Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto

Lansia Kesulitan Pakai PeduliLindugi

Scan QR Code Masuk Pasar Tak Efektif

19 Oktober 2021, 20: 05: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Lansia Kesulitan Pakai PeduliLindugi

SEBATAS COBA-COBA: Seorang pedagang melakukan memindai QR code di pintu masuk utama Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, kemarin. (Yulianto Adi Nugroho/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Penerapan aplikasi PeduliLIndungi di pasar tradisional di Kota Mojokerto tak berjalan efektif. Kesadaran pengunjung maupun pedagang untuk memindai QR code dinilai masih minim. Selain itu, terdapat kendala tersendiri pada kalangan lansia untuk mengoperasikan handphone (HP).

Seperti pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di Pasar Tanjung Anyar kemarin. Pengunjung dan pedagang lalu lalang keluar masuk pasar tanpa memindai bukti vaksin di PeduliLindungi. Terkesan sebatas pajangan, lembaran QR code yang tertempel di sejumlah akses masuk tak banyak dihiraukan. Sesekali satu dua orang yang menyodorkan HP untuk scan. ’’Pengen nyoba saja. Soalnya sudah biasa kalau di tempat lain,’’ kata Marji, salah satu pedagang.

Setelah scan muncul indikator warna hijau yang menunjukkan Marji sudah dua kali vaksin. Di aplikasi, terdapat keterangan nol pengunjung. Artinya, dia merupakan pengunjung pertama di Pasar Tanjung Anyar yang masuk dengan PedulLindungi. Dengan kata lain, hingga siang kemarin, dari ribuan orang di pasar, hanya dia yang scan QR code. ’’Saya punya aplikasinya. Jadi saya coba di sini saja.  Saya juga baru tahu tadi pagi kalau dipasang ini (QR code),’’ ujar pedagang perabotan dapur tersebut.

Baca juga: Tanggulangi Banjir Menahun di Dua Jalur Vital

Kepala UPTD Pasar Tradisional Kota Mojokerto Sutikno menyatakan, PeduliLindungi mulai diberlakukan, Sabtu (9/10). Lembaran QR code dipasang secara betahap di seluruh pasar tradisional. Setidaknya enam dari total tujuh pasar tradional sudah menerapkan. Para pengunjung maupaun pedagang diarahkan untuk scan saat masuk dan keluar pasar.

Dari pantauan sejauh ini, aplikasi tersebut memang belum berjalan maksimal. ’’Kalau bicara kenyataannya banyak yang tidak scan. Lagi pula sulit mengontrolnya,’’ terangnya.

Menurut Sutikno, mobilitas pasar tidak mudah dipantau. Tak ada yang bisa memastikan pengunjung maupun pedagang bakal menggunakan aplikasi PeduliLIndungi. ’’Ya ada beberapa yang scan. Tapi untuk coba-coba aplikasi bukan syarat masuk,’’ imbuh dia.

Lebih dari itu, tak semua kalangan akrab dengan penggunaan syarat baru ini. Seperti para pedagang lansia yang bahkan HP saja tidak punya. Di sisi lain, pihaknya tak punya kewenangan memaksa setiap orang harus scan dan mencegah orang tertentu masuk pasar. ’’Yang tua-tua ini ya bablas saja,’’ sebutnya.

Kini, di samping terus menyosialisasikan aplikasi sebagai salah satu langkah skrining pencegahan persebaran Covid-19 di pasar, pihaknya memaksimalkan penerapan prokes ketat. ’’Sebagain besar pedagang sudah vaksin. Dan kalau prokes memakai masker itu sudah dipatuhi semua,’’ ungkap Sutikno. (adi/abi) 

(mj/ram/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia