alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Monday, May 16, 2022

Umat Hindu Mojokerto Jalani Ritual Catur Brata

MOJOKERTO – Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, ratusan umat Hindu di Mojokerto menggelar upacara Tawur Agung Kesanga. Ritual pensucian alam semesta beserta isinya itu berlangsung di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jumat (16/3).

Ritual yang diikuti sekitar 600 umat Hindu ini juga diwarnai pawai ogoh-ogoh atau patung raksasa sebagai simbol sifat manusia. Selain itu, pentas budaya sekaligus kesenian tari juga ditampilkan. ’’Tawur Kesanga ini untuk menetralisir keadaan kembali somya atau netral.’’ kata Humas Panitia I Wayan Sudana, seusai upacara.

Dengan kata lain, upacara tersebut merupakan simbol pensucian alam dan seisinya yang sudah menjadi adat dan ritual umat Hindu sehari menjelang Nyepi. Sehingga, untuk pelaksanaan Catur Brata panyepian seharian penuh di hari berikutnya, tidak diganggu oleh sifat-sifat jahat. Seperti, amarah, dengki, iri, dan sifat-sifat negatif lainnya.

’’Dengan itu, besok (hari ini, Red), kami melangsungkan Catur Brata panyepian dengan baik,’’ tuturnya. Tak hanya itu, ritual yang diikuti ratusan umat Hindu dari Kota dan Kabupaten Mojokerto tersebut juga untuk meningkatkan hubungan dan keharmonisasian antar sesama manusia dengan Tuhan atau disebut Tri Hita Karana.

Baca Juga :  Dari Revolusi Industri 4.0 Menuju Era Society 5.0

’’Termasuk, hubungan antar umat beragama,’’ tambahnya. Dia menjelaskan, setelah ritual pensucian diri, seluruh penganut agama Hindu melanjutkan dengan ritual puasa atau ibadah panyepian. Mulai Jumat (16/3) pukul 18.00 hingga Sabtu (17/3) pukul 18.00.

Dalam sehari penuh itu, umat Hindu memiliki empat pantangan. Di antaranya, tidak menyalakan api (amati geni), tidak beraktivitas fisik (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak bersenang-senang. Kata dia, dengan menyambut Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada Sabtu (17/3) ini, ritual juga diwarnai dengan pawai ogoh-ogoh berkeliling stadion tiga kali.

’’Setelah diarak di sini (stadion, Red) ogoh-ogoh diarak keliling di Pura Sasana Bhina Yuga, dan dilanjutkan pembakaran. Pembakaran itu sebagai simbol membakar sifat-sifat jahat,’’ paparnya. Dari pantaun di lokasi, terdapat tiga ogoh-ogoh yang diarak oleh ratusan umat Hindu. Di antaranya, ogoh-ogoh berbentuk Rahwana yang mencerminkan sifat jahat, dan Anoman menggambarkan sifat yang baik atau mengutamakan kebenaran.

Baca Juga :  Bantuan SPP SMA/SMK Rp 9,3 Miliar, Negeri Cair, Swasta Masih Menunggu

Selain ogoh-ogoh, Banten Pencaruan atau sesajian juga disediakan dalam upacara sebagai wujud pengorbanan atau mensucikan lingkungan. ’’Intinya, memberikan caru untuk makanan atau persembahan buta kala agar tidak menggangu aktivitas manusia,’’ jelasnya.

I Wayan Sudana menambahkan, satu minggu sebelum Tawur Agung Kesanga di Petirtaan Jolotundo, Kecamatan Trawas, umat Hindu melakukan ritual melasti. Ritual rutin itu dilakukan di Jolotundo karena dinilai kental akan nuansa budaya Hindu. Bahkan, tak sedikit umat Hindu asal Bali berdatangan di sumber mata air terbaik kedua di dunia itu.

Jolotundo diyakini benar sebagai bekas pertapaan Raja Airlangga, putra Raja Udayana dari Bali yang menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Candi Jolotundo disimbolkan sebagai monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang diperkirakan dibangun tahun 997 Masehi.

MOJOKERTO – Sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, ratusan umat Hindu di Mojokerto menggelar upacara Tawur Agung Kesanga. Ritual pensucian alam semesta beserta isinya itu berlangsung di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jumat (16/3).

Ritual yang diikuti sekitar 600 umat Hindu ini juga diwarnai pawai ogoh-ogoh atau patung raksasa sebagai simbol sifat manusia. Selain itu, pentas budaya sekaligus kesenian tari juga ditampilkan. ’’Tawur Kesanga ini untuk menetralisir keadaan kembali somya atau netral.’’ kata Humas Panitia I Wayan Sudana, seusai upacara.

Dengan kata lain, upacara tersebut merupakan simbol pensucian alam dan seisinya yang sudah menjadi adat dan ritual umat Hindu sehari menjelang Nyepi. Sehingga, untuk pelaksanaan Catur Brata panyepian seharian penuh di hari berikutnya, tidak diganggu oleh sifat-sifat jahat. Seperti, amarah, dengki, iri, dan sifat-sifat negatif lainnya.

’’Dengan itu, besok (hari ini, Red), kami melangsungkan Catur Brata panyepian dengan baik,’’ tuturnya. Tak hanya itu, ritual yang diikuti ratusan umat Hindu dari Kota dan Kabupaten Mojokerto tersebut juga untuk meningkatkan hubungan dan keharmonisasian antar sesama manusia dengan Tuhan atau disebut Tri Hita Karana.

Baca Juga :  Minimarket Buka 24 Jam, Satpol PP Mengaku Tak Tahu
- Advertisement -

’’Termasuk, hubungan antar umat beragama,’’ tambahnya. Dia menjelaskan, setelah ritual pensucian diri, seluruh penganut agama Hindu melanjutkan dengan ritual puasa atau ibadah panyepian. Mulai Jumat (16/3) pukul 18.00 hingga Sabtu (17/3) pukul 18.00.

Dalam sehari penuh itu, umat Hindu memiliki empat pantangan. Di antaranya, tidak menyalakan api (amati geni), tidak beraktivitas fisik (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak bersenang-senang. Kata dia, dengan menyambut Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada Sabtu (17/3) ini, ritual juga diwarnai dengan pawai ogoh-ogoh berkeliling stadion tiga kali.

’’Setelah diarak di sini (stadion, Red) ogoh-ogoh diarak keliling di Pura Sasana Bhina Yuga, dan dilanjutkan pembakaran. Pembakaran itu sebagai simbol membakar sifat-sifat jahat,’’ paparnya. Dari pantaun di lokasi, terdapat tiga ogoh-ogoh yang diarak oleh ratusan umat Hindu. Di antaranya, ogoh-ogoh berbentuk Rahwana yang mencerminkan sifat jahat, dan Anoman menggambarkan sifat yang baik atau mengutamakan kebenaran.

Baca Juga :  56 Komunitas Serentak Bagikan 700 Paket Kurban

Selain ogoh-ogoh, Banten Pencaruan atau sesajian juga disediakan dalam upacara sebagai wujud pengorbanan atau mensucikan lingkungan. ’’Intinya, memberikan caru untuk makanan atau persembahan buta kala agar tidak menggangu aktivitas manusia,’’ jelasnya.

I Wayan Sudana menambahkan, satu minggu sebelum Tawur Agung Kesanga di Petirtaan Jolotundo, Kecamatan Trawas, umat Hindu melakukan ritual melasti. Ritual rutin itu dilakukan di Jolotundo karena dinilai kental akan nuansa budaya Hindu. Bahkan, tak sedikit umat Hindu asal Bali berdatangan di sumber mata air terbaik kedua di dunia itu.

Jolotundo diyakini benar sebagai bekas pertapaan Raja Airlangga, putra Raja Udayana dari Bali yang menikah dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa. Candi Jolotundo disimbolkan sebagai monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang diperkirakan dibangun tahun 997 Masehi.

Artikel Terkait

Most Read

Lahan Benpas Segera Dieksekusi

Klaster Perkantoran Persoalan Serius

Gayatri Raih Penghargaan dari Kemen PAN-RB

Artikel Terbaru

/