alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 19, 2022

Tunjukkan Rapid Test, Pemudik Lolos

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Skrining pemudik terus dilakukan Gugus Tugas Covid-19 di sejumlah perbatasan.

Dalam dua hari ini saja, setidaknya sudah ada tiga mobil pemudik terjaring razia di Pos Checkpoint Sekarputih, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Kendati begitu mereka yang kedapatan melintas di jalur bypasss tetap diloloskan. ”Iya, mereka tetap kita bolehkan untuk pulang,” ungkap KBO Satlantas Polresta Mojokerto, Ipda Karen, kemarin.

Menurut Karen, mereka dibolehkan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan beberapa ketentuan sesuai dengan protokol kesehatan. Salah satunya wajib menunjukkan surat keterangan sehat dari tempat asal.

Surat sehat itu dikeluarkan oleh petugas gugus tugas. Termasuk, melampirkan hasil rapid test yang menunjukkan negatif. Karen menegaskan, meski sudah menunjukkan surat jalan dan sejumlah persyaratan tersebut bukan berarti mereka diabaikan begitu saja.

Mereka tetap didata sekaligus cek kesehatan sesuai protokol yang ada oleh petugas gabungan yang stand-by di pos checkpoint, sebagai titik perbatasan Mojokerto dan Sidoarjo. Termasuk di sejumlah pos checkpoint yang didirikan di exit tol Pagerluyung, Gedeg; exit tol Penompo, Jetis; jembatan Gajah Mada sisi utara di Mlirip, Jetis; dan di Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong.

Baca Juga :  Arapaima Gigas Mampu Habiskan 4 Kilogram Ikan Lokal Per Hari

“Tapi, bagi mereka yang tidak bisa menunjukkan hasil rapid test, mereka wajib kita rapid test dulu. Jika hasil negatif, mereka akan kita minta melanjutkan perjalanan,” tegasnya.

Rapid test sendiri ini tak lain sebagai antisipasi dini dalam memutus mata rantai persebaran virus korona.

Sehingga jangan sampai mereka yang pulang justru membawa dan menyebarkan virus. Tak berhenti sampai di situ, pemudik juga wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. Sehingga pendataan yang dilakukan petugas di pos pantau ini nantinya dilanjutkan ke Polda Jatim kemudian diteruskan ke Gugus Tugas Covid-19 daerah yang menjadi tujuan mereka pulang.

Pendataan ini tujuannya agar daerah setempat juga mudah dalam melakukan pengawasan para pemudik. “Paling tidak, Gugus tugas daerah tahu, sehingga data-data ini akan diteruskan ke tingkat kecamatan hingga desa sebagai upaya pengawasan,” ujarnya.

Hingga detik ini, larangan mudik memang seakan menjadi angin lalu bagi para perantau. Terbukti dari sejumlah kasusu yang sudah terungkap kepolisian. Baik di jalur tol atau tidak. Untuk itu, membuat jajarannya akan semakin menggiatkan patroli di ruas jalan Transnasional ataupun tol yang sudah didirikan posko skrining. Karen, menyatakan, pihaknya akan menindak kendaraan yang tidak sesuai peruntukan. Misalnya, travel gelap yang membawa penumpang untuk mudik. Menurut dia, jenis pelanggaran itu tidak bisa ditoleransi. Jadi, konsekuensi yang harus diterima adalah penilangan bahkan sampai penyitaan ranmor. ”Jadi sampai saat ini sudah ada tiga yang kami tindak,” katanya.

Baca Juga :  Jatah Makan Pasien Covid, Setara Pasien BPJS

Selain tujuan Pacitan, dua diantaranya diketahui tujuan Trenggalek dan ada juga yang tujuan Solo. Mereka ini kebanyakan dari Kota Surabaya, pulang kampung karena tempat kerjanya tutup karena pengaruh pandemi. Dari data Polda Jatim, per kemarin, sejak dilakukan Operasi Ketupat Semeru 2020, sedikitnya 54 kendaraan mulai dari bus, minibus dan mobil pribadi diamankan. Kendaraan itu merupakan kendaraan travel gelap yang masih nekat melakukan perjalanan antarwilayah, dengan mengangkut penumpang yang diduga akan mudik, meskipun tanpa izin trayek. “Jumlah kendaraan travel gelap ini diperkirakan bakal terus bertambah karena Operasi Ketupat Semeru 2020 masih berjalan. Tidak hanya di Mojokerto tapi, juga sejumlah daerah,” jelasnya.

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Skrining pemudik terus dilakukan Gugus Tugas Covid-19 di sejumlah perbatasan.

Dalam dua hari ini saja, setidaknya sudah ada tiga mobil pemudik terjaring razia di Pos Checkpoint Sekarputih, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Kendati begitu mereka yang kedapatan melintas di jalur bypasss tetap diloloskan. ”Iya, mereka tetap kita bolehkan untuk pulang,” ungkap KBO Satlantas Polresta Mojokerto, Ipda Karen, kemarin.

Menurut Karen, mereka dibolehkan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan beberapa ketentuan sesuai dengan protokol kesehatan. Salah satunya wajib menunjukkan surat keterangan sehat dari tempat asal.

Surat sehat itu dikeluarkan oleh petugas gugus tugas. Termasuk, melampirkan hasil rapid test yang menunjukkan negatif. Karen menegaskan, meski sudah menunjukkan surat jalan dan sejumlah persyaratan tersebut bukan berarti mereka diabaikan begitu saja.

Mereka tetap didata sekaligus cek kesehatan sesuai protokol yang ada oleh petugas gabungan yang stand-by di pos checkpoint, sebagai titik perbatasan Mojokerto dan Sidoarjo. Termasuk di sejumlah pos checkpoint yang didirikan di exit tol Pagerluyung, Gedeg; exit tol Penompo, Jetis; jembatan Gajah Mada sisi utara di Mlirip, Jetis; dan di Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong.

Baca Juga :  Hati-hati, Bawang Putih Rusak Beredar Luas di Pasaran

“Tapi, bagi mereka yang tidak bisa menunjukkan hasil rapid test, mereka wajib kita rapid test dulu. Jika hasil negatif, mereka akan kita minta melanjutkan perjalanan,” tegasnya.

- Advertisement -

Rapid test sendiri ini tak lain sebagai antisipasi dini dalam memutus mata rantai persebaran virus korona.

Sehingga jangan sampai mereka yang pulang justru membawa dan menyebarkan virus. Tak berhenti sampai di situ, pemudik juga wajib melakukan karantina mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing. Sehingga pendataan yang dilakukan petugas di pos pantau ini nantinya dilanjutkan ke Polda Jatim kemudian diteruskan ke Gugus Tugas Covid-19 daerah yang menjadi tujuan mereka pulang.

Pendataan ini tujuannya agar daerah setempat juga mudah dalam melakukan pengawasan para pemudik. “Paling tidak, Gugus tugas daerah tahu, sehingga data-data ini akan diteruskan ke tingkat kecamatan hingga desa sebagai upaya pengawasan,” ujarnya.

Hingga detik ini, larangan mudik memang seakan menjadi angin lalu bagi para perantau. Terbukti dari sejumlah kasusu yang sudah terungkap kepolisian. Baik di jalur tol atau tidak. Untuk itu, membuat jajarannya akan semakin menggiatkan patroli di ruas jalan Transnasional ataupun tol yang sudah didirikan posko skrining. Karen, menyatakan, pihaknya akan menindak kendaraan yang tidak sesuai peruntukan. Misalnya, travel gelap yang membawa penumpang untuk mudik. Menurut dia, jenis pelanggaran itu tidak bisa ditoleransi. Jadi, konsekuensi yang harus diterima adalah penilangan bahkan sampai penyitaan ranmor. ”Jadi sampai saat ini sudah ada tiga yang kami tindak,” katanya.

Baca Juga :  Pemudik Dari Zona Merah Akan Dikarantina di Balai Desa

Selain tujuan Pacitan, dua diantaranya diketahui tujuan Trenggalek dan ada juga yang tujuan Solo. Mereka ini kebanyakan dari Kota Surabaya, pulang kampung karena tempat kerjanya tutup karena pengaruh pandemi. Dari data Polda Jatim, per kemarin, sejak dilakukan Operasi Ketupat Semeru 2020, sedikitnya 54 kendaraan mulai dari bus, minibus dan mobil pribadi diamankan. Kendaraan itu merupakan kendaraan travel gelap yang masih nekat melakukan perjalanan antarwilayah, dengan mengangkut penumpang yang diduga akan mudik, meskipun tanpa izin trayek. “Jumlah kendaraan travel gelap ini diperkirakan bakal terus bertambah karena Operasi Ketupat Semeru 2020 masih berjalan. Tidak hanya di Mojokerto tapi, juga sejumlah daerah,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Curi Burung untuk Biaya Nikah

Jalur Wisata Terimbas Luberan Saluran

Polisi Buru Knalpot Brong

Artikel Terbaru


/