alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

dr Sugeng Mulyadi Sp.U, Terkesan Empati Paramedis yang Merawat

Mantan direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto ini sempat mengalami tidak sadarkan diri selama 12 hari dalam perawatan di ruang isolasi ICU rumah sakit swasta di Surabaya, September tahun lalu. Dua pekan lebih menjalani perawatan, pria 60 tahun ini mengaku kesembuhannya tak lepas pula dari ketelatenan dan empati paramedis yang menanganinya selama masa kritis hingga pemulihan.

 

Ditemui di kantor PMI Kota Mojokerto, dr Sugeng Mulyadi tampak segar. Ia mengatakan, setelah terkena korona, berat badannya sempat mengalami penurunan drastis. Kini, dia menjaga betul waktu kerja, istirahat, hingga konsumsi multivitamin. ’’Waktu sebelum terkena korona, saya memang bekerja hingga larut malam. Waktu istirahatnya kurang. Apalagi, saya suka touring sepeda motor,’’ ujarnya.

Diceritakannya, persis setahun lalu, September 2020, dirinya sempat tak menyangka bakal terkena korona. Pertengahan minggu, dirinya hendak touring bersama koleganya ke Batu melalui Trawas. Ketika istirahat di Trawas, ternyata badannya lemas. ’’Gak kuat waktu itu. Capek adem panas. Teman-teman lanjut touring, saya istirahat di rumah Trawas,’’ cerita dia.

Sehari dua hari pasca kejadian itu, dr Sugeng mengaku bekerja seperti biasa. Setelah bertugas di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, dirinya berpraktik di RS lain dan klinik pribadinya. Selang tiga hari, dirinya kembali mengalami adem panas. ’’Kamis saya dan keluarga langsung swab. Ternyata, hanya saya yang positif. Sejak dari Trawas dan merasa tak enak badan, saya inisiatif isolasi mandiri di rumah, tidak campur anak-anak,’’ beber pria kelahiran Wates, Kabupaten Kediri ini.

Baca Juga :  Ojek Online Bikin Pusing Sopir Angkot

Setelah dinyatakan positif, dr Sugeng disarankan koleganya menjalani perawatan di rumah sakit. Usai berdiskusi dengan teman-teman dan keluarga, dia memutuskan perawatan di salah satu RS swasta di Surabaya. ’’Karena ingin perawatan yang baik. Soalnya saya ini komorbid. Ada diabetes dan darah tinggi pula,’’ tandas bapak tiga anak ini.

Sejak dirawat di RS tersebut, kondisi dr Sugeng mengalami drop pada hari ketiga. Bahkan, dia dinyatakan harus masuk ruang ICU isolasi Covid-19. ’’Hari ketiga dirawat, tanpa tanda-tanda, langsung sesak napas. Rasanya seperti orang tenggelam,’’ lanjut dr Sugeng. Sekitar 12 hari kemudian, dr Sugeng tidak sadarkan diri. Itu bagian dari treatment perawatan melawan Covid-19.

Dia menyebutkan, sudah dipasangi alat bantuan pernapasan hingga alat bantu makan di mulut dan hidung. Selama 12 hari, dirinya menjalani perawatan khusus. Maklum, dengan status komorbid, penanganannya terbilang ekstraketat. Mulai penggunaan alat-alat medis hingga vitamin dan obat-obatan. ’’Obat ya pakai yang terbaik. Ada yang kala itu harganya Rp 7 juta per ampul. Kalau sekarang sudah Rp 28 juta per ampul,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Kota Gencar Sosialisasi Tatanan Normal Baru

dr Sugeng mendapatkan cerita dari dokter yang menangani. Jadi, selama tidak sadarkan diri, dr Sugeng dirawat secara khusus dan maksimal. ’’Jadi profesor yang menangani saya betul-betul putar otak. Karena, meracik obat harus betul. Alat-alat juga di-setting sedemikian rupa. Untungnya kondisi perlahan membaik,’’ kata dia.

Setelah 12 hari, kesadaran dr Sugeng dipulihkan oleh tim dokter. Begitu sadar, dia merasakan sakit yang tak terperi. Berat badannya susut 7 kilogram. Kumis dan jenggotnya sudah panjang. Mulut hingga tenggorokan kering. Badan sulit digerakkan. Otot juga terasa lemas. ’’Pokoknya perasaan sakit dan ngeri sekali. Mau ngomong saja tidak keluar suaranya. Pernapasan sebagaian pakai paru-paru sebagaian pakai alat bantu,’’ tandas dr Sugeng.

Kesadaran pulih, dirinya tahu betul bagaimana paramedis merawatnya. Mulai cuci muka, keramas, membersihkan gigi, hingga membasahi mulutnya. Ketelatenan perawat hingga dokter dirasakan amat membantunya. ’’Jadi paramedis itu tidak hanya mengobati. Tapi merawat dengan telaten. Selalu memotivasi saya. Tiap pagi perawat mengajak ngobrol dan menguatkan mental saya,’’ jlentrehnya.

Sikap paramedis itu, menurut dr Sugeng, amat membekas dalam benaknya. Dia merasa terkesan dengan empati dan ketulusan paramedis dalam merawatnya. ’’Empati mereka membuat saya juga kuat. Karena selain melawan penyakit, saya juga menguatkan mental psikis,’’ terang pria yang juga pengurus PMI Kota Mojokerto ini. 

Mantan direktur RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto ini sempat mengalami tidak sadarkan diri selama 12 hari dalam perawatan di ruang isolasi ICU rumah sakit swasta di Surabaya, September tahun lalu. Dua pekan lebih menjalani perawatan, pria 60 tahun ini mengaku kesembuhannya tak lepas pula dari ketelatenan dan empati paramedis yang menanganinya selama masa kritis hingga pemulihan.

 

Ditemui di kantor PMI Kota Mojokerto, dr Sugeng Mulyadi tampak segar. Ia mengatakan, setelah terkena korona, berat badannya sempat mengalami penurunan drastis. Kini, dia menjaga betul waktu kerja, istirahat, hingga konsumsi multivitamin. ’’Waktu sebelum terkena korona, saya memang bekerja hingga larut malam. Waktu istirahatnya kurang. Apalagi, saya suka touring sepeda motor,’’ ujarnya.

Diceritakannya, persis setahun lalu, September 2020, dirinya sempat tak menyangka bakal terkena korona. Pertengahan minggu, dirinya hendak touring bersama koleganya ke Batu melalui Trawas. Ketika istirahat di Trawas, ternyata badannya lemas. ’’Gak kuat waktu itu. Capek adem panas. Teman-teman lanjut touring, saya istirahat di rumah Trawas,’’ cerita dia.

Sehari dua hari pasca kejadian itu, dr Sugeng mengaku bekerja seperti biasa. Setelah bertugas di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, dirinya berpraktik di RS lain dan klinik pribadinya. Selang tiga hari, dirinya kembali mengalami adem panas. ’’Kamis saya dan keluarga langsung swab. Ternyata, hanya saya yang positif. Sejak dari Trawas dan merasa tak enak badan, saya inisiatif isolasi mandiri di rumah, tidak campur anak-anak,’’ beber pria kelahiran Wates, Kabupaten Kediri ini.

Baca Juga :  PLN UP3 Mojokerto Gelar Sosialisasi Bermain Layang-Layang yang Aman

Setelah dinyatakan positif, dr Sugeng disarankan koleganya menjalani perawatan di rumah sakit. Usai berdiskusi dengan teman-teman dan keluarga, dia memutuskan perawatan di salah satu RS swasta di Surabaya. ’’Karena ingin perawatan yang baik. Soalnya saya ini komorbid. Ada diabetes dan darah tinggi pula,’’ tandas bapak tiga anak ini.

- Advertisement -

Sejak dirawat di RS tersebut, kondisi dr Sugeng mengalami drop pada hari ketiga. Bahkan, dia dinyatakan harus masuk ruang ICU isolasi Covid-19. ’’Hari ketiga dirawat, tanpa tanda-tanda, langsung sesak napas. Rasanya seperti orang tenggelam,’’ lanjut dr Sugeng. Sekitar 12 hari kemudian, dr Sugeng tidak sadarkan diri. Itu bagian dari treatment perawatan melawan Covid-19.

Dia menyebutkan, sudah dipasangi alat bantuan pernapasan hingga alat bantu makan di mulut dan hidung. Selama 12 hari, dirinya menjalani perawatan khusus. Maklum, dengan status komorbid, penanganannya terbilang ekstraketat. Mulai penggunaan alat-alat medis hingga vitamin dan obat-obatan. ’’Obat ya pakai yang terbaik. Ada yang kala itu harganya Rp 7 juta per ampul. Kalau sekarang sudah Rp 28 juta per ampul,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Wajah Pelaku Pembuang Sampah Sembarangan Dipertontonkan ke Publik

dr Sugeng mendapatkan cerita dari dokter yang menangani. Jadi, selama tidak sadarkan diri, dr Sugeng dirawat secara khusus dan maksimal. ’’Jadi profesor yang menangani saya betul-betul putar otak. Karena, meracik obat harus betul. Alat-alat juga di-setting sedemikian rupa. Untungnya kondisi perlahan membaik,’’ kata dia.

Setelah 12 hari, kesadaran dr Sugeng dipulihkan oleh tim dokter. Begitu sadar, dia merasakan sakit yang tak terperi. Berat badannya susut 7 kilogram. Kumis dan jenggotnya sudah panjang. Mulut hingga tenggorokan kering. Badan sulit digerakkan. Otot juga terasa lemas. ’’Pokoknya perasaan sakit dan ngeri sekali. Mau ngomong saja tidak keluar suaranya. Pernapasan sebagaian pakai paru-paru sebagaian pakai alat bantu,’’ tandas dr Sugeng.

Kesadaran pulih, dirinya tahu betul bagaimana paramedis merawatnya. Mulai cuci muka, keramas, membersihkan gigi, hingga membasahi mulutnya. Ketelatenan perawat hingga dokter dirasakan amat membantunya. ’’Jadi paramedis itu tidak hanya mengobati. Tapi merawat dengan telaten. Selalu memotivasi saya. Tiap pagi perawat mengajak ngobrol dan menguatkan mental saya,’’ jlentrehnya.

Sikap paramedis itu, menurut dr Sugeng, amat membekas dalam benaknya. Dia merasa terkesan dengan empati dan ketulusan paramedis dalam merawatnya. ’’Empati mereka membuat saya juga kuat. Karena selain melawan penyakit, saya juga menguatkan mental psikis,’’ terang pria yang juga pengurus PMI Kota Mojokerto ini. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/