alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Bukan Agama, Hanya Ajarkan Budi Pekerti

Perguruan IS masuk ke Mojokerto sekitar tahun 1950-an. Awalnya, pembelajaran dilakukan di rumah para guru. Memasuki tahun 1987, diresmikanlah gedung pamulangan di Dusun Wotgaru, Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong yang kini menjadi pusat pengajaran.

Silah Sri Suwastini menceritakan, dia telah menemui ajaran tersebut selama puluhan tahun. Dari yang awalnya sebagai penganut hingga akhirnya didapuk sebagai salah satu guru atau sesepuh perguruan di Kecamatan Dawarblandong. ”Tahun 1964 itu saya mulai ikut. Waktu itu masih kelas dua SMP,” terang perempuan 74 ini.

Perkumpulan ini memiliki badan hukum dan pendiriannya telah disahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Menurut Silah, keberadaan IS ini berada di bawah naungan dinas pendidikan. Kegiatan pembelajaran berlangsung lima kali dalam sebulan. Yakni setiap tanggal 1, 7, 17, 22, serta 26. Pemilihan tanggal itu hasil kesepakatan bersama.

Baca Juga :  Pengendalian Sampah Popok Lemah

Setiap proses pembelajaran berlangsung sekitar tiga jam. Mulai dari pukul 19.00 hingga pukul 20.00. Pembelajaran itu terdiri dari dua jenis. Yakni dunungan dan penget. Yang pertama yakni terkait dengan nilai-nilai budi luhur IS yang disampaikan oleh wakil wirid kepada para murid.

Sedangkan, yang kedua yakni pembelajaran tentang nilai tertentu. Nilai yang menjadi pedoman itu tertuang dalam satu lembar kertas berisi materi pembelajaran. ”Seperti sekolah. Kalau waktu istirahat boleh tanya. Kalau pas diterangkan tidak boleh tanya,” ujarnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu mendapat jawaban petuah yang berpegang pada nilai keluruhan. ”Kalau bertani ya jadi petani yang serius. Menanamnya yang benar supaya tanamannya bagus. Begitu juga dengan pedagang harus berperilaku baik supaya orang bersimpati,” jelas nenek delapan cucu ini.

Baca Juga :  Pekan Depan, Proyek Skywalk Dilelang

Silah menyatakan, ajaran perguruan IS ini berasal dari Kabupaten Madiun. Tepatnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Saradan. Hingga kini, IS telah tersebar di berbagai daerah di Jawa. Jumlah pengikut atau muridnya sudah mencapai sekitar enam juta orang. ”IS bukan agama. Tapi budi pekerti luhur. Pokoknyam pedomannya laku hidup ini dipraktikkan,” bebernya. (adi/ron)

Perguruan IS masuk ke Mojokerto sekitar tahun 1950-an. Awalnya, pembelajaran dilakukan di rumah para guru. Memasuki tahun 1987, diresmikanlah gedung pamulangan di Dusun Wotgaru, Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong yang kini menjadi pusat pengajaran.

Silah Sri Suwastini menceritakan, dia telah menemui ajaran tersebut selama puluhan tahun. Dari yang awalnya sebagai penganut hingga akhirnya didapuk sebagai salah satu guru atau sesepuh perguruan di Kecamatan Dawarblandong. ”Tahun 1964 itu saya mulai ikut. Waktu itu masih kelas dua SMP,” terang perempuan 74 ini.

Perkumpulan ini memiliki badan hukum dan pendiriannya telah disahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Menurut Silah, keberadaan IS ini berada di bawah naungan dinas pendidikan. Kegiatan pembelajaran berlangsung lima kali dalam sebulan. Yakni setiap tanggal 1, 7, 17, 22, serta 26. Pemilihan tanggal itu hasil kesepakatan bersama.

Baca Juga :  Biaya Sekolah dan Pondok Anak Yatim Digratiskan

Setiap proses pembelajaran berlangsung sekitar tiga jam. Mulai dari pukul 19.00 hingga pukul 20.00. Pembelajaran itu terdiri dari dua jenis. Yakni dunungan dan penget. Yang pertama yakni terkait dengan nilai-nilai budi luhur IS yang disampaikan oleh wakil wirid kepada para murid.

Sedangkan, yang kedua yakni pembelajaran tentang nilai tertentu. Nilai yang menjadi pedoman itu tertuang dalam satu lembar kertas berisi materi pembelajaran. ”Seperti sekolah. Kalau waktu istirahat boleh tanya. Kalau pas diterangkan tidak boleh tanya,” ujarnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu mendapat jawaban petuah yang berpegang pada nilai keluruhan. ”Kalau bertani ya jadi petani yang serius. Menanamnya yang benar supaya tanamannya bagus. Begitu juga dengan pedagang harus berperilaku baik supaya orang bersimpati,” jelas nenek delapan cucu ini.

Baca Juga :  Warga Bisa Cetak KK Sendiri
- Advertisement -

Silah menyatakan, ajaran perguruan IS ini berasal dari Kabupaten Madiun. Tepatnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Saradan. Hingga kini, IS telah tersebar di berbagai daerah di Jawa. Jumlah pengikut atau muridnya sudah mencapai sekitar enam juta orang. ”IS bukan agama. Tapi budi pekerti luhur. Pokoknyam pedomannya laku hidup ini dipraktikkan,” bebernya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/