alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Sumber Air Milik Eks Bupati Lamongan Ditutup Paksa Warga

Melimpahnya sumber air di Dusun Kambengan, Desa Cepokolimo, Kecamatan Pacet,  Kabupaten Mojokerto, seolah surga tersendiri bagi penduduk setempat. Namun, seiring kemunculan pangkalan pengisian air pegunungan yang dikomersilkan, mengakibatkan masyarakat saat ini merasakan getahnya. Mereka kekurangan air bersih. Baik untuk kebutuhan hidup maupun suplai ke lahan pertanian.

 

EKSPLOITASI air pegunungan mulai memantik keresahan warga Desa Cepokolimo. Kemarin (16/1) gabungan kelompok petani desa setempat menggelar aksi di sumber mata air tersebut. Mereka memprotes keras oknum pengusaha yang mengkomersilkan air bersumber dari Lereng Gunung Welirang tersebut. ’’Jangan rampas air kami,’’ pekik salah satu warga di lokasi.

Bahkan, aksi yang dihadiri Kades Cepokolimo, Mahfud Sulaiman, warga terpaksa harus menutup akses keluar masuknya truk dengan memasang plang kayu. Tak hanya itu, warga juga menghentikan aktivitas sekaligus mengusir sejumlah truk tangki dari pangkalan pengisihan air yang diduga milik mantan Bupati Lamongan M. Masfuk, tersebut.

Langkah itu sekaligus sebagai bentuk protes warga. Mereka geram karena sumber air yang kesehariannya dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhahan hidup dan pertanian, perlahan terus menyusut. ’’Kami warga se-desa berharap semua pangkalan air yang ada ini ditutup,’’ ungkap Asmuji, 62, perwakilan warga.

Menurut dia, sebenarnya warga sudah lama resah atas keberadaan pangkalan air isi ulang untuk dikomersialkan tersebut. Sebab, air yang menjadi sumber mata air milik negara ini dikomersialkan untuk meraup keuntungan pribadi. Sementara, kebutuhan air warga justru tidak tercukupi. ’’Jangankan untuk perairan persawahan, untuk kebutuhan sehari-hari juga terbatas,’’ tandasnya. ’’Kalau seperti ini, kami sebagai warga yang dirugikan,’’ lontar Paimin, warga lainnya.

Baca Juga :  Ning Ita Sambangi Lansia Sebatang Kara

Bagaiaman tidak, lanjut dia, sejak keberadaan pangkalan isi ulang, warga justru kesulitan mendapatkan air. Setelah banyak menjamurnya tempat pengisian air tangki untuk dikomersialkan ke sejumlah daerah. Seperti, ke Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan kota-kota lain. Apalagi, eksploitasi air di desanya tidak hanya di satu titik, melainkan ada empat titik dengan pemilik berbeda. ’’Kalau seperti ini caranya, warga sini sama saja seperti dijajah,’’ tutur pria yang bertugas sebagai Mata Ulu desa setempat.

Dari empat titik pangkalan air tersebut tiga di antaranya diduga tidak memiliki izin. Pemilik atau pengelola diduga menjual air pegunungan tersebut tanpa mempertimbangkan dampak dan kebutuhan masyarakat. Salah satu pangkalan diduga milik mantan Bupati Lamongan M. Masfuk. Setiap hari, puluhan truk tangki datang melakukan pengisian ulang air bersih. Lokasinya berada di depan sebuah vila, yang juga diduga milik M. Masfuk. Air yang mengalir deras dari tebing gunung tersebut masuk ke dalam puluhan unit tangki truk air.  Satu tangki diketahui berkapasitas 5 ribu liter.

Baca Juga :  Jamaah Umrah di Kabupaten Mencapai 5 Ribu Orang Per Tahun

Sebelum menggelar aksi, warga sempat ingin melakukan komunikasi dengan pihak pengusaha pangkalan isi ulang air pegunungan tersebut. Namun, permintaan warga tak dihiraukan. Belakangan eksploitasi air yang mereka lakukan kian menjadi. Bahkan, terkesan memonopoli sumber mata air. ’’Semua sumber kecil-kecil yang ada ditampung menggunakan bak besar di pangkalan milik Pak Masfuk. Selanjutnya, dijual ke luar daerah. Air yang sudah dijual ke Surabaya, kan tidak bisa kembali ke sini. Sementara kita masyarakat kekurangan air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari,’’ keluhnya.

Setelah aksi ini, warga menjatuhkan deadline dua hari kepada kepala desa untuk menyelesaikan polemik tersebut. ’’Jika tidak mampu, warga akan mengerahkan massa lebih banyak,’’ tandas dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kades Cepokolimo, Mahfud Sulaiman, yang sebelumnya hadir di tengah aksi warga seolah menghindar dari wartawan. Diam-diam dia meninggalkan lokasi aksi. Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Mahfud meminta waktu untuk menjawab perihal polemik eksploitasi air yang ada di desanya. ’’Saya belum bisa jawab. Karena butuh waktu,’’ ungkapnya. Begitu juga saat ditanya soal legalitas empat titik pangkalan isi ulang air pegunungan di desanya, Mahfud lantas berseloroh. ’’Butuh waktu untuk mengetahui ada izin atau tidak?,’’ tandasnya.

Melimpahnya sumber air di Dusun Kambengan, Desa Cepokolimo, Kecamatan Pacet,  Kabupaten Mojokerto, seolah surga tersendiri bagi penduduk setempat. Namun, seiring kemunculan pangkalan pengisian air pegunungan yang dikomersilkan, mengakibatkan masyarakat saat ini merasakan getahnya. Mereka kekurangan air bersih. Baik untuk kebutuhan hidup maupun suplai ke lahan pertanian.

 

EKSPLOITASI air pegunungan mulai memantik keresahan warga Desa Cepokolimo. Kemarin (16/1) gabungan kelompok petani desa setempat menggelar aksi di sumber mata air tersebut. Mereka memprotes keras oknum pengusaha yang mengkomersilkan air bersumber dari Lereng Gunung Welirang tersebut. ’’Jangan rampas air kami,’’ pekik salah satu warga di lokasi.

Bahkan, aksi yang dihadiri Kades Cepokolimo, Mahfud Sulaiman, warga terpaksa harus menutup akses keluar masuknya truk dengan memasang plang kayu. Tak hanya itu, warga juga menghentikan aktivitas sekaligus mengusir sejumlah truk tangki dari pangkalan pengisihan air yang diduga milik mantan Bupati Lamongan M. Masfuk, tersebut.

Langkah itu sekaligus sebagai bentuk protes warga. Mereka geram karena sumber air yang kesehariannya dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhahan hidup dan pertanian, perlahan terus menyusut. ’’Kami warga se-desa berharap semua pangkalan air yang ada ini ditutup,’’ ungkap Asmuji, 62, perwakilan warga.

Menurut dia, sebenarnya warga sudah lama resah atas keberadaan pangkalan air isi ulang untuk dikomersialkan tersebut. Sebab, air yang menjadi sumber mata air milik negara ini dikomersialkan untuk meraup keuntungan pribadi. Sementara, kebutuhan air warga justru tidak tercukupi. ’’Jangankan untuk perairan persawahan, untuk kebutuhan sehari-hari juga terbatas,’’ tandasnya. ’’Kalau seperti ini, kami sebagai warga yang dirugikan,’’ lontar Paimin, warga lainnya.

Baca Juga :  Ning Ita Sambangi Lansia Sebatang Kara
- Advertisement -

Bagaiaman tidak, lanjut dia, sejak keberadaan pangkalan isi ulang, warga justru kesulitan mendapatkan air. Setelah banyak menjamurnya tempat pengisian air tangki untuk dikomersialkan ke sejumlah daerah. Seperti, ke Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan kota-kota lain. Apalagi, eksploitasi air di desanya tidak hanya di satu titik, melainkan ada empat titik dengan pemilik berbeda. ’’Kalau seperti ini caranya, warga sini sama saja seperti dijajah,’’ tutur pria yang bertugas sebagai Mata Ulu desa setempat.

Dari empat titik pangkalan air tersebut tiga di antaranya diduga tidak memiliki izin. Pemilik atau pengelola diduga menjual air pegunungan tersebut tanpa mempertimbangkan dampak dan kebutuhan masyarakat. Salah satu pangkalan diduga milik mantan Bupati Lamongan M. Masfuk. Setiap hari, puluhan truk tangki datang melakukan pengisian ulang air bersih. Lokasinya berada di depan sebuah vila, yang juga diduga milik M. Masfuk. Air yang mengalir deras dari tebing gunung tersebut masuk ke dalam puluhan unit tangki truk air.  Satu tangki diketahui berkapasitas 5 ribu liter.

Baca Juga :  Stasiun Buka Layanan Rapid Antigen

Sebelum menggelar aksi, warga sempat ingin melakukan komunikasi dengan pihak pengusaha pangkalan isi ulang air pegunungan tersebut. Namun, permintaan warga tak dihiraukan. Belakangan eksploitasi air yang mereka lakukan kian menjadi. Bahkan, terkesan memonopoli sumber mata air. ’’Semua sumber kecil-kecil yang ada ditampung menggunakan bak besar di pangkalan milik Pak Masfuk. Selanjutnya, dijual ke luar daerah. Air yang sudah dijual ke Surabaya, kan tidak bisa kembali ke sini. Sementara kita masyarakat kekurangan air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari,’’ keluhnya.

Setelah aksi ini, warga menjatuhkan deadline dua hari kepada kepala desa untuk menyelesaikan polemik tersebut. ’’Jika tidak mampu, warga akan mengerahkan massa lebih banyak,’’ tandas dia.

Dikonfirmasi terpisah, Kades Cepokolimo, Mahfud Sulaiman, yang sebelumnya hadir di tengah aksi warga seolah menghindar dari wartawan. Diam-diam dia meninggalkan lokasi aksi. Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Mahfud meminta waktu untuk menjawab perihal polemik eksploitasi air yang ada di desanya. ’’Saya belum bisa jawab. Karena butuh waktu,’’ ungkapnya. Begitu juga saat ditanya soal legalitas empat titik pangkalan isi ulang air pegunungan di desanya, Mahfud lantas berseloroh. ’’Butuh waktu untuk mengetahui ada izin atau tidak?,’’ tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/