alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tak Disokong Anggaran, Tim Pemakaman Covid-19 Mundur

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Semangat tim relawan membantu penanganan pemulasaran hingga pemakaman korban Covid-19 nyatanya tak diimbangi dengan kepedulian pemerintah. Terbukti, sudah tiga hari ini tim kemanusiaan memutuskan mengundurkan diri dari tim pemulasaran dan pemakaman korban Covid-19 di Kabupaten Mojokerto.

’’Untuk sementara sejak tanggal 15 Agustus kemarin, giat (terlibat pemakaman, Red) kami hentikan karena kehabisan biaya operasional,’’ ungkap Didik Soedarsono, relawan dari PMI Kabupaten Mojokerto, kemarin. Diakuinya, penghentian untuk tidak lagi terlibat penanganan korban Covid-19 dirasa cukup berat, karena bertolak belakang dengan prinsip kemanusiaan. Namun, karena tak ada pilihan lain, langkah ini terpaksa diambil bersama tim dengan berbagai pertimbangan.

Ini sekaligus sebagai langkah relawan agar pemerintah tidak memandang sebelah mata tim kemanusian. ’’Kami tidak lagi membantu pemakaman sampai kita ada biaya operasional lagi,’’ tambahnya. Biaya operasional yang dimaksud tak lain adalah akomodasi selama proses pemakaman. Seperti transportasi, dan konsumsi. Bukan karena alasan insentif secara pribadi. ’’Yang jelas betul-betul tidak ada. Dan saya kasihan kepada anak-anak (tim) yang bertugas. Masak tidak ada ucapan terima kasih sama sekali,’’ sesalnya. ’’Selama ini pembelian BBM ambulans dan makan tim, kebanyakan dari dana pribadi,’’ imbuh Didik.

Baca Juga :  Ini Pesan Gus Mus soal Teror Kiai dan Tokoh Agama di Indonesia

Hal berbeda justru diketahui di mana anggaran percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto mencapai Rp 64 miliar. ’’Ada pernah semalam tiga lokasi. Bahkan, subuh ke pagi dua lokasi. Sampai saat ini sudah 120 kali pemakaman,’’ terang Didik. Relawan lainnya menambahkan, hingga kini memang tidak pernah ada insentif yang diterima. Meski tak mendapat upah, dirinya bersama relawan lain tetap melakukan dengan semangat.

Mereka tak pernah menuntut untuk menunjang pekerjaan yang sudah berbulan-bulan dijalani. ’’Kondisi sehat bagi kami sudah cukup dan sangat bersyukur. Tapi, bukan berarti kami menolak jika ada apresiasi dari pemerintah,’’ ungkap relawan yang menolak identitasnya disebutkan ini. Selain masih bisa bekerja, dia mengaku masih bisa bermanfaat terhadap sesama. ’’Kami ikhlas. Memang tak mengharapkan itu. Tapi, kalau diperhatian kami sangat bersyukur. Kadang dapat nasi bungkusan dibelikan kepala desanya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Takut Mati, Diobral dengan Harga Murah

Di samping itu, selama beberapa bulan menjadi tim relawan pemulasaran hingga pemakaman jenazah, banyak hal yang tak terlupakan baginya. Mulai dari kekhawatiran keluarga hingga kejadian yang membuat mereka merasa waswas. ’’Lebih sering waswas ketika ada penolakan dan tidak mau dilakukan dengan sistem protokol kesehatan,’’ tuturnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto meminta Jawa Pos Radar Mojokerto agar menanyakan hal tersebut kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Menyusul, selama ini dinkes sebagai leading sector penanganan pemulasaraan dan pemakaman korban Covid-19. ’’Kalau soal pemulasaran jenazah,lebih jelasnya langsung ke dinkes. Yang punya kewenangan OPD terkait adalah dinkes,’’katanya.Terpisah, Kadinkes Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko hingga tadi malam belum bisa dikonfirmasi. Saat Jawa Pos Radar Mojokerto menghubungi melalui telepon tidak kunjung ada respons.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Semangat tim relawan membantu penanganan pemulasaran hingga pemakaman korban Covid-19 nyatanya tak diimbangi dengan kepedulian pemerintah. Terbukti, sudah tiga hari ini tim kemanusiaan memutuskan mengundurkan diri dari tim pemulasaran dan pemakaman korban Covid-19 di Kabupaten Mojokerto.

’’Untuk sementara sejak tanggal 15 Agustus kemarin, giat (terlibat pemakaman, Red) kami hentikan karena kehabisan biaya operasional,’’ ungkap Didik Soedarsono, relawan dari PMI Kabupaten Mojokerto, kemarin. Diakuinya, penghentian untuk tidak lagi terlibat penanganan korban Covid-19 dirasa cukup berat, karena bertolak belakang dengan prinsip kemanusiaan. Namun, karena tak ada pilihan lain, langkah ini terpaksa diambil bersama tim dengan berbagai pertimbangan.

Ini sekaligus sebagai langkah relawan agar pemerintah tidak memandang sebelah mata tim kemanusian. ’’Kami tidak lagi membantu pemakaman sampai kita ada biaya operasional lagi,’’ tambahnya. Biaya operasional yang dimaksud tak lain adalah akomodasi selama proses pemakaman. Seperti transportasi, dan konsumsi. Bukan karena alasan insentif secara pribadi. ’’Yang jelas betul-betul tidak ada. Dan saya kasihan kepada anak-anak (tim) yang bertugas. Masak tidak ada ucapan terima kasih sama sekali,’’ sesalnya. ’’Selama ini pembelian BBM ambulans dan makan tim, kebanyakan dari dana pribadi,’’ imbuh Didik.

Baca Juga :  Berkembang di Mojokerto Tahun 1980, Kini Punya 200 Penganut

Hal berbeda justru diketahui di mana anggaran percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Mojokerto mencapai Rp 64 miliar. ’’Ada pernah semalam tiga lokasi. Bahkan, subuh ke pagi dua lokasi. Sampai saat ini sudah 120 kali pemakaman,’’ terang Didik. Relawan lainnya menambahkan, hingga kini memang tidak pernah ada insentif yang diterima. Meski tak mendapat upah, dirinya bersama relawan lain tetap melakukan dengan semangat.

Mereka tak pernah menuntut untuk menunjang pekerjaan yang sudah berbulan-bulan dijalani. ’’Kondisi sehat bagi kami sudah cukup dan sangat bersyukur. Tapi, bukan berarti kami menolak jika ada apresiasi dari pemerintah,’’ ungkap relawan yang menolak identitasnya disebutkan ini. Selain masih bisa bekerja, dia mengaku masih bisa bermanfaat terhadap sesama. ’’Kami ikhlas. Memang tak mengharapkan itu. Tapi, kalau diperhatian kami sangat bersyukur. Kadang dapat nasi bungkusan dibelikan kepala desanya,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Pendapatan Tiket Masuk Kolam Banyu Panas Masih Menggiurkan

Di samping itu, selama beberapa bulan menjadi tim relawan pemulasaran hingga pemakaman jenazah, banyak hal yang tak terlupakan baginya. Mulai dari kekhawatiran keluarga hingga kejadian yang membuat mereka merasa waswas. ’’Lebih sering waswas ketika ada penolakan dan tidak mau dilakukan dengan sistem protokol kesehatan,’’ tuturnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto meminta Jawa Pos Radar Mojokerto agar menanyakan hal tersebut kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Menyusul, selama ini dinkes sebagai leading sector penanganan pemulasaraan dan pemakaman korban Covid-19. ’’Kalau soal pemulasaran jenazah,lebih jelasnya langsung ke dinkes. Yang punya kewenangan OPD terkait adalah dinkes,’’katanya.Terpisah, Kadinkes Kabupaten Mojokerto dr Sujatmiko hingga tadi malam belum bisa dikonfirmasi. Saat Jawa Pos Radar Mojokerto menghubungi melalui telepon tidak kunjung ada respons.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/