alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Semula Hanya Iseng, Kini Pesanan Mengalir dari Berbagai Daerah

Usaha Taufan Febri Pursetyo tetap menggeliat di tengah pagebluk. Industri rumahan berupa cor cetakan kue itu selamat dari dampak pandemi Covid-19. Bahkan, permintaan dari berbagai daerah terus berdatangan.

INDAH OCEANANDA, Prajuritkulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

Bisnis cor cetakan kue Taufan, begitu panggilan akrabnya, terlihat moncer kendati wabah Covid-19 belum berakhir. Dia mengaku, baru mendirikan bisnisnya sejak akhir 2017 lalu. Berbekal blok alumunium dari kawasan Jombang, dia yang semula hanya iseng. Namun, kini usaha justru menjadi mata pencahariannya dan beberapa karyawan. ”Awalnya, ikut saudara karena waktu itu banyak pesanan. Saya iseng belajar. Makin lama, makin banyak permintaan. Akhirnya coba buat usaha sendiri. Di sini kan juga sentranya cetakan kue,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Lingkungan Balongcangkring, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, kemarin.

Awal menjalankan usaha, Taufan mengaku, hanya bisa mempekerjakan tiga orang saja. Seiring berjalannya waktu, permintaan pesanan terus mengalir bahkan membanjiri usahanya.

Tanpa pikir panjang, dia menambah karyawan. Total kini, ada sepuluh orang yang bertugas di masing-masing proses cor cetakan kue miliknya. ”Ada yang bagian mal, kikis, finishing dan packing. Paling banyak di bagian packing ada empat orang,” papar pria 34 tahun itu.

Baca Juga :  Vaksinasi dan Disiplin Prokes, Langkah Krusial Keluar dari Pandemi

Setiap pekan, ia bisa menerima orderan cetakan kue yang hingga ribuan unit. Itu terdiri dari berbagai macam varian bentuk dan ukuran cetakan. Di antaranya, cetakan kue bolu, kue apem, kue bingka, kue lumpur, kue pukis, kue cubit, terang bulan, telur, hingga donat cair. ”Alhamdulillah tetap bertahan. Apalagi waktu Ramadan kemarin. Permintaan cetakan kue bolu saja sampai 13 ribu pcs. Untuk pekan ini, ada permintaan dari Surabaya sebanyak 5.500 cetakan dari beberapa bentuk,” ungkap Taufan.

Pria yang memiliki master ratusan bentuk cetakan kue tradisional di salah satu sudut rumahnya ini, bahkan masih terus melayani permintaan pasar hingga ke Jawa Tengah. Selain itu, Taufan juga mendapat pesanan rutin dari wilayah Jabodetabek. Yakni dari salah satu supplier yang menjual hasil cetakan cor kuenya dari Purwakarta hingga ke Depok, Jawa Barat. ”Kalau yang jauh sampai ke Semarang, Jateng sana, dan lebih banyak dari Semarang. Kalau permintaan sampai Jakarta atau Depok itu karena ada pemasok yang di Purwakarta. Jadi kirimnya ke sana,” ucap suami Rosi Angga Setyoweni ini.

Baca Juga :  Bupati Sidak Pelayanan RSUD R.A. Basoeni dan RSUD Prof dr Soekandar

Meski demikian, Taufan membeberkan, dirinya juga sempat mengalami penurunan omset selama pandemi. Biasanya per minggu, penghasilan Taufan bisa mencapai Rp 25 sampai Rp 30 juta. Namun di awal pandemi, hanya berkisar antara Rp 4 hingga 5 juta per minggu. ”Itu karena permintaannya menurun, tapi hanya sebentar saja. Setelah itu ya kembali lancar lagi seperti awal buka usaha,” sebut bapak dua anak itu.

Disinggung terkait penjualan ke luar negeri, Taufan mengaku masih belum berani. Sebab, selain bahan baku yang masih terbatas, dia juga sering kewalahan menyelesaikan pesanan dari beberapa daerah.

Tetapi, Taufan tak pernah sampai menolak permintaan semua pelanggannya. Paling tidak, jika permintaan banyak, dia akan meminta negosiasi waktu ke pembeli untuk menyelesaikan pesanan sebelumnya. ”Paling saya janjikan kompensasi waktu, nah habis itu terserah pelanggan mau nunggu atau cari cetakan di tempat lain ,” tukasnya. 

Usaha Taufan Febri Pursetyo tetap menggeliat di tengah pagebluk. Industri rumahan berupa cor cetakan kue itu selamat dari dampak pandemi Covid-19. Bahkan, permintaan dari berbagai daerah terus berdatangan.

INDAH OCEANANDA, Prajuritkulon, Jawa Pos Radar Mojokerto

Bisnis cor cetakan kue Taufan, begitu panggilan akrabnya, terlihat moncer kendati wabah Covid-19 belum berakhir. Dia mengaku, baru mendirikan bisnisnya sejak akhir 2017 lalu. Berbekal blok alumunium dari kawasan Jombang, dia yang semula hanya iseng. Namun, kini usaha justru menjadi mata pencahariannya dan beberapa karyawan. ”Awalnya, ikut saudara karena waktu itu banyak pesanan. Saya iseng belajar. Makin lama, makin banyak permintaan. Akhirnya coba buat usaha sendiri. Di sini kan juga sentranya cetakan kue,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Lingkungan Balongcangkring, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, kemarin.

Awal menjalankan usaha, Taufan mengaku, hanya bisa mempekerjakan tiga orang saja. Seiring berjalannya waktu, permintaan pesanan terus mengalir bahkan membanjiri usahanya.

Tanpa pikir panjang, dia menambah karyawan. Total kini, ada sepuluh orang yang bertugas di masing-masing proses cor cetakan kue miliknya. ”Ada yang bagian mal, kikis, finishing dan packing. Paling banyak di bagian packing ada empat orang,” papar pria 34 tahun itu.

Baca Juga :  Desa Gempolkerep Kabupaten Mojokerto, Taat Pajak, Jalan Relatif Mulus

Setiap pekan, ia bisa menerima orderan cetakan kue yang hingga ribuan unit. Itu terdiri dari berbagai macam varian bentuk dan ukuran cetakan. Di antaranya, cetakan kue bolu, kue apem, kue bingka, kue lumpur, kue pukis, kue cubit, terang bulan, telur, hingga donat cair. ”Alhamdulillah tetap bertahan. Apalagi waktu Ramadan kemarin. Permintaan cetakan kue bolu saja sampai 13 ribu pcs. Untuk pekan ini, ada permintaan dari Surabaya sebanyak 5.500 cetakan dari beberapa bentuk,” ungkap Taufan.

- Advertisement -

Pria yang memiliki master ratusan bentuk cetakan kue tradisional di salah satu sudut rumahnya ini, bahkan masih terus melayani permintaan pasar hingga ke Jawa Tengah. Selain itu, Taufan juga mendapat pesanan rutin dari wilayah Jabodetabek. Yakni dari salah satu supplier yang menjual hasil cetakan cor kuenya dari Purwakarta hingga ke Depok, Jawa Barat. ”Kalau yang jauh sampai ke Semarang, Jateng sana, dan lebih banyak dari Semarang. Kalau permintaan sampai Jakarta atau Depok itu karena ada pemasok yang di Purwakarta. Jadi kirimnya ke sana,” ucap suami Rosi Angga Setyoweni ini.

Baca Juga :  Vaksinasi dan Disiplin Prokes, Langkah Krusial Keluar dari Pandemi

Meski demikian, Taufan membeberkan, dirinya juga sempat mengalami penurunan omset selama pandemi. Biasanya per minggu, penghasilan Taufan bisa mencapai Rp 25 sampai Rp 30 juta. Namun di awal pandemi, hanya berkisar antara Rp 4 hingga 5 juta per minggu. ”Itu karena permintaannya menurun, tapi hanya sebentar saja. Setelah itu ya kembali lancar lagi seperti awal buka usaha,” sebut bapak dua anak itu.

Disinggung terkait penjualan ke luar negeri, Taufan mengaku masih belum berani. Sebab, selain bahan baku yang masih terbatas, dia juga sering kewalahan menyelesaikan pesanan dari beberapa daerah.

Tetapi, Taufan tak pernah sampai menolak permintaan semua pelanggannya. Paling tidak, jika permintaan banyak, dia akan meminta negosiasi waktu ke pembeli untuk menyelesaikan pesanan sebelumnya. ”Paling saya janjikan kompensasi waktu, nah habis itu terserah pelanggan mau nunggu atau cari cetakan di tempat lain ,” tukasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/