alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Gugurnya sang Kiai Pejuang di Medan Perang

MOJOKERTO – Upacara peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Kamis (17/9) juga dirayakan sebagian besar warga dengan beragam cara dan bentuk. Salah satunya menampilkan teatrikal menceritakan betapa gigihnya semangat perjuangan para pahlawan, baik sebelum maupun pasca kemerdekaan 1945.

Nah, salah satu pejuang asal Mojokerto yang cukup heroik mengusir penjajah di masa lalu itu adalah KH Nawawi. Kiai Nawawi dikenal sebagai salah satu ulama pemberani yang tak segan mempertaruhkan nyawanya di garis depan pertempuran demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Hingga akhirnya harus gugur sahid di tengah pertempuran di Dusun Sumantoro, Desa Pelempungan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Untuk mengingat perjuangan itu, Korem 082/Citra Panca Yudha Jaya (CPYJ) Mojokerto menampilkan kisah Kiai Nawawi dalam bentuk drama kolosal yang diperankan oleh 150 orang. Terdiri dari pelajar dan anggota Korem 082. Drama tersebut berlangsung bersamaan dengan upacara kemerdekaan di lapangan Asrama Korem 082 CPYJ, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Ning Ita Semprot Disinfektan Pakai Mobil Gunner

Di awal drama, menceritakan tentang kemakmuran dan kesuburan Tanah Air Nusantara yang membuat Belanda kembali berambisi merebut kekuasaan Indonesia. Bermula dari pertempuran di Surabaya yang menewaskan Jenderal Mallaby, Belanda tetap ngotot ingin menguasai Indonesia yang terkenal kaya akan sumber daya alam (SDM).

Namun, ambisi Belanda mendapat perlawanan sengit dari rakyat Jawa Timur (Jatim), tak terkecuali Mojokerto. Di mana, Gubernur Suryo bersama Wali Kota Surabaya, Radjamin Nasution, kemudian meminta pasukan dari kalangan santri atau Laskar Hisbullah Mojokerto untuk ikut turun dalam pertempuran.

Tawaran itupun disambut Kiai Nawawi dengan pekikan perjuangan yang dahsyat. Hingga akhirnya pertempuran meletus berkali-kali dan berminggu-minggu di seantaro penjuru Jatim. Namun, di tengah peperangan tersebut, Kiai Nawawi bersama pasukannya kehabisan amunisi. Hingga akhirnya pasukannya meminta untuk mundur. Tapi, kegigihan sang syuhada tak bisa dibendung.

Baca Juga :  Sungai Gunting Penyebab Banjir Jadi Tanggung Jawab BBWS Brantas

Dalam benaknya, sekali langkah maju, pantang untuk mundur. Hingga akhirnya dia dikepung musuh lalu terbunuh. Sutradara drama kolosal perjuangan Kiai Nawawi, Abdul Gani menjelaskan, kisah Kiai Nawawi memang tak bisa disepelekan dalam perjuangan rakyat Indonesia masa lampau. Hal itu terbukti dalam beberapa monumen dan buku yang mengisahkan perjuangan beliau semasa hidup.

Meski berlatar belakang sebagai kiai, namun bertempur melawan penjajah adalah tugas wajib semua rakyat Indonesia. ’’Intinya, kisah beliau dalam mempertahankan kemerdekaan sangat gigih dan berani. Kisah ini yang seharusnya ditiru generasi muda kita dalam berbagai misi, termasuk di dunai pendidikan,’’ pungkasnya.

MOJOKERTO – Upacara peringatan HUT Ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Kamis (17/9) juga dirayakan sebagian besar warga dengan beragam cara dan bentuk. Salah satunya menampilkan teatrikal menceritakan betapa gigihnya semangat perjuangan para pahlawan, baik sebelum maupun pasca kemerdekaan 1945.

Nah, salah satu pejuang asal Mojokerto yang cukup heroik mengusir penjajah di masa lalu itu adalah KH Nawawi. Kiai Nawawi dikenal sebagai salah satu ulama pemberani yang tak segan mempertaruhkan nyawanya di garis depan pertempuran demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Hingga akhirnya harus gugur sahid di tengah pertempuran di Dusun Sumantoro, Desa Pelempungan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.

Untuk mengingat perjuangan itu, Korem 082/Citra Panca Yudha Jaya (CPYJ) Mojokerto menampilkan kisah Kiai Nawawi dalam bentuk drama kolosal yang diperankan oleh 150 orang. Terdiri dari pelajar dan anggota Korem 082. Drama tersebut berlangsung bersamaan dengan upacara kemerdekaan di lapangan Asrama Korem 082 CPYJ, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Baca Juga :  Seragam Gratis Rp 1,6 Miliar Baru Tahap Pemotongan

Di awal drama, menceritakan tentang kemakmuran dan kesuburan Tanah Air Nusantara yang membuat Belanda kembali berambisi merebut kekuasaan Indonesia. Bermula dari pertempuran di Surabaya yang menewaskan Jenderal Mallaby, Belanda tetap ngotot ingin menguasai Indonesia yang terkenal kaya akan sumber daya alam (SDM).

- Advertisement -

Namun, ambisi Belanda mendapat perlawanan sengit dari rakyat Jawa Timur (Jatim), tak terkecuali Mojokerto. Di mana, Gubernur Suryo bersama Wali Kota Surabaya, Radjamin Nasution, kemudian meminta pasukan dari kalangan santri atau Laskar Hisbullah Mojokerto untuk ikut turun dalam pertempuran.

Tawaran itupun disambut Kiai Nawawi dengan pekikan perjuangan yang dahsyat. Hingga akhirnya pertempuran meletus berkali-kali dan berminggu-minggu di seantaro penjuru Jatim. Namun, di tengah peperangan tersebut, Kiai Nawawi bersama pasukannya kehabisan amunisi. Hingga akhirnya pasukannya meminta untuk mundur. Tapi, kegigihan sang syuhada tak bisa dibendung.

Baca Juga :  Sempat Diduduki sebagai Pos Pertahanan Belanda

Dalam benaknya, sekali langkah maju, pantang untuk mundur. Hingga akhirnya dia dikepung musuh lalu terbunuh. Sutradara drama kolosal perjuangan Kiai Nawawi, Abdul Gani menjelaskan, kisah Kiai Nawawi memang tak bisa disepelekan dalam perjuangan rakyat Indonesia masa lampau. Hal itu terbukti dalam beberapa monumen dan buku yang mengisahkan perjuangan beliau semasa hidup.

Meski berlatar belakang sebagai kiai, namun bertempur melawan penjajah adalah tugas wajib semua rakyat Indonesia. ’’Intinya, kisah beliau dalam mempertahankan kemerdekaan sangat gigih dan berani. Kisah ini yang seharusnya ditiru generasi muda kita dalam berbagai misi, termasuk di dunai pendidikan,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/