alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Hasil Cetakan Dikira Produk Fotokopian

Pencetakan produk administrasi kependudukan (adminduk) semakin dipermudah. Bahkan, warga bisa mencetak sendiri menggunakan kertas HVS ukuran A4 berat 80 gram. Meski begitu, masih banyak yang mengira hasil cetakan mandiri itu mirip produk fotokopian.

KEMUDAHAN mencetak produk adminduk seperti kartu keluarga (KK), akta kelahiran/kematian, dan lainnya dilandasi Permendagri Nomor 104/2019 tentang Pendokumentasian Adminduk.

Warga bisa mencetak atau ngeprint dokumentasi adminduk secara mandiri. Dengan kertas yang biasa digunakan di tempat fotokopian atau percetakan umum.

”Sekarang sudah bisa cetak mandiri. Tapi, harus dapat notifikasi dari pemerintah pusat. Baru dikirimi password,” ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Mojokerto Bambang Wahyudi.

Ia menyebutkan, masyarakat bisa mencetak dokumen adminduk secara mandiri setelah sebelumnya memproses pencetakannya pada aplikasi besutan pemerintah pusat. Kebijakan itu membawa angin segar bagi masyarakat karena layanan pencetakan semakin mudah.

Baca Juga :  Personel Polri Masih Belum Ideal

Bahkan, tak perlu mengantre di kantor dispendukcapil lagi untuk mengambil dokumen. Program tersebut juga sejalan diterapkan di masa pandemi yang dianjurkan menjaga jarak sekaligus mengurangi layanan tatap muka.

Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Mojokerto Hadi Fatkhur Rohman mendukung kemudahan pencetakan adminduk tersebut. Hanya, perubahan layanan itu terbilang masih diketahui masyarakat perkotaan saja.

Bagi warga pedesaan, pencetakan mandiri dianggap masih asing. ”Untuk orang desa, hal itu belum banyak diketahui. Karena itu butuh banyak sosialisasi,” ujar dia. Menurut politisi PKB ini, masyarakat pedesaan yang mengetahui adanya pencetakan mandiri itu, masih terkaget-kaget.

Karena secara penampakan, dokumen yang dicetak mandiri berbeda jauh dengan cetakan lama. Yang mana kualitas kertas lebih baik dan tercetak secara manual. ”Banyak warga desa yang terkaget-kaget. Kemudian, mengira adminduk jenis itu mirip fotokopian,” terang dia.

Baca Juga :  TNI Terjun Bantu Rehab Masjid Agung Al Fattah

Berkaca dari kondisi itu, pihaknya mendorong agar sosialisasi digencarkan hingga pelosok desa dan pada pelbagai medium sosialisasi. Tujuannya, agar masyarakat luas mengetahui secara jelas dan gamblang adanya perubahan pelayanan tersebut.

”Mau tidak mau sosialisasi wajib digencarkan. Karena wilayah kabupaten itu luas,” tambah dia. Hadi menambahkan, diperlukan pula inovasi layanan adminduk. Seiring masih berlangsungnya pandemi menuntut perbaikan layanan dalam jaringan (daring) alias online.

Karena selama ini masih mengandalkan layanan lewat WhatsApp yang terbilang agak berbelit. ”Seharusnya inovasi lewat aplikasi tersendiri. Dan memiliki laman sendiri. Agar lebih mudah dan simpel,” tambah dia.  

 

Pencetakan produk administrasi kependudukan (adminduk) semakin dipermudah. Bahkan, warga bisa mencetak sendiri menggunakan kertas HVS ukuran A4 berat 80 gram. Meski begitu, masih banyak yang mengira hasil cetakan mandiri itu mirip produk fotokopian.

KEMUDAHAN mencetak produk adminduk seperti kartu keluarga (KK), akta kelahiran/kematian, dan lainnya dilandasi Permendagri Nomor 104/2019 tentang Pendokumentasian Adminduk.

Warga bisa mencetak atau ngeprint dokumentasi adminduk secara mandiri. Dengan kertas yang biasa digunakan di tempat fotokopian atau percetakan umum.

”Sekarang sudah bisa cetak mandiri. Tapi, harus dapat notifikasi dari pemerintah pusat. Baru dikirimi password,” ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Mojokerto Bambang Wahyudi.

Ia menyebutkan, masyarakat bisa mencetak dokumen adminduk secara mandiri setelah sebelumnya memproses pencetakannya pada aplikasi besutan pemerintah pusat. Kebijakan itu membawa angin segar bagi masyarakat karena layanan pencetakan semakin mudah.

Baca Juga :  RS dan Bidan Jadi Penyaring

Bahkan, tak perlu mengantre di kantor dispendukcapil lagi untuk mengambil dokumen. Program tersebut juga sejalan diterapkan di masa pandemi yang dianjurkan menjaga jarak sekaligus mengurangi layanan tatap muka.

- Advertisement -

Sekretaris Komisi I DPRD Kabupaten Mojokerto Hadi Fatkhur Rohman mendukung kemudahan pencetakan adminduk tersebut. Hanya, perubahan layanan itu terbilang masih diketahui masyarakat perkotaan saja.

Bagi warga pedesaan, pencetakan mandiri dianggap masih asing. ”Untuk orang desa, hal itu belum banyak diketahui. Karena itu butuh banyak sosialisasi,” ujar dia. Menurut politisi PKB ini, masyarakat pedesaan yang mengetahui adanya pencetakan mandiri itu, masih terkaget-kaget.

Karena secara penampakan, dokumen yang dicetak mandiri berbeda jauh dengan cetakan lama. Yang mana kualitas kertas lebih baik dan tercetak secara manual. ”Banyak warga desa yang terkaget-kaget. Kemudian, mengira adminduk jenis itu mirip fotokopian,” terang dia.

Baca Juga :  Situs Gemekan Ditaksir Zaman Mpu Sindok

Berkaca dari kondisi itu, pihaknya mendorong agar sosialisasi digencarkan hingga pelosok desa dan pada pelbagai medium sosialisasi. Tujuannya, agar masyarakat luas mengetahui secara jelas dan gamblang adanya perubahan pelayanan tersebut.

”Mau tidak mau sosialisasi wajib digencarkan. Karena wilayah kabupaten itu luas,” tambah dia. Hadi menambahkan, diperlukan pula inovasi layanan adminduk. Seiring masih berlangsungnya pandemi menuntut perbaikan layanan dalam jaringan (daring) alias online.

Karena selama ini masih mengandalkan layanan lewat WhatsApp yang terbilang agak berbelit. ”Seharusnya inovasi lewat aplikasi tersendiri. Dan memiliki laman sendiri. Agar lebih mudah dan simpel,” tambah dia.  

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/