alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Deradikalisasi sekaligus Bangkitkan Ekonomi

RADIKALISME mengancam persatuan dan merusak sendi kehidupan bangsa. Untuk menangkal paham yang menjadi cikal bakal terorisme ini, sejumlah tokoh masyarakat serta dua mantan narapidana terorisme (napiter) di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi mendirikan Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto. Selain menyiarkan konten antiterorisme, mereka juga memiliki program pelatihan di bidang wirausaha dalam jangka panjang.

Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto terbentuk Desember 2021. Gedungnya yang berada di Dusun Betro Barat Gang Klinik, Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, saat ini masih dalam proses penyempurnaan. ”Insyaallah Februari sudah selesai dan siap beroperasi penuh,” kata Ketua Bidang Pelatihan dan Ekonomi Kreatif Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto Burhanuddin Akhmad Muzakky di temui kemarin.

Zakky menceritakan, pendirian yayasan ini tak lepas dari kembalinya dua mantan napiter, yakni Sutrisno dan Lutfi Teguh Oktafianto. Bapak dan anak asal desa setempat yang bebas pada Agustus 2021.

2018 silam, keduanya ditangkap Densus 88 Antiteror lantaran terlibat dalam jaringan terorisme kelompok JAD dan aksi pengeboman di Surabaya. Keduanya bebas dan telah berikrar setia pada NKRI. Namun, apa yang dilakukan selama menyebarkan paham radikal, menurut Zakky, membuat keduanya secara tidak langsung menjadi ’’musuh kampung”. Terlebih saat itu tak sedikit warga yang dipengaruhi paham ekstrem tersebut.

Baca Juga :  Dewan Ngotot Tunjangan Perumahan dan Transportasi Naik

Atas niat menebus kesalahannya itu, Sutrisno berkeinginan mendirikan wadah untuk menyebarkan paham antiradikalisme sekaligus wadah mengembangkan kreativitas bernilai ekonomi. ”Waktu itu Cak Sutris nyeletuk ke bapak saya (Ali Imron) kalau ingin membuat tempat deradikalisasi,” terangnya.

Inilah yang menjadi cikal bakal yayasan tersebut. Gayung bersambut. Gagasan itu mendapat dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat. Salah satunya Ali Imron. Yayasan ini juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNTP) untuk mengembangkan visi misinya.

Misalnya, menumbuhkan semangat nasionalisme dan memberikan wawasan tentang bahaya radikalisme. Upaya dalam bidang deradikalisasi ini dimanifestasikan dalam berbagai konten-konten antiterorisme.

Seperti program bincang podcast yang diunggah di akun youtuber resmi yayasan serta film-film pendek bertema nasionalisme. ”Kami juga ada penyuluhan dan kegiatan bakti sosial khususnya pada keluarga natiper dan masyarakat yang terpapar,” ucap dia.

Baca Juga :  Terus Berinovasi, Pemkab Luncurkan Tiga Aplikasi

Lebih dari itu. Anak-anak muda di kampung setempat juga dilibatkan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Sejauh ini yang telah berjalan adalah produksi kaos melalui sablon manual dan digital yang dipasarkan melalui online dan offline.

Semua kegiatan ini dipusatkan di gedung seluas 8 kali 38 meter tersebut. Tak hanya menjauhkan dari paham keliru, yayasan ini bertekad memberi sumbangsih terhadap perekonomian warga. ”Yang anak-anak muda belajar soal online. Yang tua-tua seputar kerjaannya. Kalau malam, kami ngobrol di sini. Dan ini menjadi tempat bersama kami untuk berkembang ke depan,” tukasnya. (adi/ron)

 

RADIKALISME mengancam persatuan dan merusak sendi kehidupan bangsa. Untuk menangkal paham yang menjadi cikal bakal terorisme ini, sejumlah tokoh masyarakat serta dua mantan narapidana terorisme (napiter) di Desa Betro, Kecamatan Kemlagi mendirikan Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto. Selain menyiarkan konten antiterorisme, mereka juga memiliki program pelatihan di bidang wirausaha dalam jangka panjang.

Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto terbentuk Desember 2021. Gedungnya yang berada di Dusun Betro Barat Gang Klinik, Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, saat ini masih dalam proses penyempurnaan. ”Insyaallah Februari sudah selesai dan siap beroperasi penuh,” kata Ketua Bidang Pelatihan dan Ekonomi Kreatif Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto Burhanuddin Akhmad Muzakky di temui kemarin.

Zakky menceritakan, pendirian yayasan ini tak lepas dari kembalinya dua mantan napiter, yakni Sutrisno dan Lutfi Teguh Oktafianto. Bapak dan anak asal desa setempat yang bebas pada Agustus 2021.

2018 silam, keduanya ditangkap Densus 88 Antiteror lantaran terlibat dalam jaringan terorisme kelompok JAD dan aksi pengeboman di Surabaya. Keduanya bebas dan telah berikrar setia pada NKRI. Namun, apa yang dilakukan selama menyebarkan paham radikal, menurut Zakky, membuat keduanya secara tidak langsung menjadi ’’musuh kampung”. Terlebih saat itu tak sedikit warga yang dipengaruhi paham ekstrem tersebut.

Baca Juga :  Januari, 71 Meninggal Akibat Covid-19 di Kota

Atas niat menebus kesalahannya itu, Sutrisno berkeinginan mendirikan wadah untuk menyebarkan paham antiradikalisme sekaligus wadah mengembangkan kreativitas bernilai ekonomi. ”Waktu itu Cak Sutris nyeletuk ke bapak saya (Ali Imron) kalau ingin membuat tempat deradikalisasi,” terangnya.

Inilah yang menjadi cikal bakal yayasan tersebut. Gayung bersambut. Gagasan itu mendapat dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat. Salah satunya Ali Imron. Yayasan ini juga bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNTP) untuk mengembangkan visi misinya.

- Advertisement -

Misalnya, menumbuhkan semangat nasionalisme dan memberikan wawasan tentang bahaya radikalisme. Upaya dalam bidang deradikalisasi ini dimanifestasikan dalam berbagai konten-konten antiterorisme.

Seperti program bincang podcast yang diunggah di akun youtuber resmi yayasan serta film-film pendek bertema nasionalisme. ”Kami juga ada penyuluhan dan kegiatan bakti sosial khususnya pada keluarga natiper dan masyarakat yang terpapar,” ucap dia.

Baca Juga :  Kabupaten Mojokerto Kembali Raih KLA Madya

Lebih dari itu. Anak-anak muda di kampung setempat juga dilibatkan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Sejauh ini yang telah berjalan adalah produksi kaos melalui sablon manual dan digital yang dipasarkan melalui online dan offline.

Semua kegiatan ini dipusatkan di gedung seluas 8 kali 38 meter tersebut. Tak hanya menjauhkan dari paham keliru, yayasan ini bertekad memberi sumbangsih terhadap perekonomian warga. ”Yang anak-anak muda belajar soal online. Yang tua-tua seputar kerjaannya. Kalau malam, kami ngobrol di sini. Dan ini menjadi tempat bersama kami untuk berkembang ke depan,” tukasnya. (adi/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/