alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Perempuan dalam Dua Peran, Publik dan Domestik

MENGUPAS persoalan perempuan, karir dan rumah tangga tidak akan terlepas dari reduksi terhadap perempuan, yang kerap dianggap lebih lemah daripada pria.

Karena itulah para pahlawan perempuan baik dunia maupun Indonesia sudah sejak lama memperjuangkan hak-hak mereka, salah satunya dari Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini.

Masyarakat Indonesia zaman dulu yang lazim menganut budaya patriarki (sistem sosial yang menempatkan pria sebagai pemegang kekuasaan paling utama dan dominan daripada perempuan), makin merentangkan pembatas antara kedua gender ini.

Kita dapat melihat pembagian peranan yang diterima, dimana pria cenderung mendapatkan peluang peran publik (urusan luar rumah), dan perempuan mendapatkan peran domestik (terpaku dalam urusan rumah tangga). Nilai-nilai ini masih berlaku di kalangan masyarakat hingga saat ini.

Baca Juga :  Puskesmas Tutup, Bumil Melahirkan di Teras

Pandangan tentang perempuan Indonesia kali ini dituturkan istri Bupati Mojokerto, Ikfina Kamal Pasa. Dikenal aktif sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto, ibu dari 3 orang anak ini berpandangan bahwa perempuan Indonesia kini lebih bebas memilih, bersuara, berkarir, berkarya dan tampil di depan publik.

Namun semua gebyar pilihan-pilihan menarik tersebut, lantas tidak seketika menjadikan perempuan mengesampingkan kodratnya sebagai ratu rumah tangga.

’’Perempuan Indonesia kini bisa menikmati kebebasannya baik dalam berkarir, berkarya, membangun networking, tampil di depan publik dan aktif sebagai seorang leader. Namun hal-hal tersebut, tidak membuat perempuan Indonesia serta merta mengesampingkan tugasnya di dalam rumah tangga. Adat ketimuran dan budaya luhur masih sangat dijunjung tinggi. Perempuan Indonesia juga memiliki kapabilitas untuk berkarya di bidangnya namun tetap memprioritaskan keluarga sebagai nomor wahid,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter ini.

Baca Juga :  Endang Binarti, Kematangan Jiwa Seorang Wanita

’’Perempuan Indonesia sebagai penerus Kartini masa kini, harus cermat memahami kebutuhan utama dalam rumah tangga agar mampu menjalankan peran domestik sekaligus peran publik. Keluarga butuh kasih sayang, perhatian, membimbing anak dalam hal pendidikan, agama dan moral. Namun tanggung jawab tersebut tidak dari ibu saja, namun juga dari ayah. Dukungan suami sebagai kepala rumah tangga dengan disertai komunikasi yang baik, akan mewujudkan rumah tangga yang paripurna,” tambahnya. (tik)

 

 

MENGUPAS persoalan perempuan, karir dan rumah tangga tidak akan terlepas dari reduksi terhadap perempuan, yang kerap dianggap lebih lemah daripada pria.

Karena itulah para pahlawan perempuan baik dunia maupun Indonesia sudah sejak lama memperjuangkan hak-hak mereka, salah satunya dari Indonesia adalah Raden Ajeng Kartini.

Masyarakat Indonesia zaman dulu yang lazim menganut budaya patriarki (sistem sosial yang menempatkan pria sebagai pemegang kekuasaan paling utama dan dominan daripada perempuan), makin merentangkan pembatas antara kedua gender ini.

Kita dapat melihat pembagian peranan yang diterima, dimana pria cenderung mendapatkan peluang peran publik (urusan luar rumah), dan perempuan mendapatkan peran domestik (terpaku dalam urusan rumah tangga). Nilai-nilai ini masih berlaku di kalangan masyarakat hingga saat ini.

Baca Juga :  Perempuan Indonesia Harus Tangguh dan Bermental Baja
- Advertisement -

Pandangan tentang perempuan Indonesia kali ini dituturkan istri Bupati Mojokerto, Ikfina Kamal Pasa. Dikenal aktif sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto, ibu dari 3 orang anak ini berpandangan bahwa perempuan Indonesia kini lebih bebas memilih, bersuara, berkarir, berkarya dan tampil di depan publik.

Namun semua gebyar pilihan-pilihan menarik tersebut, lantas tidak seketika menjadikan perempuan mengesampingkan kodratnya sebagai ratu rumah tangga.

’’Perempuan Indonesia kini bisa menikmati kebebasannya baik dalam berkarir, berkarya, membangun networking, tampil di depan publik dan aktif sebagai seorang leader. Namun hal-hal tersebut, tidak membuat perempuan Indonesia serta merta mengesampingkan tugasnya di dalam rumah tangga. Adat ketimuran dan budaya luhur masih sangat dijunjung tinggi. Perempuan Indonesia juga memiliki kapabilitas untuk berkarya di bidangnya namun tetap memprioritaskan keluarga sebagai nomor wahid,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter ini.

Baca Juga :  Disapu Angin, Pepohonan di Kota Mojokerto Bertumbangan

’’Perempuan Indonesia sebagai penerus Kartini masa kini, harus cermat memahami kebutuhan utama dalam rumah tangga agar mampu menjalankan peran domestik sekaligus peran publik. Keluarga butuh kasih sayang, perhatian, membimbing anak dalam hal pendidikan, agama dan moral. Namun tanggung jawab tersebut tidak dari ibu saja, namun juga dari ayah. Dukungan suami sebagai kepala rumah tangga dengan disertai komunikasi yang baik, akan mewujudkan rumah tangga yang paripurna,” tambahnya. (tik)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/