alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Guru Wajib Share Lokasi Terkini

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Setelah empat bulan melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring), siswa akhirnya berkesempatan melakukan tatap muka di kelas bersama guru.

Kegitan belajar mengajar (KBM) tersebut diawali pada hari pertama uji coba pembelajaran di jenjang SMA, SMK, dan SLB, di wilayah Kabupaten Mojokerto mulai Selasa (18/8).

Namun, uji coba pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas dengan hanya diterapkan di tiga lembaga sekolah. Selain itu, pada masa pendemi Covid-19 ini, proses pembelajaran hanya boleh dihadiri 25 persen siswa dengan standar protokol kesehatan yang cukup ketat.

Kendati demikian, dibukanya kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka disambut antusias oleh peserta didik. Ramdhani Yusi Pratama, salah satu siswa SMKN 1 Dlanggu mengungkapkan jika sudah lama menantikan untuk bisa kembali ke sekolah. ’’Alhamdulillah bisa bertemu teman-teman lagi meskipun jarak masih harus berjauhan,’’ terangnya.

Di samping itu, pembelajaran daring juga cukup membuat Ramdhani stres selama masa belajar di rumah. Menurutnya, dia lebih bisa memahami materi jika disampaikan langsung dari guru dibanding dengan pembelajaran online. ’’Selama daring ya stres. Meskipun wifi lancar, tapi tidak bisa diskusi dengan teman untuk belajar,’’ paparnya.

Meski dirasa berat, tetapi dia mengaku tidak terbebani dengan diberlakukannya protokol kesehatan yang ketat di sekolah. Sejak memasuki pintu gerbang sekolah, siswa langsung diukur suhu tubuh dengan thermo gun. Untuk menuju kelas, peserta didik juga harus melalui jalur yang telah ditentukan alurnya.

Baca Juga :  Sekolah Ditutup jika Muncul Kasus Covid-19

Tak hanya itu, sebelum mengikuti pembelajaran, siswa juga diwajibkan untuk melakukan cuci tangan. Dan ketika berada di dalam kelas, tempat duduk juga diatur untuk single sit dengan menerapkan sistem pembagian jadwal ganjil-genap.

Kepala SMKN 1 Dlanggu Muharto menjelaskan, penerapan protokol kesehatan tidak hanya cukup dilakukan ketika berada di lingkungan sekolah. Pasalnya, risiko penularan Covid-19 juga berpotensi terjadi di luar sekolah. Sehingga, setelah pebelejaran usai, siswa diminta langsung pulang ke rumah. ’’Untuk bapak-ibu guru juga demikian, setiap dua hari sekali wajib share lokasi,’’ imbuhnya.

Dia menjelaskan, selama uji coba ini, penjadwalan guru juga dibagi menjadi dua gelombang. Bagi guru yang belum mendapat giliran untuk mengajar di kelas, selama di rumah yang bersangkutan harus membagikan lokasi terkininya.

Muharto menyebut, hal itu dilakukan untuk memastikan mobilitas guru selama di rumah. Sehingga bisa memberikan rasa aman ketika guru tersebut mendapat giliran megajar tatap muka. ’’Apabila ragu-ragu karena merasa tidak aman, bapak-ibu guru boleh mengajukan izin untuk isolasi mandiri 14 di rumah,’’ tandasnya.

Sementara itu, pembelajaran tatap muka juga dilakukan di lembaga pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (PK-PLK). Lembaga yang ditunjuk adalah SLB Negeri Seduri, Kecamatan Mojosari. Kemarin, lembaga ini telah mulai melakukan tatap muka.

Karena waktu pembelajaran yang terbatas, pihak sekolah memprioritaskan untuk pembelajaran prakarya. ’’Hanya di jenjang SMALB saja. Kebetulan hari ini ada praktik membatik,’’ terang Plt Kepala SLB Negeri Seduri Tatok Budi Utomo, kemarin.

Baca Juga :  Lakukan Sekolah Offline Berlabel Home Visite

Selain itu, lembaga lain yang mulai melakukan uji coba tatap muka adalah SMA Diponegoro Gondang.

Kepala Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto Kresna Herlambang menambahkan, uji coba pembelajaran secara tatap muka di jenjang SMA, SMK, dan SLB sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Menurutnya, pelaksanan uji coba tatap muka di tiga lembaga sekolah di Kabupaten Mojokerto juga dilakukan pembatasan minimal 25 persen dari total jumlah peserta didik. Sebelumnya, pihaknya mengaku telah mengecek kesiapan fasilitas protokol kesehatan di sekolah yang telah ditunjuk sebagai pilot project sebelum dilakukan uji coba pembelajaran tatap muka tersebut.

Nantinya, masing-masing dari tiga sekolah itu akan melakukan evaluasi secara simultan untuk memastikan penerapan protokol kesehatan secara efektif  selama masa uji coba tatap muka yang berlangsung dua pekan ini. ’’Nanti akan dilakukan evaluasi untuk memastikan tidak ada kejadian selama pembelajaran tatap muka,’’ imbuhnya.

Tak kalah penting, kata dia, peserta didk yang mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka dipastikan sudah mengantongi surat pernyataan dari wali murid. Masing-masing sekolah telah meminta persetujuan wali murid sebelumnya. ’’Karena ini menyangkut kepercayaan. Kalau orang tua sepakat sesuai surat pernyataan, maka dipastikan siswa bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Tapi kalau tidak berkenan, dapat melalui daring,’’ pungkas mantan Kacabdin Wilayah Probolinggo ini.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Setelah empat bulan melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring), siswa akhirnya berkesempatan melakukan tatap muka di kelas bersama guru.

Kegitan belajar mengajar (KBM) tersebut diawali pada hari pertama uji coba pembelajaran di jenjang SMA, SMK, dan SLB, di wilayah Kabupaten Mojokerto mulai Selasa (18/8).

Namun, uji coba pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas dengan hanya diterapkan di tiga lembaga sekolah. Selain itu, pada masa pendemi Covid-19 ini, proses pembelajaran hanya boleh dihadiri 25 persen siswa dengan standar protokol kesehatan yang cukup ketat.

Kendati demikian, dibukanya kembali sekolah untuk pembelajaran tatap muka disambut antusias oleh peserta didik. Ramdhani Yusi Pratama, salah satu siswa SMKN 1 Dlanggu mengungkapkan jika sudah lama menantikan untuk bisa kembali ke sekolah. ’’Alhamdulillah bisa bertemu teman-teman lagi meskipun jarak masih harus berjauhan,’’ terangnya.

Di samping itu, pembelajaran daring juga cukup membuat Ramdhani stres selama masa belajar di rumah. Menurutnya, dia lebih bisa memahami materi jika disampaikan langsung dari guru dibanding dengan pembelajaran online. ’’Selama daring ya stres. Meskipun wifi lancar, tapi tidak bisa diskusi dengan teman untuk belajar,’’ paparnya.

Meski dirasa berat, tetapi dia mengaku tidak terbebani dengan diberlakukannya protokol kesehatan yang ketat di sekolah. Sejak memasuki pintu gerbang sekolah, siswa langsung diukur suhu tubuh dengan thermo gun. Untuk menuju kelas, peserta didik juga harus melalui jalur yang telah ditentukan alurnya.

Baca Juga :  Sekolah Offline, Berlabel Home Visite
- Advertisement -

Tak hanya itu, sebelum mengikuti pembelajaran, siswa juga diwajibkan untuk melakukan cuci tangan. Dan ketika berada di dalam kelas, tempat duduk juga diatur untuk single sit dengan menerapkan sistem pembagian jadwal ganjil-genap.

Kepala SMKN 1 Dlanggu Muharto menjelaskan, penerapan protokol kesehatan tidak hanya cukup dilakukan ketika berada di lingkungan sekolah. Pasalnya, risiko penularan Covid-19 juga berpotensi terjadi di luar sekolah. Sehingga, setelah pebelejaran usai, siswa diminta langsung pulang ke rumah. ’’Untuk bapak-ibu guru juga demikian, setiap dua hari sekali wajib share lokasi,’’ imbuhnya.

Dia menjelaskan, selama uji coba ini, penjadwalan guru juga dibagi menjadi dua gelombang. Bagi guru yang belum mendapat giliran untuk mengajar di kelas, selama di rumah yang bersangkutan harus membagikan lokasi terkininya.

Muharto menyebut, hal itu dilakukan untuk memastikan mobilitas guru selama di rumah. Sehingga bisa memberikan rasa aman ketika guru tersebut mendapat giliran megajar tatap muka. ’’Apabila ragu-ragu karena merasa tidak aman, bapak-ibu guru boleh mengajukan izin untuk isolasi mandiri 14 di rumah,’’ tandasnya.

Sementara itu, pembelajaran tatap muka juga dilakukan di lembaga pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (PK-PLK). Lembaga yang ditunjuk adalah SLB Negeri Seduri, Kecamatan Mojosari. Kemarin, lembaga ini telah mulai melakukan tatap muka.

Karena waktu pembelajaran yang terbatas, pihak sekolah memprioritaskan untuk pembelajaran prakarya. ’’Hanya di jenjang SMALB saja. Kebetulan hari ini ada praktik membatik,’’ terang Plt Kepala SLB Negeri Seduri Tatok Budi Utomo, kemarin.

Baca Juga :  Lakukan Sekolah Offline Berlabel Home Visite

Selain itu, lembaga lain yang mulai melakukan uji coba tatap muka adalah SMA Diponegoro Gondang.

Kepala Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto Kresna Herlambang menambahkan, uji coba pembelajaran secara tatap muka di jenjang SMA, SMK, dan SLB sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Menurutnya, pelaksanan uji coba tatap muka di tiga lembaga sekolah di Kabupaten Mojokerto juga dilakukan pembatasan minimal 25 persen dari total jumlah peserta didik. Sebelumnya, pihaknya mengaku telah mengecek kesiapan fasilitas protokol kesehatan di sekolah yang telah ditunjuk sebagai pilot project sebelum dilakukan uji coba pembelajaran tatap muka tersebut.

Nantinya, masing-masing dari tiga sekolah itu akan melakukan evaluasi secara simultan untuk memastikan penerapan protokol kesehatan secara efektif  selama masa uji coba tatap muka yang berlangsung dua pekan ini. ’’Nanti akan dilakukan evaluasi untuk memastikan tidak ada kejadian selama pembelajaran tatap muka,’’ imbuhnya.

Tak kalah penting, kata dia, peserta didk yang mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka dipastikan sudah mengantongi surat pernyataan dari wali murid. Masing-masing sekolah telah meminta persetujuan wali murid sebelumnya. ’’Karena ini menyangkut kepercayaan. Kalau orang tua sepakat sesuai surat pernyataan, maka dipastikan siswa bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Tapi kalau tidak berkenan, dapat melalui daring,’’ pungkas mantan Kacabdin Wilayah Probolinggo ini.

Artikel Terkait

Most Read

Salip Truk, Pemotor Tewas Terlindas

Pajak Kendaraan Bermotor Dihapus

Tinggal Selangkah Lagi

Artikel Terbaru


/