alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Sudah Sebulan, Petani Kelimpungan

Kelangkaan pupuk subsidi di tengah masyarakat ternyata sudah terjadi sejak sebulan ini. Selain berimbas pada pembengkaan biaya produksi tanam, juga berpotensi gagal panen. ’’Iya lagi langka,’’ ungkap Ansori, warga Kecamatan Puri.

Menurutnya, kelangkaan pupuk subsidi kali ini membuat petani kelimpungan. Pasalnya, kondisi ini akan sangat berdampak pada hasil panen pada masa tanam sekarang. ’’Jika telat pemupukan imbasnya pada hasil panen,’’ tandasnya.

Apalagi, kelangkaan ini terjadi cukup merata di setiap kios penjualan pupuk. Terbukti, saat dirinya hendak mencari pupuk ke kios lain di luar wilayah Puri, ternyata, juga tidak ada stok. Padahal, biasanya, saat di lingkungannya tidak ada stok, di tempat lain kadang juga masih ada. ’’Tapi ini tidak, (kelangkaan red) hampir merata. Saya cari ke mana-mana lagi kosong. Sudah sebulan ini,’’ paparnya.

Baca Juga :  Mutasi Pejabat Pemkab Turut Tertunda

Ironinya, lanjut Ansori, kelangkaan pupuk subsidi ini hampir terjadi di setiap musim tanam tiba. Untuk itu, dia menduga, ada permainan oknum di balik sulitnya pupuk. Diduga para pemain ini melakukan penimbunan.

Di sisi lain, dengan musim kemarau saat ini, kebutuhan pupuk di Kabupaten Mojokerto akan berkurang seiring banyak lahan tadah hujan yang tak melakukan cocok tanam lagi. ’’Rasionalnya, kebutuhan pupuk berkurang karena sejumlah wilayah hanya tadah hujan. Tapi malah tidak ada. Kalau tidak ditimbun, terus nangdi pupuk iki?’’ urainya.

Suwana, petani lain, mengaku, kelangkaan pupuk subsidi saat ini membut petani lagi-lagi menjadi korban. Bagaimana tidak, di tengah tanam kedua dirinya kembali dibuat kelimpungan karena pupuk subsidi jenis urea tidak ada. Tak urung, untuk jadwal pemupukan nanti, petani terpaksa harus membeli pupuk nonsubsidi. ’’Harganya lebih mahal. Satu sak bisa tembus Rp 200 ribu. Itu pun juga tidak selalu ada,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Ironis, Puluhan ASN Pemkab Mojokerto Jadi Penerima Bansos Warga Miskin

Karena kebutuhan, mau tidak mau membuat para petani terpaksa tetap membelinya. ’’Daripada tanaman tidak subur dan gagal panen, nanti malah rugi dobel-dobel,’’ ujarnya.

Kadisperta Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko, mengatakan, pihaknya akan melakukan relokasi pupuk baru untuk menanggulangi kelangkaan di lapangan. ’’Atau kita sosialisai ke masyarakat untuk menggunakan pupuk nonsubsidi yang sudah disediakan produsen,’’ ungkapnya.

Kelangkaan pupuk subsidi di tengah masyarakat ternyata sudah terjadi sejak sebulan ini. Selain berimbas pada pembengkaan biaya produksi tanam, juga berpotensi gagal panen. ’’Iya lagi langka,’’ ungkap Ansori, warga Kecamatan Puri.

Menurutnya, kelangkaan pupuk subsidi kali ini membuat petani kelimpungan. Pasalnya, kondisi ini akan sangat berdampak pada hasil panen pada masa tanam sekarang. ’’Jika telat pemupukan imbasnya pada hasil panen,’’ tandasnya.

Apalagi, kelangkaan ini terjadi cukup merata di setiap kios penjualan pupuk. Terbukti, saat dirinya hendak mencari pupuk ke kios lain di luar wilayah Puri, ternyata, juga tidak ada stok. Padahal, biasanya, saat di lingkungannya tidak ada stok, di tempat lain kadang juga masih ada. ’’Tapi ini tidak, (kelangkaan red) hampir merata. Saya cari ke mana-mana lagi kosong. Sudah sebulan ini,’’ paparnya.

Baca Juga :  Ironis, Puluhan ASN Pemkab Mojokerto Jadi Penerima Bansos Warga Miskin

Ironinya, lanjut Ansori, kelangkaan pupuk subsidi ini hampir terjadi di setiap musim tanam tiba. Untuk itu, dia menduga, ada permainan oknum di balik sulitnya pupuk. Diduga para pemain ini melakukan penimbunan.

Di sisi lain, dengan musim kemarau saat ini, kebutuhan pupuk di Kabupaten Mojokerto akan berkurang seiring banyak lahan tadah hujan yang tak melakukan cocok tanam lagi. ’’Rasionalnya, kebutuhan pupuk berkurang karena sejumlah wilayah hanya tadah hujan. Tapi malah tidak ada. Kalau tidak ditimbun, terus nangdi pupuk iki?’’ urainya.

Suwana, petani lain, mengaku, kelangkaan pupuk subsidi saat ini membut petani lagi-lagi menjadi korban. Bagaimana tidak, di tengah tanam kedua dirinya kembali dibuat kelimpungan karena pupuk subsidi jenis urea tidak ada. Tak urung, untuk jadwal pemupukan nanti, petani terpaksa harus membeli pupuk nonsubsidi. ’’Harganya lebih mahal. Satu sak bisa tembus Rp 200 ribu. Itu pun juga tidak selalu ada,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Mojokerto Pantau Vaksinasi Covid-19 Pasar Kedungmaling
- Advertisement -

Karena kebutuhan, mau tidak mau membuat para petani terpaksa tetap membelinya. ’’Daripada tanaman tidak subur dan gagal panen, nanti malah rugi dobel-dobel,’’ ujarnya.

Kadisperta Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko, mengatakan, pihaknya akan melakukan relokasi pupuk baru untuk menanggulangi kelangkaan di lapangan. ’’Atau kita sosialisai ke masyarakat untuk menggunakan pupuk nonsubsidi yang sudah disediakan produsen,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/