alexametrics
24.2 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Untuk Lunasi Utang Rp 935 Ribu, Cari Pinjaman hingga ke Sidoarjo

Dedy Hakim Sugiharto harus susah payah menepati janjinya agar bisa membayar biaya pemulasaraan jenasah istrinya dalam waktu 7 hari. Bahkan, ia harus beranjak ke Sidoarjo untuk sekadar meminjam uang kurang dari sejuta itu. Namun kini, ia sudah lega. Seluruh tanggungan di rumah sakit itu sudah beres. Sejumlah relawan kemanusiaan sudah menebusnya.

YULIANTO ADI NUGROHO, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

DI TEPI jalan, di sekitaran terminal Bungurasih, Sidoarjo, Dedy menghisap dalam-dalam sebatang rokok di sela jarinya. Dengan tatapan mata yang kosong, pria paruh baya ini berusaha melepas beban di pikirannya. Ia kebingungan mendapat pinjaman uang ke sejumlah temannya.

Namun, di tengah lamunannya itu, ponsel di saku celananya terus bergetar. Dari suara yang jauh itu, mengabarkan jika ada seseorang yang tengah menunggu di kosnya dan akan menyerahkan KTP yang sempat digadaikan di rumah sakit sebagai jaminan jenasah istrinya.

Mendengar kabar itu, rokok yang semula dihisapnya, langsung dibuang begitu saja. Dedy langsung tancap gas dan menuju kosnya di Lingkungan Panggreman Gang VI E, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. ”Ini tadi kan saya ke Sidoarjo ke rumah teman-teman cari pinjaman. Sempat capek terus saya minggir dari jalan mau ngerokok gitu. Tidak tahunya ada telpon katanya ada orang mau ketemu. Biaya rumah sakit katanya sudah lunas,” jelas pria yang bekerja sudah bekerja sebagai debt collector selama dua tahun ini.

Baca Juga :  Dedy Tak Dapat Santunan Karena Bukan Warga Kota

Setiba di rumah kosnya, ia bertemu langsung dengan pembina asosiasi Sahabat Yatim Dhuafa, Mojokerto Mohamad Mirza. Di tangan Mirza sudah ada sebendel berkas dari rumah sakit.

Dedy sangat lega dan luapan kebahagiaannya itu tak bisa ia sembunyikan. Dedy berulangkali memeluk Mirza dengan sangat erat. ”Terima kasih banyak. Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak,” katanya.

Selesainya tanggungan utang ini menjadi penutup bebannya beberapa hari terakhir. Di mana, istrinya sempat terlambat dimakamkan karena belum ada pemakaman yang siap. Dia menitipkan jenazah Indah ke pemilik kos karena harus mencari pinjaman uang. ”Kalau biaya yang lainnya sudah semua. Dan yang saya utamakan itu tanggungan rumah sakit ini,” sebutnya.

Baca Juga :  Dandim dan Kapolresta Ajak Ciptakan Pilkada Aman dan Sehat

Sementara itu, Mirza mengaku mendengar informasi nasib Dedy ini dari pemberitaan media. Disebutnya, jumlah utang itu dibayar dengan uang hasil donasi yang terkumpul dari anggota. ”Kami berangkat hanya dari nilai kemanusiaannya saja untuk membebaskan tunggakan ini,” katanya.

Sekadar diketahui, Indah lahir di Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Indah dinikahi Dedy secara siri dan tinggal di kos di Panggreman, Kranggan sejak setahun terakhir. Indah meninggal dunia dan jenasahnya tertahan di kamar kosnya selama hampir 10 jam.  Yakni, Minggu (14/3) sekitar pukul 14.00, dan baru dimakamkan Senin (15/3) pukul 11.30. (ron)

Dedy Hakim Sugiharto harus susah payah menepati janjinya agar bisa membayar biaya pemulasaraan jenasah istrinya dalam waktu 7 hari. Bahkan, ia harus beranjak ke Sidoarjo untuk sekadar meminjam uang kurang dari sejuta itu. Namun kini, ia sudah lega. Seluruh tanggungan di rumah sakit itu sudah beres. Sejumlah relawan kemanusiaan sudah menebusnya.

YULIANTO ADI NUGROHO, Kranggan, Jawa Pos Radar Mojokerto

DI TEPI jalan, di sekitaran terminal Bungurasih, Sidoarjo, Dedy menghisap dalam-dalam sebatang rokok di sela jarinya. Dengan tatapan mata yang kosong, pria paruh baya ini berusaha melepas beban di pikirannya. Ia kebingungan mendapat pinjaman uang ke sejumlah temannya.

Namun, di tengah lamunannya itu, ponsel di saku celananya terus bergetar. Dari suara yang jauh itu, mengabarkan jika ada seseorang yang tengah menunggu di kosnya dan akan menyerahkan KTP yang sempat digadaikan di rumah sakit sebagai jaminan jenasah istrinya.

Mendengar kabar itu, rokok yang semula dihisapnya, langsung dibuang begitu saja. Dedy langsung tancap gas dan menuju kosnya di Lingkungan Panggreman Gang VI E, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. ”Ini tadi kan saya ke Sidoarjo ke rumah teman-teman cari pinjaman. Sempat capek terus saya minggir dari jalan mau ngerokok gitu. Tidak tahunya ada telpon katanya ada orang mau ketemu. Biaya rumah sakit katanya sudah lunas,” jelas pria yang bekerja sudah bekerja sebagai debt collector selama dua tahun ini.

Baca Juga :  Lomba Patrol Kapolresta Cup, Semangat Tampilkan Kreasi Terbaik

Setiba di rumah kosnya, ia bertemu langsung dengan pembina asosiasi Sahabat Yatim Dhuafa, Mojokerto Mohamad Mirza. Di tangan Mirza sudah ada sebendel berkas dari rumah sakit.

- Advertisement -

Dedy sangat lega dan luapan kebahagiaannya itu tak bisa ia sembunyikan. Dedy berulangkali memeluk Mirza dengan sangat erat. ”Terima kasih banyak. Alhamdulillah. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak,” katanya.

Selesainya tanggungan utang ini menjadi penutup bebannya beberapa hari terakhir. Di mana, istrinya sempat terlambat dimakamkan karena belum ada pemakaman yang siap. Dia menitipkan jenazah Indah ke pemilik kos karena harus mencari pinjaman uang. ”Kalau biaya yang lainnya sudah semua. Dan yang saya utamakan itu tanggungan rumah sakit ini,” sebutnya.

Baca Juga :  Hasil Seleksi CPNS Diumumkan Hari Ini

Sementara itu, Mirza mengaku mendengar informasi nasib Dedy ini dari pemberitaan media. Disebutnya, jumlah utang itu dibayar dengan uang hasil donasi yang terkumpul dari anggota. ”Kami berangkat hanya dari nilai kemanusiaannya saja untuk membebaskan tunggakan ini,” katanya.

Sekadar diketahui, Indah lahir di Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Indah dinikahi Dedy secara siri dan tinggal di kos di Panggreman, Kranggan sejak setahun terakhir. Indah meninggal dunia dan jenasahnya tertahan di kamar kosnya selama hampir 10 jam.  Yakni, Minggu (14/3) sekitar pukul 14.00, dan baru dimakamkan Senin (15/3) pukul 11.30. (ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/