alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Friday, May 20, 2022

Gunung Penanggungan, Berjuta Pesona dan Kaya Sejarah

GUNUNG Penanggungan dapat dikatakan sebagai destinasi wisata pendakian paling ternama di Kabupaten Mojokerto. Puncak setinggi 1.653 mdpl tersebut menghadirkan keindahan menakjubkan sepanjang rute pendakian hingga puncak.

 

KERAP disebut juga Gunung Pawitra oleh masyarakat pada umumnya, dikarenakan terdapat keunikan, terutama dari sisi sejarah dan kepurbakalaan dengan banyaknya keberadaan candi, dan punden berundak. Serta tempat bertapa peninggalan era Hindu-Buddha yang tersebar di sekujur permukaan kawasan gunung tersebut.

 

Selain itu, mitos sejarah yang mengisahkan bahwa Gunung Penanggungan adalah bagian dari puncak Gunung Mahameru yang tercecer saat dipindahkan ke Jawadwipa (Pulau Jawa) semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu gunung di Jawa Timur yang dianggap suci. Karena kekayaan peninggalan sejarah dan budayanya juga, kawasan Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat provinsi sejak awal tahun 2015 melalui surat keputusan gubernur Jawa Timur.

Pilihan jalur pendakian menuju kawasan Gunung Penanggungan tersebar di hampir semua sisi wilayah. Yang pertama adalah Jalur Tamiajeng, Kecamatan Trawas. Jalur ini kerap menjadi tujuan para pendaki untuk bermalam karena adanya lokasi Bukit Bayangan yang biasa dijadikan tempat bermalam para pendaki untuk berburu foto sunrise dan sunset. Jalur ini juga tergolong paling mudah dilalui serta menjadi favorit para pendaki karena banyaknya sarana penunjang di sepanjang jalannya.

Baca Juga :  Konsumen Diminta Waspadai Daging Berformalin dan Mengandung Boraks

Jalur kedua ialah Jalur Jolotundo, Kecamatan Trawas. Jalur ini kerap disebut jalur sejarah atau jalur ziarah, dikarenakan banyaknya bangunan candi yang akan dilalui oleh para pendaki. Di antaranya Candi Putri, Candi Pura, Candi Bayi, Candi Sinta, serta Candi Gentong.

Dari jalur Jolotundo para pendaki juga dapat menuju puncak Gunung Bekel.

Jalur ketiga ialah Jalur Kedungudi, Kecamatan Trawas. Jalur ini hampir mirip serta berhubungan dengan jalur Jolotundo, karena adanya beberapa candi di sepanjang rute pendakian. Meliputi Candi Siwa, Candi Naga, Candi Lurah, Candi Carik serta Candi Guru.

Jalur keempat adalah Jalur Ngoro, Kecamatan Ngoro. Jalur tersebut tergolong jalur terberat karena medan yang dilalui didominasi jalan setapak, serta tanjakan dengan kemiringan yang tergolong ekstreme. Pilihan jalur terakhir terletak di Kabupaten Pasuruan, yakni jalur Wonosunyo/Jalur Betro, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Jalur ini menyajikan eksotisme daya tarik sejarahnya dengan adanya keberadaan Candi Sumber Tetek.

Baca Juga :  Pemkot Raih Penghargaan KI Award 2021

Pendaki Selalu Ingin Kembali

 

PESONA gunung yang terletak di perbatasan dua daerah, Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan ini kerap digunakan sebagai latar belakang foto karena keindahan dan kemegahannya dari berbagai penjuru.

Bahkan, para pendaki dari berbagai penjuru nusantara kerap menjadikan Gunung Penanggungan sebagai salah satu tujuan favorit karena banyaknya pilihan jalur pendakian, serta rute pendakian. Keindahan pemandangannya yang sangat memukau menambah daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Terutama, di saat momen matahari terbit dan matahari tenggelam.

Keindahan menakjubkan tersaji begitu menginjakan kaki di puncak. Deretan gunung sekitarnya tampak jelas terlihat dari Puncak Pawitra. Mulai Gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Butak, hingga Gunung Semeru. Sementara pemandangan di bawah terlihat hamparan sawah, berikut pemukiman penduduk. ”Meski melelahkan, namun indahnya pemandangan di puncak membuat para pendaki akan selalu ingin kembali mendaki Puncak Pawitra,” Adhim, salah satu pendaki.

Namun, para pendaki harus menunda keinginannya untuk mendaki Puncak Gunung Penanggungan. Di mana, saat ini semua jalur pendakian ditutup total selama masa PPKM darurat, hingga pemberitahuan lebih lanjut. (dwi)     

 

 

GUNUNG Penanggungan dapat dikatakan sebagai destinasi wisata pendakian paling ternama di Kabupaten Mojokerto. Puncak setinggi 1.653 mdpl tersebut menghadirkan keindahan menakjubkan sepanjang rute pendakian hingga puncak.

 

KERAP disebut juga Gunung Pawitra oleh masyarakat pada umumnya, dikarenakan terdapat keunikan, terutama dari sisi sejarah dan kepurbakalaan dengan banyaknya keberadaan candi, dan punden berundak. Serta tempat bertapa peninggalan era Hindu-Buddha yang tersebar di sekujur permukaan kawasan gunung tersebut.

 

Selain itu, mitos sejarah yang mengisahkan bahwa Gunung Penanggungan adalah bagian dari puncak Gunung Mahameru yang tercecer saat dipindahkan ke Jawadwipa (Pulau Jawa) semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu gunung di Jawa Timur yang dianggap suci. Karena kekayaan peninggalan sejarah dan budayanya juga, kawasan Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat provinsi sejak awal tahun 2015 melalui surat keputusan gubernur Jawa Timur.

Pilihan jalur pendakian menuju kawasan Gunung Penanggungan tersebar di hampir semua sisi wilayah. Yang pertama adalah Jalur Tamiajeng, Kecamatan Trawas. Jalur ini kerap menjadi tujuan para pendaki untuk bermalam karena adanya lokasi Bukit Bayangan yang biasa dijadikan tempat bermalam para pendaki untuk berburu foto sunrise dan sunset. Jalur ini juga tergolong paling mudah dilalui serta menjadi favorit para pendaki karena banyaknya sarana penunjang di sepanjang jalannya.

Baca Juga :  Pasokan Elpiji Jelang Ramadan Dipastikan Aman
- Advertisement -

Jalur kedua ialah Jalur Jolotundo, Kecamatan Trawas. Jalur ini kerap disebut jalur sejarah atau jalur ziarah, dikarenakan banyaknya bangunan candi yang akan dilalui oleh para pendaki. Di antaranya Candi Putri, Candi Pura, Candi Bayi, Candi Sinta, serta Candi Gentong.

Dari jalur Jolotundo para pendaki juga dapat menuju puncak Gunung Bekel.

Jalur ketiga ialah Jalur Kedungudi, Kecamatan Trawas. Jalur ini hampir mirip serta berhubungan dengan jalur Jolotundo, karena adanya beberapa candi di sepanjang rute pendakian. Meliputi Candi Siwa, Candi Naga, Candi Lurah, Candi Carik serta Candi Guru.

Jalur keempat adalah Jalur Ngoro, Kecamatan Ngoro. Jalur tersebut tergolong jalur terberat karena medan yang dilalui didominasi jalan setapak, serta tanjakan dengan kemiringan yang tergolong ekstreme. Pilihan jalur terakhir terletak di Kabupaten Pasuruan, yakni jalur Wonosunyo/Jalur Betro, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Jalur ini menyajikan eksotisme daya tarik sejarahnya dengan adanya keberadaan Candi Sumber Tetek.

Baca Juga :  Dipentaskan di Panggung hingga Layar Kaca

Pendaki Selalu Ingin Kembali

 

PESONA gunung yang terletak di perbatasan dua daerah, Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan ini kerap digunakan sebagai latar belakang foto karena keindahan dan kemegahannya dari berbagai penjuru.

Bahkan, para pendaki dari berbagai penjuru nusantara kerap menjadikan Gunung Penanggungan sebagai salah satu tujuan favorit karena banyaknya pilihan jalur pendakian, serta rute pendakian. Keindahan pemandangannya yang sangat memukau menambah daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Terutama, di saat momen matahari terbit dan matahari tenggelam.

Keindahan menakjubkan tersaji begitu menginjakan kaki di puncak. Deretan gunung sekitarnya tampak jelas terlihat dari Puncak Pawitra. Mulai Gunung Welirang, Gunung Arjuno, Gunung Butak, hingga Gunung Semeru. Sementara pemandangan di bawah terlihat hamparan sawah, berikut pemukiman penduduk. ”Meski melelahkan, namun indahnya pemandangan di puncak membuat para pendaki akan selalu ingin kembali mendaki Puncak Pawitra,” Adhim, salah satu pendaki.

Namun, para pendaki harus menunda keinginannya untuk mendaki Puncak Gunung Penanggungan. Di mana, saat ini semua jalur pendakian ditutup total selama masa PPKM darurat, hingga pemberitahuan lebih lanjut. (dwi)     

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/