alexametrics
26.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Dibatasi Mengakses 11 Aplikasi, Siapkan Tim Teknis, Antisipasi Kendala

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto tengah mengebut persiapan terkait program pemberian bantuan paket data internet kepada peserta didik.

Setidaknya, terdapat 11 aplikasi yang bisa diakses selama pembelajaran dalam jaringan (daring). Tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa sumber belajar dari rumah lainnya yang bisa dijangkau oleh paket data yang diberikan kepada 16 ribu siswa SD dan SMP Negeri.

Sejumlah tenaga ahli informasi teknologi (IT) juga akan dilibatkan untuk mengantisipasi adanya kendala dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut. Kepala Dispendik Kota Mojokerto Amin Wachid mengungkapkan, pembatasan sejumlah akses internet harus dilakukan guna efektivitas bantuan paket data.

Berkaca pada sebelumnya, bantuan serupa pernah diterapkan pada akhir tahun ajaran baru 2019/2020 lalu. Setidaknya terdapat 387 siswa yang membutuhkan diberikan bantuan paket internet senilai Rp 50 ribu per bulan. ’’Namun, setelah kami evaluasi, ternyata itu tidak efektif. Karena kontrol penggunaan kan tidak ada,’’ terangnya Kamis (16/7).

Pasalnya, paket internet tersebut justru dipakai untuk mengakses konten yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Sehingga, kuota internet yang seharusnya difasilitasi hanya untuk belajar daring justru habis dalam jangka waktu kurang dari sebulan. ’’Ada yang dua minggu sudah habis, bahkan ada juga cuma tiga hari habis,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Memasuki Karantina sebelum Grand Final

Karena itu, kata Amin, bantuan paket internet di tahun ajaran baru 2020-2021 ini bakal dilakukan pembatasan akses internet melalui pemasangan chipset. Terlebih, bantuan kali ini akan diberikan kepada seluruh siswa SD-SMP Negeri se-Kota Mojokerto.

Apalagi, sumber anggaran dialokasikan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sebab, di masa pendemi Covid-19 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi kelonggaran penggunaan dana BOS untuk kebutuhan pencegahan Covid-19 maupun pembelajaran daring.

Hanya saja, sebut Amin, setidaknya terdapat 11 aplikasi yang direkomendasikan untuk bisa diakses selama PJJ. Hal itu sebagaimana Surat Edaran (SE) 15/2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

’’Jadi, di luar 11 aplikasi itu tidak bisa diakses. Tapi sekarang ini sedang masih kami matangkan kembali dengan para kepala sekolah,’’ paparnya. Jika dinilai ada sumber pembelajaran daring yang diperlukan, maka akan disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca Juga :  Bergerak demi Kemerdekaan dan Kemajuan Bangsa

Karena bersumber dari dana BOS, maka pengelolaan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Saat ini, dispendik bersama seluruh kepala SD dan SMP negeri se-Kota Mojokerto masih merumuskan formulasi PJJ yang tepat untuk diterapkan. Dan rencananya, hari ini rancangan tersebut akan difinalkan.

Secara umum Amin menggambarkan, pemberian bantuan akan diberikan dalam bentuk paket data internet. Untuk masing-masing siswa jenjang SD dijatah kuota internet sebesar 8 gigabyte (GB) dan siswa SMP 15 GB per bulan. Pihak sekolah bisa memilih provider sesuai dengan kebutuhan.

’’Bisa jadi di tiap wilayah kan berbeda. Jadi bisa pilih mana yang memiliki keunggulan lebih,’’ ujarnya. Dengan catatan, pihak provider juga harus memberi kesanggupan untuk menyediakan tenaga IT untuk mengantisipasi jika terjadi kendala.

Di sisi lain, dispendik juga bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk menunjang pembelajaran daring. ’’Harapan kami, Agustus ini sudah jalan. Kalau ada kendala, kami akan evaluasi,’’ pungkas Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto ini. (abi)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Mojokerto tengah mengebut persiapan terkait program pemberian bantuan paket data internet kepada peserta didik.

Setidaknya, terdapat 11 aplikasi yang bisa diakses selama pembelajaran dalam jaringan (daring). Tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa sumber belajar dari rumah lainnya yang bisa dijangkau oleh paket data yang diberikan kepada 16 ribu siswa SD dan SMP Negeri.

Sejumlah tenaga ahli informasi teknologi (IT) juga akan dilibatkan untuk mengantisipasi adanya kendala dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut. Kepala Dispendik Kota Mojokerto Amin Wachid mengungkapkan, pembatasan sejumlah akses internet harus dilakukan guna efektivitas bantuan paket data.

Berkaca pada sebelumnya, bantuan serupa pernah diterapkan pada akhir tahun ajaran baru 2019/2020 lalu. Setidaknya terdapat 387 siswa yang membutuhkan diberikan bantuan paket internet senilai Rp 50 ribu per bulan. ’’Namun, setelah kami evaluasi, ternyata itu tidak efektif. Karena kontrol penggunaan kan tidak ada,’’ terangnya Kamis (16/7).

Pasalnya, paket internet tersebut justru dipakai untuk mengakses konten yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Sehingga, kuota internet yang seharusnya difasilitasi hanya untuk belajar daring justru habis dalam jangka waktu kurang dari sebulan. ’’Ada yang dua minggu sudah habis, bahkan ada juga cuma tiga hari habis,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Ribuan Honorer Jadi Atensi Pemda

Karena itu, kata Amin, bantuan paket internet di tahun ajaran baru 2020-2021 ini bakal dilakukan pembatasan akses internet melalui pemasangan chipset. Terlebih, bantuan kali ini akan diberikan kepada seluruh siswa SD-SMP Negeri se-Kota Mojokerto.

- Advertisement -

Apalagi, sumber anggaran dialokasikan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sebab, di masa pendemi Covid-19 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memberi kelonggaran penggunaan dana BOS untuk kebutuhan pencegahan Covid-19 maupun pembelajaran daring.

Hanya saja, sebut Amin, setidaknya terdapat 11 aplikasi yang direkomendasikan untuk bisa diakses selama PJJ. Hal itu sebagaimana Surat Edaran (SE) 15/2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

’’Jadi, di luar 11 aplikasi itu tidak bisa diakses. Tapi sekarang ini sedang masih kami matangkan kembali dengan para kepala sekolah,’’ paparnya. Jika dinilai ada sumber pembelajaran daring yang diperlukan, maka akan disesuaikan dengan kebutuhan.

Baca Juga :  Zona Merah, SMA/SMK Tetap Masuk Sekolah

Karena bersumber dari dana BOS, maka pengelolaan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Saat ini, dispendik bersama seluruh kepala SD dan SMP negeri se-Kota Mojokerto masih merumuskan formulasi PJJ yang tepat untuk diterapkan. Dan rencananya, hari ini rancangan tersebut akan difinalkan.

Secara umum Amin menggambarkan, pemberian bantuan akan diberikan dalam bentuk paket data internet. Untuk masing-masing siswa jenjang SD dijatah kuota internet sebesar 8 gigabyte (GB) dan siswa SMP 15 GB per bulan. Pihak sekolah bisa memilih provider sesuai dengan kebutuhan.

’’Bisa jadi di tiap wilayah kan berbeda. Jadi bisa pilih mana yang memiliki keunggulan lebih,’’ ujarnya. Dengan catatan, pihak provider juga harus memberi kesanggupan untuk menyediakan tenaga IT untuk mengantisipasi jika terjadi kendala.

Di sisi lain, dispendik juga bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk menunjang pembelajaran daring. ’’Harapan kami, Agustus ini sudah jalan. Kalau ada kendala, kami akan evaluasi,’’ pungkas Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto ini. (abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/