alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Pandemi Covid-19 dan Wabah Tak Sadar Diri

ADA seorang kiai membeli mobil mewah seharga hampir Rp 1 miliar. Padahal, di rumah sang kiai ini sudah ada beberapa unit mobil yang rata-rata harganya juga cukup mahal. Kira-kira mencapai Rp 500 jutaan per unit.

Kemudian dipakai lah mobil mewah itu untuk rutinitas pengajian dan kegiatan sosial keagamaan. Suatu ketika ada seorang tamu datang di kediaman kiai tersebut untuk bersilaturahmi sekaligus sowan.

Namun, begitu melihat deretan mobil mewah terparkir di depan rumah sekaligus sebagai garasi mobil, hati dan pikiran sang tamu langsung dipenuhi pertanyaan. Hingga akhirnya dia tak mampu menahan apa yang ada dalam hati dan pikirannya.

Sampai akhirnya dia menuangkannya dalam bentuk pertanyaan seketika saat dipersilakan sang kiai duduk di ruang tamu.

”Mohon maaf kiai,” ujar tamu mengawali pertanyaan.

”Itu mobil mewah, punya kiai?” imbuhnya.

“Ya,” jawab kiai singkat.

”Itu mobil saya,” tegas sang kiai.

”Kenapa?,” kiai balik bertanya.

”Enggak apa-apa, kiai,” lontar tamu dengan nada ringan.

”Ngomong-ngomong, harganya berapa, kok (mobilnya) keren banget?,” lontar tamu dengan nada mengejar.

“Ah, itu mobil murah, cuma Rp 1 miliar,” terang sang kiai lagi.

Mendengar jawaban itu, sang tamu tercengang. Mungkin benaknya memberontak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya mata inderanya sembari hatinya merespons dan menggumam. Mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren dan mengaji keliling-keliling, mampu membeli mobil dengan harga fantastis..?!

Entah apa yang dipikirkan si tamu. Bahkan, di luar dugaan, dia justru memberanikan diri untuk menegur sang kiai.

“Mohon maaf, kiai. Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?,” selorohnya.

Baca Juga :  Menjaga Kebugaran dengan Bersepeda, Manfaatnya All-in-One

“Kok bisa..?!” sahut kiai menanyakan maksud pertanyaan tamu.

“Ya jelas. Karena kiai membeli mobil mewah. Padahal sudah punya beberapa mobil mahal,” imbuh tamu.

Sang kiai ini lantas menanggapinya dengan santai sembari tersenyum ringan.

”Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya?,” terangnya.

“Kalau saya rutin salat malam, kenapa orang tidak ingin seperti saya?!” tambahnya.

“Kalau saya rutin membaca Alquran dan berzikir, kenapa mereka tak ingin seperti saya?!” tegasnya.

“Kalau saya rutin bersedekah sejak saya masih miskin sampai sekarang, kenapa mereka tak ingin seperti saya?!” tuturnya.

“Kalau saya selalu berbuat baik, kenapa orang tak ingin selalu berbuat baik seperti saya?!” jelasnya dengan maksud menanyakan balik.

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan kiai. Perlahan ia pun tersadar bahwa dirinya terkena wabah iri hati terhadap hal-hal duniawi dan tidak sadar diri, bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. Karena sesungguhnya cinta dunia tidak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki.

Di mana zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah termasuk masuk cinta dunia.

Dunia kita sedang dilanda pandemi coronavirus disease 2019 (Corona-19). Kemudian kita tambahi sendiri dengan wabah tidak sadar diri dan lain-lain.Sebagai bahan evaluasi dan renungan, kita tidak pernah ikut berjuang memutus rantai penyebaran virus korona, tapi kita berharap situasi dan kondisi ini segera berakhir.

Kita yang selama ini tidak pernah saling membantu menyisihkan sebagian harta kita untuk mereka-mereka yang lebih membutuhkan, tanpa punya rasa malu teriak-teriak soal ekonomi melemah.

Baca Juga :  Jatah Honor Direfocusing, Perawat Desa Gigit Jari

Bahkan, kita yang tidak pernah ikut gotong-royong di lingkungan, tingkat RT, RW dan perkampungan sekalipun, kita sudah berani mengkritik kebijakan pemerintah selevel gubernur atau bahkan Presiden.

Sing kelase ora tau gelem urunan/gantian mbayari mangan bareng nang warung ae wes wani nduwe cita-cita arep ngedekno negoro dewe. (Yang kelasnya tidak pernah gantian mentraktir makan-makan di warung saja sudah berani menaruh cita-cita mendirikan negara sendiri).

Demikian pun, wabah terlalu banyak bermain handphone, wabah drakor (drama korea), wabah latah sepeda pancal, wabah live streaming, wabah update status bagi-bagi sembako. Padahal, ya cuma ingin mencalonkan kepala desa (kades), dan masih banyak lagi. 

Karenanya, bagi teman, sahabat, atau saudara-saudaraku yang merasa sebagai santri dan pernah lantang berbicara: Nderek Kiai sampai Mati, teladani lah semua sikap dan perilakunya. Baik kepada para kiai atau guru-guru kita, khususnya dalam menghadapi situasi (Covid-19) kali ini. Patuhi instruksi dan dawuh-dawuh beliau-beliau.

”Meninggalkan kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil keuntungan (manfaat).” Jangan menunggu sampai beliau-beliau berbicara seperti kisah di atas (baik di dunia atau akhirat). ”Kenapa kalian mengaku santri tapi tidak menirukan perilaku baikku dan mematuhi perintahku,” begitu pesan kiai. ”Tidak berbahaya dan tidak (jangan) pula membahayakan,” begitu dawuh orang alim.

”Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216). (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.  

ADA seorang kiai membeli mobil mewah seharga hampir Rp 1 miliar. Padahal, di rumah sang kiai ini sudah ada beberapa unit mobil yang rata-rata harganya juga cukup mahal. Kira-kira mencapai Rp 500 jutaan per unit.

Kemudian dipakai lah mobil mewah itu untuk rutinitas pengajian dan kegiatan sosial keagamaan. Suatu ketika ada seorang tamu datang di kediaman kiai tersebut untuk bersilaturahmi sekaligus sowan.

Namun, begitu melihat deretan mobil mewah terparkir di depan rumah sekaligus sebagai garasi mobil, hati dan pikiran sang tamu langsung dipenuhi pertanyaan. Hingga akhirnya dia tak mampu menahan apa yang ada dalam hati dan pikirannya.

Sampai akhirnya dia menuangkannya dalam bentuk pertanyaan seketika saat dipersilakan sang kiai duduk di ruang tamu.

”Mohon maaf kiai,” ujar tamu mengawali pertanyaan.

”Itu mobil mewah, punya kiai?” imbuhnya.

- Advertisement -

“Ya,” jawab kiai singkat.

”Itu mobil saya,” tegas sang kiai.

”Kenapa?,” kiai balik bertanya.

”Enggak apa-apa, kiai,” lontar tamu dengan nada ringan.

”Ngomong-ngomong, harganya berapa, kok (mobilnya) keren banget?,” lontar tamu dengan nada mengejar.

“Ah, itu mobil murah, cuma Rp 1 miliar,” terang sang kiai lagi.

Mendengar jawaban itu, sang tamu tercengang. Mungkin benaknya memberontak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya mata inderanya sembari hatinya merespons dan menggumam. Mana mungkin seorang kiai yang kesibukanya mengajar di pesantren dan mengaji keliling-keliling, mampu membeli mobil dengan harga fantastis..?!

Entah apa yang dipikirkan si tamu. Bahkan, di luar dugaan, dia justru memberanikan diri untuk menegur sang kiai.

“Mohon maaf, kiai. Anda ini seorang kiai kenapa Anda mengajarkan kepada santri untuk cinta dengan duniawi?,” selorohnya.

Baca Juga :  Faskes Dilarang Tolak Pasien

“Kok bisa..?!” sahut kiai menanyakan maksud pertanyaan tamu.

“Ya jelas. Karena kiai membeli mobil mewah. Padahal sudah punya beberapa mobil mahal,” imbuh tamu.

Sang kiai ini lantas menanggapinya dengan santai sembari tersenyum ringan.

”Kalau orang melihat saya beli mobil, lalu mereka ingin seperti saya?,” terangnya.

“Kalau saya rutin salat malam, kenapa orang tidak ingin seperti saya?!” tambahnya.

“Kalau saya rutin membaca Alquran dan berzikir, kenapa mereka tak ingin seperti saya?!” tegasnya.

“Kalau saya rutin bersedekah sejak saya masih miskin sampai sekarang, kenapa mereka tak ingin seperti saya?!” tuturnya.

“Kalau saya selalu berbuat baik, kenapa orang tak ingin selalu berbuat baik seperti saya?!” jelasnya dengan maksud menanyakan balik.

Mendengar jawaban sang kiai, si tamu pun terdiam. Tampak merenung dengan apa yang disampaikan kiai. Perlahan ia pun tersadar bahwa dirinya terkena wabah iri hati terhadap hal-hal duniawi dan tidak sadar diri, bukan iri terhadap hal-hal ukhrawi. Karena sesungguhnya cinta dunia tidak diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki.

Di mana zuhud seseorang bergantung pada sikap batinnya. Seseorang yang memiliki kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, meski tampak tak punya harta sama sekali, itu sudah termasuk masuk cinta dunia.

Dunia kita sedang dilanda pandemi coronavirus disease 2019 (Corona-19). Kemudian kita tambahi sendiri dengan wabah tidak sadar diri dan lain-lain.Sebagai bahan evaluasi dan renungan, kita tidak pernah ikut berjuang memutus rantai penyebaran virus korona, tapi kita berharap situasi dan kondisi ini segera berakhir.

Kita yang selama ini tidak pernah saling membantu menyisihkan sebagian harta kita untuk mereka-mereka yang lebih membutuhkan, tanpa punya rasa malu teriak-teriak soal ekonomi melemah.

Baca Juga :  Honor Petugas Vaksin Dihitung Tiap Suntikan

Bahkan, kita yang tidak pernah ikut gotong-royong di lingkungan, tingkat RT, RW dan perkampungan sekalipun, kita sudah berani mengkritik kebijakan pemerintah selevel gubernur atau bahkan Presiden.

Sing kelase ora tau gelem urunan/gantian mbayari mangan bareng nang warung ae wes wani nduwe cita-cita arep ngedekno negoro dewe. (Yang kelasnya tidak pernah gantian mentraktir makan-makan di warung saja sudah berani menaruh cita-cita mendirikan negara sendiri).

Demikian pun, wabah terlalu banyak bermain handphone, wabah drakor (drama korea), wabah latah sepeda pancal, wabah live streaming, wabah update status bagi-bagi sembako. Padahal, ya cuma ingin mencalonkan kepala desa (kades), dan masih banyak lagi. 

Karenanya, bagi teman, sahabat, atau saudara-saudaraku yang merasa sebagai santri dan pernah lantang berbicara: Nderek Kiai sampai Mati, teladani lah semua sikap dan perilakunya. Baik kepada para kiai atau guru-guru kita, khususnya dalam menghadapi situasi (Covid-19) kali ini. Patuhi instruksi dan dawuh-dawuh beliau-beliau.

”Meninggalkan kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil keuntungan (manfaat).” Jangan menunggu sampai beliau-beliau berbicara seperti kisah di atas (baik di dunia atau akhirat). ”Kenapa kalian mengaku santri tapi tidak menirukan perilaku baikku dan mematuhi perintahku,” begitu pesan kiai. ”Tidak berbahaya dan tidak (jangan) pula membahayakan,” begitu dawuh orang alim.

”Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216). (ris)

*)Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.  

Artikel Terkait

Most Read

APV Sasar Empat Motor, Tiga Tewas Sekaligus

Tunggu Hasil Praporprov

Muslimah pun Membantu Menghias Kelenteng

Sulap Gang Sepi Jadi Wisata Bibit

Artikel Terbaru


/