alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Dapat BLT Rp 600 Ribu, Mbah Piyati Pilih Kembalikan kepada Desa

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kurang tiga hari jelang Lebaran, proses penyaluran bantuan sosial (bansos) Covid-19 belum sepenuhnya rampung. Termasuk bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahap pertama.

Dari 299 desa yang tersebar di 18 kecamatan, baru 241 desa yang sudah menyalurkan aliran bantuannya. Sementara 58 desa lainnya masih dalam proses pencairan ke tangan keluarga penerima manfaat (KPM) yang sudah terdata.

Namun di tengah penyaluran yang dipercepat, tidak semua bantuan diterima oleh KPM. Bahkan, beberapa KPM justru mengembalikan BLT secara sukarela ke pemerintah desa (pemdes) setempat. Lantaran mengaku sudah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya selama masa pandemi Covid-19.

Fenomena ini yang menjadi catatan tersendiri mengingat banyak warga yang justru mengaku tidak terdampak dan berharap mendapat BLT. Seperti yang dilakoni nenek Piyati, asal Dusun Gelatik, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Warga Miskin Terima Rp 600 Ribu

Nenek 80 tahun ini tercatat satu dari 141 penerima BLT-DD desa setempat. Meski masuk dalam kriteria penerima, tetapi Piyati bersama keluarga sepakat mengembalikan bantuan senilai Rp 600 ribu tersebut ke pemdes setempat.

Selain karena merasa mampu, pengembalian itu juga didasari oleh belum tepatnya sasaran penerima.Mengingat banyaknya warga setempat yang ekonominya terdampak secara langsung selama masa pandemi Covid-19 ini.

’’Saya bersama kakak masih mampu merawat ibu. Harapannya dengan pengembalian itu, bisa disalurkan ke warga yang berhak. Khususnya janda dan yang di-PHK. Ibu juga berharap pengembalian ini bisa menyembuhkan sakitnya,’’ tandas Suliyono, putra kedua nenek Piyati.

Dilihat dari kondisinya, nenek Piyati tergolong dalam kategori orang yang berhak menerima BLT. Yakni, lansia yang sudah tidak ada pekerjaan. Hanya saja, kehidupan Piyati selama ini masih sanggup ditopang Suliyono.

Baca Juga :  Calon Penerima BLT di Kabupaten Mojokerto Terdata 29 Ribu Keluarga

Sehingga, cukup beralasan jika pemberian BLT ditolak. Meski demikian, bukan berarti pengembalian bantuan masuk kembali ke kas desa. Pihak pemdes tetap berkewajiban menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.

Yakni, warga setempat yang sempat diusulkan dalam daftar penerima tetapi akhirnya terdegradasi akibat pembatasan kuota. Pemilihannya pun juga berdasarkan urutan berikutnya. Dengan didasari penetapan daftar penerima BLT-DD lewat musyawarah desa (musdes) khusus lanjutan.

Sehingga penyaluran bersifat objektif sesuai dengan parameter kelayakan penerimaan BLT-DD. ’’Pengembalian tidak masuk otomatis masuk dalam kas desa. Tapi disalurkan lagi ke daftar penerima di urutan selanjutnya,’’ ujar Mujib Bustomi, koordinator pendamping ahli desa Kabupaten Mojokerto. (abi)

 

NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kurang tiga hari jelang Lebaran, proses penyaluran bantuan sosial (bansos) Covid-19 belum sepenuhnya rampung. Termasuk bantuan langsung tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa (DD) tahap pertama.

Dari 299 desa yang tersebar di 18 kecamatan, baru 241 desa yang sudah menyalurkan aliran bantuannya. Sementara 58 desa lainnya masih dalam proses pencairan ke tangan keluarga penerima manfaat (KPM) yang sudah terdata.

Namun di tengah penyaluran yang dipercepat, tidak semua bantuan diterima oleh KPM. Bahkan, beberapa KPM justru mengembalikan BLT secara sukarela ke pemerintah desa (pemdes) setempat. Lantaran mengaku sudah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya selama masa pandemi Covid-19.

Fenomena ini yang menjadi catatan tersendiri mengingat banyak warga yang justru mengaku tidak terdampak dan berharap mendapat BLT. Seperti yang dilakoni nenek Piyati, asal Dusun Gelatik, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Warga Miskin Terima Rp 600 Ribu

Nenek 80 tahun ini tercatat satu dari 141 penerima BLT-DD desa setempat. Meski masuk dalam kriteria penerima, tetapi Piyati bersama keluarga sepakat mengembalikan bantuan senilai Rp 600 ribu tersebut ke pemdes setempat.

Selain karena merasa mampu, pengembalian itu juga didasari oleh belum tepatnya sasaran penerima.Mengingat banyaknya warga setempat yang ekonominya terdampak secara langsung selama masa pandemi Covid-19 ini.

- Advertisement -

’’Saya bersama kakak masih mampu merawat ibu. Harapannya dengan pengembalian itu, bisa disalurkan ke warga yang berhak. Khususnya janda dan yang di-PHK. Ibu juga berharap pengembalian ini bisa menyembuhkan sakitnya,’’ tandas Suliyono, putra kedua nenek Piyati.

Dilihat dari kondisinya, nenek Piyati tergolong dalam kategori orang yang berhak menerima BLT. Yakni, lansia yang sudah tidak ada pekerjaan. Hanya saja, kehidupan Piyati selama ini masih sanggup ditopang Suliyono.

Baca Juga :  Airlangga Beri Semangat Pasien Covid-19

Sehingga, cukup beralasan jika pemberian BLT ditolak. Meski demikian, bukan berarti pengembalian bantuan masuk kembali ke kas desa. Pihak pemdes tetap berkewajiban menyalurkan ke pihak yang membutuhkan.

Yakni, warga setempat yang sempat diusulkan dalam daftar penerima tetapi akhirnya terdegradasi akibat pembatasan kuota. Pemilihannya pun juga berdasarkan urutan berikutnya. Dengan didasari penetapan daftar penerima BLT-DD lewat musyawarah desa (musdes) khusus lanjutan.

Sehingga penyaluran bersifat objektif sesuai dengan parameter kelayakan penerimaan BLT-DD. ’’Pengembalian tidak masuk otomatis masuk dalam kas desa. Tapi disalurkan lagi ke daftar penerima di urutan selanjutnya,’’ ujar Mujib Bustomi, koordinator pendamping ahli desa Kabupaten Mojokerto. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Pemkot Segera Bangun Pasar Tematik

Si Cantik dari Gurun Pasir

Cuaca Buruk, Harga Ikan Melambung

Artikel Terbaru


/