alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Musim Penghujan, Permintaan Fogging Tinggi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jumlah permintaan warga untuk dilakukan pengasapan atau fogging di Kabupaten Mojokerto meningkat. Hal ini, mengingat potensi kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang rawan muncul selama musim penghujan.

”Permintaan paling banyak ada di Kecamatan Puri, ada dua belas permintaan. Yang hanya satu kali permintaan ada di Gayaman (Kecamatan Mojoanyar) sama Pacet,” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra, Selasa (19/1).

Tahun lalu, tercatat ada 78 permintaan fogging di wilayah Kabupaten Mojokerto. Langit menyatakan, permintaan ini berasal dari 14 kecamatan di kabupaten. Proses pengasapan tersebut tak hanya menyasar halaman depan rumah warga. Melainkan, termasuk dalam rumah warga beserta tempat yang memang diduga menimbulkan potensi untuk tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

Baca Juga :  Geber Vaksinasi, Sehari Sasar 451 Orang

”Kita melakukan pengasapan kalau ada kasus penderita DBD atau chikungunya. Lalu, kalau ada hasil laborat yang mendukung, dan ada pengajuan dari pihak desa. Terus kita tata laksana fogging,” jelasnya.

Oleh sebabnya, proses pelaksanaan fogging pun tak boleh dilakukan secara sembarangan. Perlu ada koordinasi dengan kelurahan, kecamatan, dan puskesmas setempat. Bila dilakukan tak sesuai aturan akan memberikan hasil yang tak maksimal. Bahkan, justru membahayakan kesehatan.

Hal tersebut dikarenakan fogging sendiri memakai zat kimia sehingga perlu diadakan pengawasan. ”Nggak bisa sembarangan, karena nyemprot itu kan pakai bahan kimia juga. Jika misalkan memang mau di fogging harus ada penyelidikan dulu,” terang Langit.

Selain itu, lanjut dia, pengasapan hanya dapat memberantas nyamuk serta jentik yang terlihat saja. Sedangkan, untuk jentik-jentik yang tak kasat mata baiknya dilakukan dengan tindakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur). Di antaranya, menguras atau membersihkan tempat yang menjadi penampungan air semisal bak mandi, ember air, dan penampungan air minum. Kemudian, menutup rapat tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang yang sekiranya berpotensi sebagai sarang nyamuk. ”Ya apalagi sekarang masih awal tahun dan juga musim hujan. Jadi, masyarakat harus tetap waspada, terlebih pandemi saat ini, harus menjaga pola hidup sehat juga,” tuturnya.

Baca Juga :  Rapid Test Kedaluwarsa di Dinkes, Bupati Terkejut

Sementara itu, meski jumlah permintaan fogging meningkat, namun temuan kasus DBD tahun lalu masih sama. Sejak awal hingga akhir bulan tahun lalu, kasus permintaan DBD tak mengalami perubahan berarti. Rata-rata kasus DBD semuanya berhasil sembuh dan nihil kematian. ”Masih sama seperti jumlah terakhir, jumlah masih bisa dikontrol. Tahun lalu, hanya ada 97 kasus saja,” tambah Langit. (oce)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Jumlah permintaan warga untuk dilakukan pengasapan atau fogging di Kabupaten Mojokerto meningkat. Hal ini, mengingat potensi kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang rawan muncul selama musim penghujan.

”Permintaan paling banyak ada di Kecamatan Puri, ada dua belas permintaan. Yang hanya satu kali permintaan ada di Gayaman (Kecamatan Mojoanyar) sama Pacet,” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dr Langit Kresna Janitra, Selasa (19/1).

Tahun lalu, tercatat ada 78 permintaan fogging di wilayah Kabupaten Mojokerto. Langit menyatakan, permintaan ini berasal dari 14 kecamatan di kabupaten. Proses pengasapan tersebut tak hanya menyasar halaman depan rumah warga. Melainkan, termasuk dalam rumah warga beserta tempat yang memang diduga menimbulkan potensi untuk tempat berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

Baca Juga :  Usai Divaksin, Pedagang Bawa Snack Gratis

”Kita melakukan pengasapan kalau ada kasus penderita DBD atau chikungunya. Lalu, kalau ada hasil laborat yang mendukung, dan ada pengajuan dari pihak desa. Terus kita tata laksana fogging,” jelasnya.

Oleh sebabnya, proses pelaksanaan fogging pun tak boleh dilakukan secara sembarangan. Perlu ada koordinasi dengan kelurahan, kecamatan, dan puskesmas setempat. Bila dilakukan tak sesuai aturan akan memberikan hasil yang tak maksimal. Bahkan, justru membahayakan kesehatan.

Hal tersebut dikarenakan fogging sendiri memakai zat kimia sehingga perlu diadakan pengawasan. ”Nggak bisa sembarangan, karena nyemprot itu kan pakai bahan kimia juga. Jika misalkan memang mau di fogging harus ada penyelidikan dulu,” terang Langit.

- Advertisement -

Selain itu, lanjut dia, pengasapan hanya dapat memberantas nyamuk serta jentik yang terlihat saja. Sedangkan, untuk jentik-jentik yang tak kasat mata baiknya dilakukan dengan tindakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur). Di antaranya, menguras atau membersihkan tempat yang menjadi penampungan air semisal bak mandi, ember air, dan penampungan air minum. Kemudian, menutup rapat tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang yang sekiranya berpotensi sebagai sarang nyamuk. ”Ya apalagi sekarang masih awal tahun dan juga musim hujan. Jadi, masyarakat harus tetap waspada, terlebih pandemi saat ini, harus menjaga pola hidup sehat juga,” tuturnya.

Baca Juga :  Bupati-Wali Kota Apresiasi Positif

Sementara itu, meski jumlah permintaan fogging meningkat, namun temuan kasus DBD tahun lalu masih sama. Sejak awal hingga akhir bulan tahun lalu, kasus permintaan DBD tak mengalami perubahan berarti. Rata-rata kasus DBD semuanya berhasil sembuh dan nihil kematian. ”Masih sama seperti jumlah terakhir, jumlah masih bisa dikontrol. Tahun lalu, hanya ada 97 kasus saja,” tambah Langit. (oce)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/