulkan di 2022 tapi karena keterbatasan dana akibat Covid-19 ditunda dulu. Dan, nanti akan kita usulkan di 2023,’’ katanya.

Baca Juga :  Ekskavasi Situs Kumitir Terganjal Anggaran

Menurutnya, ruas jalan Jetis – Temuireng, Kecamatan Dawarblandong tidak bisa hanya pemeliharaan. Harus peningkatan jalan dengan konstruksi beton. Itu lantaran jalannya juga butuh pelebaran. ’’Semua kita usulkan. Cuma nanti-kan disamakan dengan usulan Musrenbang tiap kecamatan. Sama aspirasi masyarakat yang masuk ke kita. Dari situ muncul prioritas yang akan dibangun di tiap kecamatan,’’ papar mantan Kabag Administrasi Pembangunan Setdakab ini.

Sebagai tindak lanjut, pihaknya juga bakal cek lagi ke lapangan. Termasuk, memastikan apakah ruas jalan tersebut menjadi prioritas Musrembang Kecamatan Jetis. Sebab, ada beberapa faktor lain yang berpengaruh untuk memasukkannya prioritas pembangunan. Di antaranya, kondusivitas, warga merelakan tanah untuk pelebaran, proposal, dan lain sebagainya. ’’Yang merumuskan musrenbang kan Jetis sendiri. Setiap kecamatan masih banyak yang seperti ini. Karena keterbatasan anggaran, ya satu per satu dibenahi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Desa Gempolkerep Kecamatan Gedeg, Dari Revitalisasi Pasar sampai Rubuha
- Advertisement -

Sebelumnya, pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Mojokerto belum merata. Terbukti, sudah puluhan tahun, jalan poros di Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis yang menjadi akses utama warga, rusak parah. Selama ini, warga harus berhati hati dan bersabar saat melintas. Pasalnya, jika musim kemarau, jalanan ini berdebu yang menggangu pengendara. Sebaliknya, jika musim penghujan, jalanan berlumpur.

Tak jarang, pengendara yang melintas harus berhenti saat bertemu dengan pengendara dari arah berlawanan. ’’Tidak tahu. Kok tidak dibenahi. Padahal kerusakaan parah. Kalau musim hujan seperti sekarang, banyak kubangan, baru kalau sudah sangat parah, kadang diuruk sirtu oleh pabrik. Tapi tidak bertahan lama, beberapa hari kembali rusak,’’ ungkap Rizqi salah satu warga. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/