Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Mojokerto
icon featured
Mojokerto
Tersangka TPPU Mabes Polri, Dianus Pionam

Terdakwa Hanya Didakwa Penjual, Bukan Importir

18 September 2021, 10: 30: 59 WIB | editor : Imron Arlado

Terdakwa Hanya Didakwa Penjual, Bukan Importir

TERUNGKAP: Ribuan butir obat cytotex sebagai barang bukti kasus aborsi yang diamankan dari para tersangka saat dirilis di Mapolres Mojokerto, 8 Maret lalu. Barang bukti itu dipasok dari Dianus Pionam yang kini ditetapkan tersangka TPPU oleh Mabes Polri. (MARTDA VADETYA/radarmojokerto.id)

Share this      

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dianus Pionam, 55, warga Pantai Mutiara, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara yang terseret kasus peredaran obat aborsi, sudah memasuki proses persidangan di Pengadilan Negeri Mojokerto. Saat ini, proses persidangan sudah berlangsung lima kali. Selama persidangan, terdakwa hanya didakwa telah menjual obat terlarang dan bukan sebagai importir.

Hal itu terungkap dalam sipp.pn.mojokerto.go.id. Di laman resmi PN Mojokerto ini disebutkan, persidangan miliuner yang menjalani tahanan rumah ini sempat tertunda saat agenda sidang perdana berlangsung. ’’Saat itu, ketua PN sedang berhalangan,’’ kata Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko Wibowo, Jumat (17/9).

Sidang kasus ini dimulai 10 Agustus lalu. Agenda sidang perdana ini gagal dan ditunda 18 Agustus dengan agenda pembacaan dakwaan. Sayangnya, rencana sidang yang dilanjutkan dengan pemeriksaan sejumlah saksi, urung digelar. Saat itu, jaksa tak sukses menghadirkan seluruh saksi.

Baca juga: Ubah Paradigma Pembangunan untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi

Sidang kemudian ditunda 25 Agustus, 8 September dan 15 September. ’’Sekarang sidangnya, (memasuki) keterangan saksi ahli. Kita masih nunggu konfirmasi dari ahli. Baru hari ini (kemarin) kita kirim suratnya. Baru setelah itu dilanjutkan keterangan terdakwa. Baru masuk pada tuntutan,’’ ungkapnya.

Yoko mengaku tak tahu menahu kasus TPPU yang ditangani mabes Polri atas kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Hanya saja, dia menyebut, tersangka masih menjadi terdakwa kasus dugaan penyedia obat cytotex yang digunakan salah satu konsumen Nungki Marinda Sari, 25, warga Kediri yang tinggal di Pungging, Mojokerto sebagai obat penggugur kandungan.

Kini status NMS menjalani hukuman penjara setelah divonis Hakim PN Mojokerto dengan pidana penjara 2 tahun 6 bulan dengan denda Rp 1 miliar subsider kurungan enam bulan, pada Rabu 4 Agustus lalu.

Di tengah persidangan, status terdakwa saat ini menjadi tahanan kota. Terdakwa menderita penyakit diabetes militus akut dan hipertensi (darah tinggi) sebagaimana disebut di BAP Polres Mojokerto. Hal ini berjalan lurus dengan penangguhan penahanan oleh Penyidik Satreskrim setelah sebelumnya diajukan keluarga dan istrinya sebagai penjamin jika tersangka tidak akan melarikan diri.

Selama menjadi tahanan kota, terdakwa hanya diwajibkan lapor ke kantor Kejari Kabupaten di jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko. ’’Terdakwa tahanan kota. Posisinya sekarang ada di Mojokerto. Selama (tanahan kota) dia tidak boleh keluar dari Mojokerto, dia harus wajib lapor seminggu dua kali. Hari Senin dan Rabu,’’ paparnya.

Hanya saja pihaknya tak mau menyebutkan tempat tinggal terdakwa selama di Kabupaten Mojokerto. Meski hanya sekadar menyebut wilayah kecamatan. ’’No, karena tahanan kami, kami harus menjaga soal itu, di sini ada tapi tidak saya kasih tahu. Rumah kami sediakan, rumah sesuai dengan apa yang kami tunjuk, karena demi keamanan,’’ bebernya.

Sesuai pelimpahan berkas perkara dari penyidik, terdakwa disangka pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1 juncto  pasal 194 juncto  pasal 75 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

Barang bukti yang diamankan berupa 200 strip atau 2.400 butir yang didapat saat penyidikan Polres Mojokerto pada Maret 2021 lalu. BB ini hasil penyitaan dari delapan tersangka lainnya. ’’BB yang didapat dari tersangka hanya satu HP, dan satu ATM BCA. Pelaku lain saat ini sudah putusan Pengadilan Negeri Mojokerto,’’ jelasnya.

Ivan mengaku belum mengetahui detail dari mana obat yang dijual tersebut. Namun, sesuai BAP, jika obat cytotex itu berasal dari teman-temannya yang tidak dijelaskan berasal dari dalam negeri atau luar negeri. Sesuai BAP, Dianos Pionam, juga hanya bertindak sebagai penjual bukan importir. ’’Kalau dapat dari luar negeri atau dari mana tidak disebutkan. Sebab sekarang tahapan persidangannya belum sampai pemeriksaan terdakwa,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Dianus Pionam ini terungkap dari hasil dari pengembangan kasus aborsi yang dilakukan Nungki Marinda Sari pada Februari lalu. Dari Nungki ini, mengembang ke delapan pelaku lainnya.

Masing-masing, Zulmi Auliya, Mochammad Ardian Rachman, Rohman, Suparno, Ernawati, Jong Fuk Liong, Supardi, dan Dianus Pionam. Tujuh pelaku yang kini berstatus narpidana tengah jalani hukuman penjara dari vonis hakim PN Mojokerto, 8 bulan penjara dan denda Rp 30 juta subsider 1 bulan.

Humas PN Mojokerto Dr Pandu Dewanto, Sh., MH, membenarkan jika status Dianus Pionam masih tahap persidangan. Sementara delapan lainnya sudah vonis. ’’Kebetulan tiga (terdakwa) saya anggota majelisnya. Kalau tidak salah vonisnya 8 bulan, tapi untuk pastinya saya harus lihat di SIPP karena sudah tidak ingat lagi. Vonisnya sudah 2-3 minggu lalu,’’ ungkapnya. 

(mj/ori/ron/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia