alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Sunday, May 29, 2022

Satpol PP Sisir Perempatan Jalan, Amankan Pengemis dan Pengamen

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Keberadaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) kerap dianggap meresahkan. Hal itulah yang membuat Satpol PP Kota Mojokerto menggelar operasi di sejumlah titik jalan, Selasa (15/12).

Hasilnya, petugas mengamankan empat orang gelandangan dan pengemis (gepeng) yang kedapatan sedang beraktivitas di jalanan kota.

Operasi itu menyasar sejumlah jalan tempat gepeng mangkal. Meliputi perempatan di Jalan Pemuda, Jalan Residen Pamuji, Jalan Surodinawan, Jalan Prapanca, Jalan Raden Wijaya, serta Jalan Brawijaya.

’’Kami melakukan monitoring dan pemantaun ke semua perempatan di Kota Mojokerto. Terutama di daerah-daerah perbatasan yang ternyata masih ditemukan aktivitas pengemis dan pengamen di perempatan-perempatan tersebut,’’ ungkap Kasatpol PP Kota Mojokerto Heryana Dodik Murtono.

Petugas mengamankan empat orang yang terdiri dari tiga orang pengemis dan seorang pengamen. Heryana Dodik mengatakan, penindakan yang dilakukan berupa pendataan serta pembinaan.

Baca Juga :  Pelaku Pecah Kaca Ditangkap

Setelah itu pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait guna dilakukan klarifikasi. Langkah tersebut, lanjut Heryana Dodik, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaran Ketertiban Umum.

Dalam Pasal 42 Ayat 1 disebutkan, anak jalanan, gelandangan, pengemis dan penderita gangguan jiwa yang terkena razia ditampung dalam penampungan dan dibina sementara untuk seleksi.

Selanjutnya, dalam Ayat 2 disebutkan, seleksi dilakukan untuk menetapkan kualisifikasi sebagai dasar untuk menerapkan tindakan selanjutnya.

Apakah orang tersebut akan dilepaskan dengan syarat, dimasukkan ke panti sosial, dikembalikan ke pihak keluarga, diberikan pelayanan kesehatan, ataupun diserahkan ke pihak kepolisian apabila terbukti melakukan tindak pidana.

’’Yang jelas untuk pembinaannya itu kita harus tahu. Mereka dasarnya melakukan kegiatan seperti ini itu apa. Apakah faktor ketidakmampuan atau yang lain,’’ terangnya.

Baca Juga :  Reklame Insidental di Jalur Steril Dipreteli

Menurutnya, operasi ini merupakan tindakan lanjut paska ditemukannya seorang anak yang melakukan kegiatan mengemis di jalanan kota pada Senin malam (14/12).

Warga mengeluhkan keberadaan anak tersebut lantaran memaksa dan menendang kendaraan yang tidak memenuhi permintaanya. 

’’Jadi karena pertimbangannya mereka masih anak-anak, jadi kemarin itu penindakannya kita benahi dan kita nasehati agar tidak melakukan hal tersebut,’’ ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut hanya didasari keisengan. Pihaknya juga mengimbau kepada orang tua supaya mengawasi anak-anaknya. Sehingga, tidak melakukan kegiatan semacam itu. (adi/abi)

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Keberadaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) kerap dianggap meresahkan. Hal itulah yang membuat Satpol PP Kota Mojokerto menggelar operasi di sejumlah titik jalan, Selasa (15/12).

Hasilnya, petugas mengamankan empat orang gelandangan dan pengemis (gepeng) yang kedapatan sedang beraktivitas di jalanan kota.

Operasi itu menyasar sejumlah jalan tempat gepeng mangkal. Meliputi perempatan di Jalan Pemuda, Jalan Residen Pamuji, Jalan Surodinawan, Jalan Prapanca, Jalan Raden Wijaya, serta Jalan Brawijaya.

’’Kami melakukan monitoring dan pemantaun ke semua perempatan di Kota Mojokerto. Terutama di daerah-daerah perbatasan yang ternyata masih ditemukan aktivitas pengemis dan pengamen di perempatan-perempatan tersebut,’’ ungkap Kasatpol PP Kota Mojokerto Heryana Dodik Murtono.

Petugas mengamankan empat orang yang terdiri dari tiga orang pengemis dan seorang pengamen. Heryana Dodik mengatakan, penindakan yang dilakukan berupa pendataan serta pembinaan.

Baca Juga :  Pelaku Pecah Kaca Ditangkap

Setelah itu pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait guna dilakukan klarifikasi. Langkah tersebut, lanjut Heryana Dodik, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaran Ketertiban Umum.

- Advertisement -

Dalam Pasal 42 Ayat 1 disebutkan, anak jalanan, gelandangan, pengemis dan penderita gangguan jiwa yang terkena razia ditampung dalam penampungan dan dibina sementara untuk seleksi.

Selanjutnya, dalam Ayat 2 disebutkan, seleksi dilakukan untuk menetapkan kualisifikasi sebagai dasar untuk menerapkan tindakan selanjutnya.

Apakah orang tersebut akan dilepaskan dengan syarat, dimasukkan ke panti sosial, dikembalikan ke pihak keluarga, diberikan pelayanan kesehatan, ataupun diserahkan ke pihak kepolisian apabila terbukti melakukan tindak pidana.

’’Yang jelas untuk pembinaannya itu kita harus tahu. Mereka dasarnya melakukan kegiatan seperti ini itu apa. Apakah faktor ketidakmampuan atau yang lain,’’ terangnya.

Baca Juga :  Mamin Isolasi Dinilai Kurang Cukup Gizi

Menurutnya, operasi ini merupakan tindakan lanjut paska ditemukannya seorang anak yang melakukan kegiatan mengemis di jalanan kota pada Senin malam (14/12).

Warga mengeluhkan keberadaan anak tersebut lantaran memaksa dan menendang kendaraan yang tidak memenuhi permintaanya. 

’’Jadi karena pertimbangannya mereka masih anak-anak, jadi kemarin itu penindakannya kita benahi dan kita nasehati agar tidak melakukan hal tersebut,’’ ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut hanya didasari keisengan. Pihaknya juga mengimbau kepada orang tua supaya mengawasi anak-anaknya. Sehingga, tidak melakukan kegiatan semacam itu. (adi/abi)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/