alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

RSUD Kota sempat Kewalahan Tangani Pasien Demam Berdarah

MOJOKERTO – Dalam kurun tiga bulan terakhir jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) yang ditangani RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, mencapai 326 kasus. Pertengahan bulan Maret ini kasus yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini mencapai 55 kasus.  

Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto dr Sugeng Mulyadi, mengatakan, banyak kasus demam berdarah bermunculan awal tahun 2019 ini. Pihaknya menampung pasien DBD, baik yang berasal dari kota Mojokerto maupun luar kota. “Kasus DB ini memang meningkat tajam. Kebanyakan menyerang anak-anak,” ujarnya kemarin.

Menurut data rumah sakit milik Pemkot Mojokerto tersebut, pada bulan Januari jumlah kasus DBD mencapai 191 kasus. Bulan Februari mengalami penurunan menjadi 80 kasus. Sedangkan pertengahan bulan Maret ini terdapat 55 kasus. Total dalam kurun tiga bulan terakhir terdapat 326 kasus demam berdarah yang ditangani.

Sugeng mengaku sempat kewalahan menampung banyaknya pasien demam berdarah. Terutama terjadi pada bulan Februari dan awal Maret ini. “Banyak yang masuk. Terutama anak-anak. Kami terpaksa sampai menggunakan ekstra bed agar pasien bisa tertangani,” ujar dia.

Baca Juga :  Penyakit Jantung Kini Mulai Serang Usia Muda

Bulan ini ada 55 kasus DB, 39 kasus dialami anak-anak, 16 lainnya dewasa. Pihaknya menggunakan SOP (standar operasional prosedur) yang ketat terhadap penanganan kasus DB. Lantaran, jumlah kasus yang tergolong tinggi serta risiko yang cukup tinggi pula. “Kemarin memang ada satu pasien yang meninggal dunia. Namun, itu dikarenakan ketika datang ke IGD, kondisinya sudah buruk,” terang dia.

Diketahui, Aini Aliya Safira, bocah asal Kedungkwali Gang 3, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan menghembuskan napas terakhir setelah kadar trombositnya menurun drastis. Pasien rujukan Puskesmas Blooto tersebut dirujuk ke RSUD Minggu (17/3) pagi. Namun, trombosit menurun disertai muntah darah. Sore harinya, Aini dinyatakan meninggal dunia.

Kemarin pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di RSUD Wahidin Sudiro Husodo, kepadatan pasien demam berdarah masih tampak. Pasien DBD terbaru datang Senin (19/3) malam. Dua pasien lainnya juga anak-anak. Seperti Irene Darmayanti, 12, asal Dawarblandong.

Baca Juga :  Bantu Laju Ambulans, Garakan Kemanusiaan tanpa Imbalan

Siswa kelas VI SD itu dirujuk setelah trombositnya menurun hingga 109.000 mcl. “Ini yang terbaru. Dua pasien yang datang sebelumnya juga anak-anak dari Sumberaji dan Meri,” ungkap Erlina Sutanto, Kepala Ruangan Kertawijaya RSUD.

Dikatakannya, memasuki pertengahan Maret, pasien DB mengalami penurunan. Di tempatnya, hanya ada 7 pasien. Sepekan sebelumnya, kata dia, pasien DB membludak. “Sempat kami gunakan lorong sebagai tempat 6 ekstra bed agar pasien tertampung,” sambung dia.

Sekarang ini, dengan daya tampung 37 bed, ruangan Kertawijaya yang dikhususkan sebagai ruang perawatan inap anak-anak terbilang penuh. Kebanyakan pasien bocah itu mengalami gangguan ISPA, radang tenggorokan, dan batuk pilek. “Untuk pasien DB apabila lewat hari kelima terbilang aman. Karena itu sudah lewati masa kritisnya,” pungkasnya. 

MOJOKERTO – Dalam kurun tiga bulan terakhir jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) yang ditangani RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, mencapai 326 kasus. Pertengahan bulan Maret ini kasus yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini mencapai 55 kasus.  

Direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto dr Sugeng Mulyadi, mengatakan, banyak kasus demam berdarah bermunculan awal tahun 2019 ini. Pihaknya menampung pasien DBD, baik yang berasal dari kota Mojokerto maupun luar kota. “Kasus DB ini memang meningkat tajam. Kebanyakan menyerang anak-anak,” ujarnya kemarin.

Menurut data rumah sakit milik Pemkot Mojokerto tersebut, pada bulan Januari jumlah kasus DBD mencapai 191 kasus. Bulan Februari mengalami penurunan menjadi 80 kasus. Sedangkan pertengahan bulan Maret ini terdapat 55 kasus. Total dalam kurun tiga bulan terakhir terdapat 326 kasus demam berdarah yang ditangani.

Sugeng mengaku sempat kewalahan menampung banyaknya pasien demam berdarah. Terutama terjadi pada bulan Februari dan awal Maret ini. “Banyak yang masuk. Terutama anak-anak. Kami terpaksa sampai menggunakan ekstra bed agar pasien bisa tertangani,” ujar dia.

Baca Juga :  Ironis, Tempat Cuci Tangan di Pasar Tradisional Sangat Minim

Bulan ini ada 55 kasus DB, 39 kasus dialami anak-anak, 16 lainnya dewasa. Pihaknya menggunakan SOP (standar operasional prosedur) yang ketat terhadap penanganan kasus DB. Lantaran, jumlah kasus yang tergolong tinggi serta risiko yang cukup tinggi pula. “Kemarin memang ada satu pasien yang meninggal dunia. Namun, itu dikarenakan ketika datang ke IGD, kondisinya sudah buruk,” terang dia.

Diketahui, Aini Aliya Safira, bocah asal Kedungkwali Gang 3, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan menghembuskan napas terakhir setelah kadar trombositnya menurun drastis. Pasien rujukan Puskesmas Blooto tersebut dirujuk ke RSUD Minggu (17/3) pagi. Namun, trombosit menurun disertai muntah darah. Sore harinya, Aini dinyatakan meninggal dunia.

- Advertisement -

Kemarin pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di RSUD Wahidin Sudiro Husodo, kepadatan pasien demam berdarah masih tampak. Pasien DBD terbaru datang Senin (19/3) malam. Dua pasien lainnya juga anak-anak. Seperti Irene Darmayanti, 12, asal Dawarblandong.

Baca Juga :  Klaim BPJS Kesehatan RSUD Ngendon Rp 43 Miliar

Siswa kelas VI SD itu dirujuk setelah trombositnya menurun hingga 109.000 mcl. “Ini yang terbaru. Dua pasien yang datang sebelumnya juga anak-anak dari Sumberaji dan Meri,” ungkap Erlina Sutanto, Kepala Ruangan Kertawijaya RSUD.

Dikatakannya, memasuki pertengahan Maret, pasien DB mengalami penurunan. Di tempatnya, hanya ada 7 pasien. Sepekan sebelumnya, kata dia, pasien DB membludak. “Sempat kami gunakan lorong sebagai tempat 6 ekstra bed agar pasien tertampung,” sambung dia.

Sekarang ini, dengan daya tampung 37 bed, ruangan Kertawijaya yang dikhususkan sebagai ruang perawatan inap anak-anak terbilang penuh. Kebanyakan pasien bocah itu mengalami gangguan ISPA, radang tenggorokan, dan batuk pilek. “Untuk pasien DB apabila lewat hari kelima terbilang aman. Karena itu sudah lewati masa kritisnya,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Pelangi di Kemarau Basah

Kodam Apresiasi Kerja Keras Kodim

Sadari Kenakalan saat Sujud Akhir

Artikel Terbaru


/