alexametrics
31.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Mesin PCR Milik Pemkab Senilai Rp 1,8 Miliar Belum Berfungsi Maksimal

Seminggu lebih beroperasi, mesin polymerase chain reaction (PCR) baru milik Pemkab Mojokerto belum sepenuhnya berfungsi maksimal. Meski sudah mampu memeriksa orang-orang yang berisiko tinggi tertular dan menularkan Covid-19, namun jumlahnya dianggap masih cukup terbatas.

MINIMNYA ketersediaan kit-reagen sebagai bahan pengecekan spesimen swab menjadi kendala utama upaya testing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Kabupaten Mojokerto. Kendala ini pun yang masih terus diupayakan tim medis guna mempercepat upaya penurunan risiko penularan Covid-19 sesuai target dua minggu yang dicanangkan Kapolda Jatim Irjen Pol Mohammad Fadil Imran.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, mesin PCR yang didatangkan langsung dari Jakarta tersebut telah aktif beroperasi sejak akhir pekan lalu. Diletakkan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, mesin PCR hasil pengadaan dinkes itu sudah aktif menguji ratusan spesimen swab untuk mendeteksi SARS-CoV-2.

Dinakhodai lima orang teknisi hasil pendidikan khusus Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Jatim, mesin aktif berjalan setiap hari mulai pagi hingga sore. ’’Sudah aktif kok. Sejak minggu kemarin sudah di-trial sama tim dari BBTKL Surabaya,’’ ujar dr Sujatmiko, Kadinkes Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Pekerja Asing Warnai Perusahaan di Mojokerto, Pemda Geledah Dokumen

Hanya, Sujatmiko mengaku efektifitas mesin seharga Rp 1,8 miliar itu belum bisa sepenuhnya optimal. Di mana, kemampuan PCR tersebut masih mampu mendeteksi 50 sampai 100 spesimen swab per hari. Jumlah tersebut dianggap masih jauh dari kemampuan awal pengadaan. Yang diperkirakan bisa menguji 100 hingga 150 swab pasien per hari.

Keterbatasan itu diakui tak lepas dari minimnya stok kit-reagen yang diterima dari Pemprov Jatim. Kit-reagen sangat penting lantaran sifatnya sebagai pendukung mendeteksi virus. Yang fungsinya mengubah genom SARS-CoV-2 yang semula berbasis RNA (ribonucleic acid) menjadi DNA (deoxyribonucleic acid) sebelum dideteksi PCR.

Artinya, ketika stok kit-reagen sedikit, maka  spesimen swab yang diuji pun hanya sedikit. Sehingga tim medis dari Labkesda terpaksa membatasi jumlah spesimen yang bisa diuji. ’’Kan pemeriksaan juga tergantung dari stok reagen-nya. Mesinnya nggak bisa menguji kalau nggak ada reagen,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Mendag Lutfi Puji Inisiatif Penyelenggara Pameran Tenun Batak

Meski demikian, keterbatasan kit-reagen tersebut dianggap masih layak untuk mendukung pelaksanaan testing, tracing, dan treatment sebagai langkah percepatan penurunan epidemiologi Covid-19 di Kabupaten. Mengingat, GTPPC juga masih mengandalkan pelaksanaan uji swab di mesin PCR milik BBTKL Jatim di Surabaya.

Tidak hanya itu, untuk lebih mengoptimalkan mesin PCR Labkesda, tim tracing dari Dinkes Kabupaten Mojokerto juga berupaya bisa mendapatkan rekomendasi dari Balitbangkes pusat. Rekomendasi tersebut menjadi legalitas utama agar pelaksanaan dan hasil uji swab diakui secara sah dan mutakhir.

Sehingga bisa mendapatkan stok kit-reagen tanpa harus bergantung pada BBTKL Surabaya. ’’Sebenarnya kami sudah sah untuk melaksanakan uji swab. Tapi, misalkan bisa mendapat rekomendasi dari Balitbangkes, kami tidak banyak tergantung dari BBTKL Jatim. Bisa langsung mengakses kebutuhan dari pusat,’’ tambah dr Langit Kresna Janitra, Humas GTPPC Kabupaten Mojokerto.

Seminggu lebih beroperasi, mesin polymerase chain reaction (PCR) baru milik Pemkab Mojokerto belum sepenuhnya berfungsi maksimal. Meski sudah mampu memeriksa orang-orang yang berisiko tinggi tertular dan menularkan Covid-19, namun jumlahnya dianggap masih cukup terbatas.

MINIMNYA ketersediaan kit-reagen sebagai bahan pengecekan spesimen swab menjadi kendala utama upaya testing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC) Kabupaten Mojokerto. Kendala ini pun yang masih terus diupayakan tim medis guna mempercepat upaya penurunan risiko penularan Covid-19 sesuai target dua minggu yang dicanangkan Kapolda Jatim Irjen Pol Mohammad Fadil Imran.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, mesin PCR yang didatangkan langsung dari Jakarta tersebut telah aktif beroperasi sejak akhir pekan lalu. Diletakkan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, mesin PCR hasil pengadaan dinkes itu sudah aktif menguji ratusan spesimen swab untuk mendeteksi SARS-CoV-2.

Dinakhodai lima orang teknisi hasil pendidikan khusus Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Jatim, mesin aktif berjalan setiap hari mulai pagi hingga sore. ’’Sudah aktif kok. Sejak minggu kemarin sudah di-trial sama tim dari BBTKL Surabaya,’’ ujar dr Sujatmiko, Kadinkes Kabupaten Mojokerto, kemarin.

Baca Juga :  Reklame Ilegal Menjamur di Kota Mojokerto

Hanya, Sujatmiko mengaku efektifitas mesin seharga Rp 1,8 miliar itu belum bisa sepenuhnya optimal. Di mana, kemampuan PCR tersebut masih mampu mendeteksi 50 sampai 100 spesimen swab per hari. Jumlah tersebut dianggap masih jauh dari kemampuan awal pengadaan. Yang diperkirakan bisa menguji 100 hingga 150 swab pasien per hari.

Keterbatasan itu diakui tak lepas dari minimnya stok kit-reagen yang diterima dari Pemprov Jatim. Kit-reagen sangat penting lantaran sifatnya sebagai pendukung mendeteksi virus. Yang fungsinya mengubah genom SARS-CoV-2 yang semula berbasis RNA (ribonucleic acid) menjadi DNA (deoxyribonucleic acid) sebelum dideteksi PCR.

- Advertisement -

Artinya, ketika stok kit-reagen sedikit, maka  spesimen swab yang diuji pun hanya sedikit. Sehingga tim medis dari Labkesda terpaksa membatasi jumlah spesimen yang bisa diuji. ’’Kan pemeriksaan juga tergantung dari stok reagen-nya. Mesinnya nggak bisa menguji kalau nggak ada reagen,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Mendag Lutfi Puji Inisiatif Penyelenggara Pameran Tenun Batak

Meski demikian, keterbatasan kit-reagen tersebut dianggap masih layak untuk mendukung pelaksanaan testing, tracing, dan treatment sebagai langkah percepatan penurunan epidemiologi Covid-19 di Kabupaten. Mengingat, GTPPC juga masih mengandalkan pelaksanaan uji swab di mesin PCR milik BBTKL Jatim di Surabaya.

Tidak hanya itu, untuk lebih mengoptimalkan mesin PCR Labkesda, tim tracing dari Dinkes Kabupaten Mojokerto juga berupaya bisa mendapatkan rekomendasi dari Balitbangkes pusat. Rekomendasi tersebut menjadi legalitas utama agar pelaksanaan dan hasil uji swab diakui secara sah dan mutakhir.

Sehingga bisa mendapatkan stok kit-reagen tanpa harus bergantung pada BBTKL Surabaya. ’’Sebenarnya kami sudah sah untuk melaksanakan uji swab. Tapi, misalkan bisa mendapat rekomendasi dari Balitbangkes, kami tidak banyak tergantung dari BBTKL Jatim. Bisa langsung mengakses kebutuhan dari pusat,’’ tambah dr Langit Kresna Janitra, Humas GTPPC Kabupaten Mojokerto.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/