alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Kebutuhan Internet Meningkat, Tak Pernah Tersentuh Bantuan

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan guru honorer di Kabupaten Mojokerto tengah menjerit. Selain honor yang minim, usaha sampingan mereka juga sangat terpuruk. Namun, nasib mereka nyaris dikesampingkan pemerintah.

Seperti yang diterangkan Sekretaris Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK JATIM Akhmad Alfayaqi. Guru SMK Mojoanyar ini, menceritakan, selama Covid-19, usaha sampingan yang selama ini menjadi andalan penghasilannya telah berantakan. ’’Kalau hanya mengandalkan honor, tentu tidak bisa. Makanya, teman-teman honorer banyak sekali yang mengandalkan pendapatan sampingan,’’ ujarnya.

Pria 34 tahun yang tinggal di Bejijong, Kecamatan Trowulan ini, mengaku, selain sebagai guru honorer, ia juga menjalankan bisnis sablon kaus wisata dan jasa travel. Namun, sejak korona berlangsung, usahanya langsung tutup total. ’’Semua di-cancel. Apalagi travel. Sudah berhenti total,’’ imbuhnya.

Bapak dua anak ini, menyayangkan sikap pemerintah sejak pandemi berlangsung. Semisal, turunnya berbagai bantuan ke masyarakat. Semisal program kartu Prakerja, penambahan alokasi Program Keluarga Harapan (PKH ), hingga dialokasikannya Padat Karya Tunai Desa (PKTD), dan Bantuan Langsung Tunai  Dana Desa (BLT DD).

Baca Juga :  Gelar Upacara hingga Gowes

Tidak terkecuali PLN yang memberikan subsidi bahkan sampai menggratiskan bea listrik bulanan dan token listrik bagi pengguna menengah ke bawah.  Semua dilakukan untuk membantu masyarakat yang terpuruk dari segi ekonomi oleh pendemi global korona. ’’Tapi, tidak pernah menyasar tenaga honorer,’’ beber dia.

Tenaga honorer yang lainnya, kata Alfa, justru lebih memprihatinkan. Selain honor yang sangat rendah, usaha sampingannya juga tengah pingsan. ’’Ada juga yang mengandalkan sebagai ojek. Padahal, setiap hari mereka juga harus bekerja dan menghabiskan kuota internet,’’ pungkasnya.

Ketua Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK JATIM, Hadi Soebagio, menambahkan, semua program yang diturunkan pemerintah saat pandemi, tidak menyentuh sedikit pun kepada tenaga honorer. Padahal, ratusan tenaga honorer ini juga memiliki kesulitan yang sama. ’’Bahkan, mungkin kesulitan ini semakin bertambah besar karena apa yang mereka terima selama ini, jauh dari kata layak,’’ bebernya.

Baca Juga :  Sekolah Pakai PC saat USBN, tapi Siapkan Smartphone

Menjeritnya guru honorer, juga disebabkan oleh melambungkan harga kebutuhan pokok. ’’Sedangkan, kebutuhan semakin meningkat dengan adanya belajar online yang memaksa  untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk pulsa internet,’’ tegasnya.

Ia berharap, pemerintah memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh honorer. ’’Bukan tanpa alasan karena tenaga honorer yang notabene mempunyai tugas juga merasakan kesulitan dan tekanan ekonomi ditengah pendemi virus korona. Apa yang kami sampaikan terkait kesulitan dan keluh kesah kami bukanlah hal yang mengada-ada. Ini menjadi keluhan teman-teman anggota Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur,’’ pungkas Hadi. 

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan guru honorer di Kabupaten Mojokerto tengah menjerit. Selain honor yang minim, usaha sampingan mereka juga sangat terpuruk. Namun, nasib mereka nyaris dikesampingkan pemerintah.

Seperti yang diterangkan Sekretaris Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK JATIM Akhmad Alfayaqi. Guru SMK Mojoanyar ini, menceritakan, selama Covid-19, usaha sampingan yang selama ini menjadi andalan penghasilannya telah berantakan. ’’Kalau hanya mengandalkan honor, tentu tidak bisa. Makanya, teman-teman honorer banyak sekali yang mengandalkan pendapatan sampingan,’’ ujarnya.

Pria 34 tahun yang tinggal di Bejijong, Kecamatan Trowulan ini, mengaku, selain sebagai guru honorer, ia juga menjalankan bisnis sablon kaus wisata dan jasa travel. Namun, sejak korona berlangsung, usahanya langsung tutup total. ’’Semua di-cancel. Apalagi travel. Sudah berhenti total,’’ imbuhnya.

Bapak dua anak ini, menyayangkan sikap pemerintah sejak pandemi berlangsung. Semisal, turunnya berbagai bantuan ke masyarakat. Semisal program kartu Prakerja, penambahan alokasi Program Keluarga Harapan (PKH ), hingga dialokasikannya Padat Karya Tunai Desa (PKTD), dan Bantuan Langsung Tunai  Dana Desa (BLT DD).

Baca Juga :  Pengendara Wajib Terapkan Starting Grid ala Sirkuit

Tidak terkecuali PLN yang memberikan subsidi bahkan sampai menggratiskan bea listrik bulanan dan token listrik bagi pengguna menengah ke bawah.  Semua dilakukan untuk membantu masyarakat yang terpuruk dari segi ekonomi oleh pendemi global korona. ’’Tapi, tidak pernah menyasar tenaga honorer,’’ beber dia.

Tenaga honorer yang lainnya, kata Alfa, justru lebih memprihatinkan. Selain honor yang sangat rendah, usaha sampingannya juga tengah pingsan. ’’Ada juga yang mengandalkan sebagai ojek. Padahal, setiap hari mereka juga harus bekerja dan menghabiskan kuota internet,’’ pungkasnya.

- Advertisement -

Ketua Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK JATIM, Hadi Soebagio, menambahkan, semua program yang diturunkan pemerintah saat pandemi, tidak menyentuh sedikit pun kepada tenaga honorer. Padahal, ratusan tenaga honorer ini juga memiliki kesulitan yang sama. ’’Bahkan, mungkin kesulitan ini semakin bertambah besar karena apa yang mereka terima selama ini, jauh dari kata layak,’’ bebernya.

Baca Juga :  Sekolah Pakai PC saat USBN, tapi Siapkan Smartphone

Menjeritnya guru honorer, juga disebabkan oleh melambungkan harga kebutuhan pokok. ’’Sedangkan, kebutuhan semakin meningkat dengan adanya belajar online yang memaksa  untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk pulsa internet,’’ tegasnya.

Ia berharap, pemerintah memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh honorer. ’’Bukan tanpa alasan karena tenaga honorer yang notabene mempunyai tugas juga merasakan kesulitan dan tekanan ekonomi ditengah pendemi virus korona. Apa yang kami sampaikan terkait kesulitan dan keluh kesah kami bukanlah hal yang mengada-ada. Ini menjadi keluhan teman-teman anggota Forkom Honorer SMA/SMK/PK-PLK Jawa Timur,’’ pungkas Hadi. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/