alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Sadari Kenakalan saat Sujud Akhir

Bulan suci Ramadan tahun ini menjadi anugerah yang luar biasa bagi Ainun Najib, warga Dusun Bending, Desa Kaliasin, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Tepat pada awal Ramadan beberapa hari yang lalu, pemuda berusia 20 tahun ini soalah memperoleh hidayah dari Tuhan. Seketika itu dia sadar bahwa apa yang telah diperbuatnya selama ini jauh menyimpang dari jalan kebenaran.

Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Najib panggilan akrabnya, mulai berteman dengan orang-orang yang berperilaku tidak baik. Hingga terpengaruh melakukan perbuatan yang tidak baik juga.

Mulai sekadar ikut berkumpul, mencicipi narkoba, hingga pada akhirnya kecanduan dengan barang haram itu. ’’Dulu saya hampir setiap hari mengkonsumsi minuman beralkohol. Pikiran tidak terkontrol,’’ katanya.

Tingkah lakunya pun berubah total. Yang awalnya pendiam, berubah menjadi urakan. Hari-harinya selalu diwarnai tawuran. Kebahagiaan sesaat menjadi santapannya. Padahal orang tuanya pun selalu memberikan nasihat untuk tidak berbuat seperti itu.

Baca Juga :  Pemkab Akui Kesulitan Evaluasi Galian

Namun, nasihat itu tak pernah ia pedulikan. Hanya angin lewat. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Bahkan kenakalannya kian menjadi-jadi. Seiring berjalannya waktu. Tepat pada tahun 2012. Saat itu, dia duduk di kelas 2 SMP. Tibalah saatnya ujian semester.

Di ruang kelas bukannya mengerjakan soal-soal ujian. Namun, hanya tidur. Guru yang melihat menegurnya untuk tidak tidur dan disuruh untuk mengerjakan soal ujian. ’’Waktu itu saya sedang mabuk. Karena tidak sadar saya membentak guru itu dan menantangnya,’’ terangnya.

Akibat perbuatannya itu dia dibawa ke kantor untuk di nasihati. Karena dia masih mabuk lantaran minum-minuman beralkohol. Dia malah ngajak guru yang menegurnya itu untuk berkelahi. Guru sekolah itu lantas memanggil orang tuanya. Hingga pada akhirnya di keluarkan dari sekolah.

Baca Juga :  Ada Siswa yang Tidak Mau Mandi dan Berpakaian

’’Semenjak itu saya tidak mau lagi untuk sekolah. Dan tingkah laku saya semakin nakal,’’ kata Najib. Pada tahun 2019, dia mulai menyadari perbuatannya tidak baik. Menyimpang. Meskipun demikian, dia tetap melakukan kebiasaan buruknya. Memasuki tahun 2020, teman-temannya mulai mengajaknya mengaji. Tapi hatinya tetap saja seperti batu tak mau bertobat.

’’Tepat pada malam 1 Ramadan, saya pertama kalinya salat setelah sekian tahun tidak menjalankan ibadah lima waktu itu. Pada saat saya sujud terakhir saya langsung teringat dengan tindak kenakalan yang pernah saya lakukan. Dan di situlah saya mulai sadar bahwa salat itu adalah penyejuk hati. Hingga saya berjanji tidak akan akan mengulangi perbuatan itu lagi,’’ pungkas Najib mengakhiri cerita. (hin/abi)

 

 

Bulan suci Ramadan tahun ini menjadi anugerah yang luar biasa bagi Ainun Najib, warga Dusun Bending, Desa Kaliasin, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Tepat pada awal Ramadan beberapa hari yang lalu, pemuda berusia 20 tahun ini soalah memperoleh hidayah dari Tuhan. Seketika itu dia sadar bahwa apa yang telah diperbuatnya selama ini jauh menyimpang dari jalan kebenaran.

Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Najib panggilan akrabnya, mulai berteman dengan orang-orang yang berperilaku tidak baik. Hingga terpengaruh melakukan perbuatan yang tidak baik juga.

Mulai sekadar ikut berkumpul, mencicipi narkoba, hingga pada akhirnya kecanduan dengan barang haram itu. ’’Dulu saya hampir setiap hari mengkonsumsi minuman beralkohol. Pikiran tidak terkontrol,’’ katanya.

Tingkah lakunya pun berubah total. Yang awalnya pendiam, berubah menjadi urakan. Hari-harinya selalu diwarnai tawuran. Kebahagiaan sesaat menjadi santapannya. Padahal orang tuanya pun selalu memberikan nasihat untuk tidak berbuat seperti itu.

Baca Juga :  Sekolah Ditarget Tuntaskan Kurikulum Selama Pembelajaran Daring

Namun, nasihat itu tak pernah ia pedulikan. Hanya angin lewat. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Bahkan kenakalannya kian menjadi-jadi. Seiring berjalannya waktu. Tepat pada tahun 2012. Saat itu, dia duduk di kelas 2 SMP. Tibalah saatnya ujian semester.

- Advertisement -

Di ruang kelas bukannya mengerjakan soal-soal ujian. Namun, hanya tidur. Guru yang melihat menegurnya untuk tidak tidur dan disuruh untuk mengerjakan soal ujian. ’’Waktu itu saya sedang mabuk. Karena tidak sadar saya membentak guru itu dan menantangnya,’’ terangnya.

Akibat perbuatannya itu dia dibawa ke kantor untuk di nasihati. Karena dia masih mabuk lantaran minum-minuman beralkohol. Dia malah ngajak guru yang menegurnya itu untuk berkelahi. Guru sekolah itu lantas memanggil orang tuanya. Hingga pada akhirnya di keluarkan dari sekolah.

Baca Juga :  Pesona Tarian Mojo Putri Majapahit Warnai Kirab Hasil Bumi

’’Semenjak itu saya tidak mau lagi untuk sekolah. Dan tingkah laku saya semakin nakal,’’ kata Najib. Pada tahun 2019, dia mulai menyadari perbuatannya tidak baik. Menyimpang. Meskipun demikian, dia tetap melakukan kebiasaan buruknya. Memasuki tahun 2020, teman-temannya mulai mengajaknya mengaji. Tapi hatinya tetap saja seperti batu tak mau bertobat.

’’Tepat pada malam 1 Ramadan, saya pertama kalinya salat setelah sekian tahun tidak menjalankan ibadah lima waktu itu. Pada saat saya sujud terakhir saya langsung teringat dengan tindak kenakalan yang pernah saya lakukan. Dan di situlah saya mulai sadar bahwa salat itu adalah penyejuk hati. Hingga saya berjanji tidak akan akan mengulangi perbuatan itu lagi,’’ pungkas Najib mengakhiri cerita. (hin/abi)

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/