alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Siswa Terpaksa Sekolah di Warkop

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam jaringan (daring) yang diterapkan pemerintah di tengah pandemi Covid-19 membuat orang tua dan siswa harus mencari biaya tambahan untuk membeli kuota internet. Untuk meringankan beban itu, tak jarang mereka terpaksa pergi ke warung kopi (warkop) hanya untuk bisa mendapatkan kuota internet secara gratis.

Seperti yang tampak di sejumlah warkop di kawasan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, kemarin (20/7). Sejumlah siswa SD, SMP, hingga SMA di kawasan tersebut tampak sibuk mengikuti daring di warkop. ’’Ini tadi (kemarin, Red) habis ambil buku di sekolah. Jadi sekalian mampir buat ngerjakan tugas daring,’’ ungkap Dewi, siswa SMA Islam Simongagrok kelas XI di Kecamatan Dawarblandong. Kendati bercampur dengan orang dewasa, dan terganggu kepulan asap rokok, tak membuat para siswa ini terganggu. Mereka tetap mengerjakan tugas-tugas yang sudah ditentukan sekolah. Padahal, kebisingan lalu lalang kendaraan juga terdengar cukup keras dari dalam warkop yang memang berada di pinggir jalan tersebut.

Baca Juga :  Listrik Sang Naga Menjamah Mojokerto

’’Gabut juga. Selain mengusir kejenuhan, juga menghindari penggunaan kuota yang over,’’ jelasnya.Selama daring bersama temannya, Dewi mengaku sering kali berpindah-pindah tempat untuk sekadar mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan melalui online tersebut. Tak ayal, kuota bulanan yang sebelumnya cukup untuk digunakan selama satu bulan lamanya, kini hanya bertahan dua sampai tiga minggu saja. Sehingga kebutuhan pembelian kuota internet siswa atau wali murid saat ini tekor.  ’’Daringnya tidak tiap setiap hari, biasanya dua hari sekali. Satu bulan biasanya habiskan pulsa Rp 30 ribu atau Rp 54 ribu cukup. Tapi, sekarang tidak cukup,’’ tegasnya.

Sebab, selain untuk kebutuhan medsos seperti WhatsApp, tak jarang dirinya harus download video hingga daring juga dalam sistem pembelajaran di tengah pandemi. ’’Makanya numpang wifi-nya di warkop. Harapannya, dapat kuota intenet dari pemerintah, itu pun kalau ada,’’ kata siswi mengaku anak dari seorang petani ini. Selain siswa SMA, sejumlah siswa SD sambil ditemani orang juga tampak sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka mengeluhkan kondisi sekolah saat ini yang tak bisa bertatap muka dengan guru dan teman sekelas.

Baca Juga :  Hari Ini Deadline Pendataan Nomor Ponsel Siswa

 ’’Bosan sebenarnya, tidak suka belajar seperti ini. Pinginnya seperti dulu.Bisa belajar di sekolah, lebih paham kalau dijelaskan langsung. Danbisa ketemu teman-teman juga,’’ ungkap Devina Kartika Pramodya, siswa SDN Dawarblandong.Sementara itu, pemilik warung, Umiyati, membenarkan jika sejak adanya sistem pembelajaran daring, warkop yang dibukanya mulai awal tahun lalu seringkali ramai dan menjadi jujukan siswa SD, SMP, dan SMA untuk mengerjakan tugas daring. ’’Biasanya kalau siswa SD pukul 08.00 ke sininya.Kalau yang SMP agak siangan.Yang SMA sore sampai malam,’’ ujarnya.

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam jaringan (daring) yang diterapkan pemerintah di tengah pandemi Covid-19 membuat orang tua dan siswa harus mencari biaya tambahan untuk membeli kuota internet. Untuk meringankan beban itu, tak jarang mereka terpaksa pergi ke warung kopi (warkop) hanya untuk bisa mendapatkan kuota internet secara gratis.

Seperti yang tampak di sejumlah warkop di kawasan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, kemarin (20/7). Sejumlah siswa SD, SMP, hingga SMA di kawasan tersebut tampak sibuk mengikuti daring di warkop. ’’Ini tadi (kemarin, Red) habis ambil buku di sekolah. Jadi sekalian mampir buat ngerjakan tugas daring,’’ ungkap Dewi, siswa SMA Islam Simongagrok kelas XI di Kecamatan Dawarblandong. Kendati bercampur dengan orang dewasa, dan terganggu kepulan asap rokok, tak membuat para siswa ini terganggu. Mereka tetap mengerjakan tugas-tugas yang sudah ditentukan sekolah. Padahal, kebisingan lalu lalang kendaraan juga terdengar cukup keras dari dalam warkop yang memang berada di pinggir jalan tersebut.

Baca Juga :  Uji Coba Sekolah Tatap Muka Diperpanjang

’’Gabut juga. Selain mengusir kejenuhan, juga menghindari penggunaan kuota yang over,’’ jelasnya.Selama daring bersama temannya, Dewi mengaku sering kali berpindah-pindah tempat untuk sekadar mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan melalui online tersebut. Tak ayal, kuota bulanan yang sebelumnya cukup untuk digunakan selama satu bulan lamanya, kini hanya bertahan dua sampai tiga minggu saja. Sehingga kebutuhan pembelian kuota internet siswa atau wali murid saat ini tekor.  ’’Daringnya tidak tiap setiap hari, biasanya dua hari sekali. Satu bulan biasanya habiskan pulsa Rp 30 ribu atau Rp 54 ribu cukup. Tapi, sekarang tidak cukup,’’ tegasnya.

Sebab, selain untuk kebutuhan medsos seperti WhatsApp, tak jarang dirinya harus download video hingga daring juga dalam sistem pembelajaran di tengah pandemi. ’’Makanya numpang wifi-nya di warkop. Harapannya, dapat kuota intenet dari pemerintah, itu pun kalau ada,’’ kata siswi mengaku anak dari seorang petani ini. Selain siswa SMA, sejumlah siswa SD sambil ditemani orang juga tampak sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka mengeluhkan kondisi sekolah saat ini yang tak bisa bertatap muka dengan guru dan teman sekelas.

Baca Juga :  Hari Ini Deadline Pendataan Nomor Ponsel Siswa

 ’’Bosan sebenarnya, tidak suka belajar seperti ini. Pinginnya seperti dulu.Bisa belajar di sekolah, lebih paham kalau dijelaskan langsung. Danbisa ketemu teman-teman juga,’’ ungkap Devina Kartika Pramodya, siswa SDN Dawarblandong.Sementara itu, pemilik warung, Umiyati, membenarkan jika sejak adanya sistem pembelajaran daring, warkop yang dibukanya mulai awal tahun lalu seringkali ramai dan menjadi jujukan siswa SD, SMP, dan SMA untuk mengerjakan tugas daring. ’’Biasanya kalau siswa SD pukul 08.00 ke sininya.Kalau yang SMP agak siangan.Yang SMA sore sampai malam,’’ ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/